Pages

25 May 2013

Laku Budi Suluh Nagari dalam Kemasan Metropolitan

Foto: Dokumentasi Wayang Beber Metropolitan

Siang itu, matahari di Jakarta sedang seperti biasa panasnya. Suasana Kota Tua cukup ramai oleh para pengunjung. Pertunjukan Wayang Beber Metropolitan dijadwalkan pukul 10.00 WIB dan pengunjung Museum Wayang satu per satu menghampiri keramaian musik yang mengiringi jalannya pertunjukkan.

Dalang mulai membeberkan tentang lakon yang dibawakannya, Labusuri (Laku Budi Suluh Nagari). Alunan musik dan efek visual layar proyektor mengiringi cerita sang Dalang tentang sebuah desa yang gemah ripah loh jinawi (tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya) di Republik Beber, desa Madusari. Namun tiba-tiba musik riuh ketika modernisasi datang. Hutan ditebang, lawah persawahan beralih fungsi, para petani kehilangan mata pencahariaanya.

Keadaan tersebut membuat masyarakat marah. Petani yang biasanya pergi ke sawah, saat ini harus pergi menuntut hak mereka kepada penguasa. Demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh rakyat desa hingga bentrokkan dengan petugas bayaran penguasa tak terhindarkan. Banyak petani yang pergi dan tak pernah kembali lagi.

Desa madusari telah berubah. Madusari yang dulunya selalu panen hasil bumi, saat ini panen bencana yang datang. Bencana silih berganti menghampiri, masyarakat desa memiliki aktivitas baru untuk menggantikan kegiatan bertani, yaitu demonstrasi. Demonstrasi tak hanya menjadi aktivitas, namun juga mata pencaharian.

Ada sebuah keluarga kecil, keluarga Pak Wongso yang harus merelakan istrinya untuk melancon menjadi tenaga kerja di negeri seberang. Keluarga tersebut tak bisa lagi mencari kehidupan di Madusari. Sementara biaya pendidikan semakin membengkak, namun benbanding terbalik dengan itu, sarana dan prasarana pendidikan justru semakin memprihatinkan.

Keadaan di desa Madusari sama halnya dengan keadaan di ibukota Republik Beber, Natiloportem. Modernisasi tidak muncul secara tiba-tiba, namun menjalar dari ibukota menuju desa-desa di Republik Beber.

Kesemerawutan di Natiloportem ternyata memang telah diatur sedemikian rupa oleh penguasa, di mana kemacetan dan suara klakson kendaraan dianggap sebagai silaturahmi kolosal, tawuran dipandang sebagai olah kanuragan, dan tumpukan sampah adalah museum yang menyimpan segala benda kenangan. Natiloportem didesain sedemikian rupa oleh penguasa dengan tujuan agar rakyat Republik Beber dapat survival dalam kondisi apapun. Ironis, namun tetap tidak ada yang peduli dengan keadaan tersebut.

Bencana banjir datang. Seperti tahun-tahun yang telah berlalu, bajir datang bersamaan dengan datangnya kepedulian. Namun, kepedulian tidak berdiri sendiri, selalu ada kepentingan yang melatarbelakangi. Posko kepedulian banjir menjamur dimana-mana, kepentingan penguasa pun hadir bersamanya.

Bencana datang terus-menerus, hingga pada suatu ketika air bah datang memporah-porandakan Natiloportem. Ibukota Republik Beber tenggelam, kemelut awan mendung menaungi langitnya.

Mereka yang tersisa membangun kembali semua yang telah hancur di sebuah bukit. Mereka membangun harapan baru, memulai segala sesuatu dari hal yang paling kecil.

Pementasan Wayang Beber Metropolitan memang dikenal selalu membawakan sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat saat ini. Dalam artian, nilai-nilai yang terdapat dalam cerita-cerita wayang dikemas dengan kondisi saat ini.

Dalam pementasan lakon Labusari ini, tak hanya menggunakan lembaran (beberan) dalam tampilannya. Tetapi, Wayang Beber Metropolitan juga menggabungkan unsur digital, audiovisual dan aksi teatrikal sehingga pertunjukkan berlangsung dengan menyenangkan.

Dalang Ki Edi Sujumbo Jumbo atau yang biasa disapa Samuel menyampaikan bahwa pertunjukkan ini ingin mengangkat realita yang sebenar-benarnya. Ia mengganggap bangsa ini sedang berjalan miring. Dengan memnampilkan klimaks dalam bentuk banjir, Samuel juga ingin mengkritisi budaya baru yang ada di Indonesia, yaitu banjir. 

Banjir di pertunjukkan ini juga menyimbolkan bangsa ini telah kebanjiran segala hal hingga lupa dengan akar budaya keindonesiaannya. Menyalahartikan modernisasi hingga menyepelekan makna budaya lokal. Padahal, dalam kebudayaan Indonesia pun memiliki semua yang dibutuhkan untuk mengatasi kesemerawutan di sini. 

Dalam akhir cerita, Bukit Harapan adalah tempat bagi setiap orang yang masih memiliki harapan dan keyakinan untuk terus berbuat dan bertindak. 

Sang Dalang menyatakan bahwa tidak ada tendensi untuk menyalahkan modernisasi, namun membuat modernisasi jalan bedampingan dengan akar budaya bangsa ini. Terus-menerus menyalahkan pemerintah tidak akan berarti tanpa tindakan nyata. Dan, pertunjukkan ini adalah upaya Wayang Beber Metropolitan untuk terus melakukan sesuatu untuk bangsa ini.

No comments:

Post a Comment