Pages

19 January 2015

Pagi yang Kutitipkan Salam

Hujan masih juga berdetak
Saling menyalip dengan waktu
Menggagahi satu dan yang lain

Pengeras suara masjid
tak juga mau berhenti,
tak bosan membisikki suara ibu
yang mengaji

Hanya pagi yang tak jumawa
Setia pada hari
untuk melanjutkan malam

Semalam, kita berbicara tentang rindu, sayang
Tentang aroma
yang aku dan kamu tak juga paham

Aku mengirim puisi dari Indian
Puisi yang berjanji,
sebelum pagi, engkau kujenguk
dalam tidur

Suara ibu yang mengaji telah padam
Telah berganti hujan
yang mulai serakah
Tak membiarkan detak jam lagi terdengar

Apakah semalam aku hadir dalam tidurmu, sayang?
Dan kita lanjutkan tentang rindu yang belum usai?

Lewat waktu, hujan dan pengeras suara
telah kusampaikan rindu, sayang, padamu

Pada pagi,
yang masih manantang malam untuk kembali

09 January 2015

Perempuan dalam Kepala

Ilustrasi karya Popo, yang pernah jadi ilustrasi cerpen "Perempuan Tua dalam Rashomon"Kompas (5/12/2011).
Entah kapan petama kali ia datang dalam kepalaku. Pagi itu, saat matahari belum sempat menyapa embun yang hinggap dalam rentangnya hijau daun, aku termenung lagi. Di dalam cangkir masih ada sisa-sisa ampas pengembaraanku tadi malam, saat pikiranku menjelajah setiap kemungkinan adanya kenangan tentang sosok perempuan dalam kepalaku ini.

08 January 2015

Mengenang The Adams

The Adams
Langit malam ke tujuh di tahun yang baru ini begitu cerah. Saya melihat ke arah Timur, tempat di mana bulan tak bisa bersembunyi. Hanya ada satu bulan. Bukan dua bulan seperti dalam novelnya Fuka-Eri, yang ditulis dengan bantuan Tengo, dalam 1Q84 milik Haruki Murakami.

07 January 2015

Apa yang Salah dengan Upacara Bendera Hari Ini?


GEDUNG tiga lantai itu nampak megah. Lonceng tanda upacara bendera secara otomatis membuat siswa-siswi berseragam putih-merah, lengkap dengan atribut dasi dan topi, berhamburan dari kelasnya menuju lapangan untuk berbaris. Bendera merah putih sudah berkibar. Upacara hari ini tidak seperti kegiatan rutin menaikkan bendera di setiap Senin pagi. Ada hal penting yang patut dirayakan dengan upacara.

Alih-alih menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, guru mereka datang bak dirigen handal memainkan kedua tangannya dan siswa-siswi bernyanyi lagu “TV, Jasamu Tiada...”

05 January 2015

Membaca Realitas Lewat Jalanan

Foto: Dok. Kaphac 32
SUASANA muram. Puluhan lampu 60 watt menyinari foto-foto yang tergantung rapi pada benang pancing dalam sebuah ruangan lembab. Atap plafon yang bolong sesekali membuat ruang pameran becek ketika hujan, semakin menambah dimensi kemuramam yang sudah tercipta. Sepetik kata-kata pada prolog yang ditulis oleh kurator pameran, Arbain Rambey, masih berputar-putar di kepala saya, ”...Inilah Jakarta, inilah Indonesia akhir-akhir ini.

Adalah Ruang IV-6, ruang yang biasa digunakan untuk beristirahatnya mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta saat menunggu jam kuliah, yang diubah menjadi galeri pameran oleh Kampus Tercinta Photography Club (Kaphac) 32 dari 11-15 November lalu. Sebanyak 133 foto bertema “Jalanan” dipamerkan oleh 44 pameris, yang seluruhnya merupakan mahasiswa IISIP.

03 January 2015

Cokelat

Sebentar kemudian, ia meleleh.
Menjadi cair
menjadi lumer..

Siang itu pukul satu
lewat kurang lebih
tiga puluh menit

01 January 2015

Selayang Pandang Heterogenerasi

semoga berkah
Semoga Berkah on stage (Dok. Kremmasi).
Euforia Natal belum selesai. Masih banyak pohon cerama berhias lampu-lampu yang menyala mesra. Belum lagi, hujan di bulan Desemeber yang semakin syahdu. Jumat ini adalah Jumat yang sempurna. Sempuna untuk tidur berdekap selimut dalam kamar yang hangat.

Matahari sudah tenggelam. Hujan belum kelar. Saya memandang layar ponsel menunggu kabar.