Pages

16 July 2022

Pasar Daring Berkembang, Koperasi Ingin Terus Berdayakan Pedagang

Sejumlah pesanan komsumen Pasar Cikurubuk Online dikemas sebelum dikirimkan.



Muncul sebagai solusi belanja saat kondisi pandemi Covid-19, Pasar Cikurubuk Online (PCO) kini makin diminati. Peminatnya tak hanya lokal Tasikmalaya, tapi juga dari berbagai wilayah Priangan Timur, bahkan daerah lainnya di Indonesia.

PCO, yang hadir sejak April 2020, diinisiasi Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya dan Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya, bekerja sama dengan komunitas pedagang. Semula layanan pasar daring ini dikelola Himpunan Pedagang Pasar Kota Tasikmalaya (Hippatas). Lantaran Hippatas merupakan organisasi nonprofit, dibentuklah Koperasi Pemasaran Pedagang Pasar Cikurubuk (KPPPC), yang kemudian berperan mengelola PCO.

Ketua Hippatas, Jahid, mengatakan, PCO kini merupakan salah satu unit usaha yang berada di bawah KPPPC. Keberadaan layanan pasar daring ini, kata dia, bukanlah untuk menjadi pesaing usaha para pedagang di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya. PCO hadir untuk memfasilitasi para pedagang agar dapat memperluas pemasaran barang dagangannya. Produk yang ditawarkan PCO lewat akun lokapasar Tokopedia dan Shopee diambil langsung dari para pedagang di Pasar Cikurubuk, khususnya yang merupakan anggota KPPPC.

Menurut Jahid, sejauh ini baru ada sekitar 25 pedagang yang tergabung secara resmi sebagai anggota KPPPC. Jumlahnya disebut masih jauh dari harapan. Jahid berharap keuntungan menjadi anggota koperasi dapat meningkatkan minat pedagang. Bagi pedagang yang merupakan anggota KPPPC, kata dia, produknya diprioritaskan untuk ditawarkan atau dijual via PCO.

Selain itu, pedagang yang menjadi anggota koperasi juga bisa memperoleh bantuan, serta mendapat bagian dari sisa hasil usaha (SHU) koperasi. “Kami bertahap meningkatkan anggotanya. Harapan kami mah semua pedagang di Pasar Cikurubuk bisa menjadi anggota. Kami memang sengaja menggarap ini dengan konsep koperasi karena tujuannya untuk memajukan para anggotanya,” ujar Jahid kepada Republika, Kamis (14/7).

Potensi memperluas pasar

PCO hadir menjawab kendala belanja saat pembatasan aktivitas diberlakukan pemerintah akibat kondisi pandemi Covid-19, khususnya di Kota Tasikmalaya. Seiring operasionalnya, konsumen yang memanfaatkan layanan PCO kian bertambah dan bukan hanya berasal dari wilayah Tasikmalaya. “Alhamdulillah, perkembangannya cukup signifikan. Saat ini PCO tidak hanya dikenal secara lokal Tasikmalaya atau Priangan Timur, tapi juga banyak konsumen dari seluruh Indonesia,” kata Jahid.

Kepada Republika, Jahid menunjukkan bukti pesanan dari konsumen asal Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, juga Sulawesi. Berdasarkan data dari BI Tasikmalaya, 51 persen tujuan pengiriman produk dari PCO justru ke luar wilayah Priangan Timur. Sekitar 49 persen masih di dalam wilayah Priangan Timur. Jahid menilai, harga produk yang ditawarkan di PCO terbilang kompetitif. Adanya promo pembelian produk lewat lokapasar dinilai menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen dari daerah lain. “Biasanya dari luar itu pesan paket kering, seperti sembako,” ujar dia.

Petugas administrasi PCO, Rudi Arif Rahman, menjelaskan, PCO tak hanya menawarkan produk kering. Ada juga berbagai produk lainnya, seperti daging, cabai, bawang, serta bermacam sayuran. Namun, untuk produk-produk basah ini layanannya masih terbatas untuk konsumen yang berada di sekitar wilayah Tasikmalaya dan pengirimannya dilakukan pada hari masuknya pesanan. “Soalnya riskan kalau ke luar kota,” ujar dia.

PCO dioperasikan selama 24 jam. Namun, untuk pengiriman pada hari yang sama hanya berlaku untuk pemesanan yang masuk pada sekitar pukul 07.00 WIB-13.00 WIB. Apabila order masuk lebih dari pukul 13.00 WIB, pengiriman akan dilakukan keesokan harinya. Arif menjelaskan, setiap ada order masuk, petugas akan langsung mencari produk yang dipesan di lapak-lapak para pedagang. Produk yang dipilih diprioritaskan dari para anggota koperasi. Setelah itu, barang akan dikemas untuk dikirimkan langsung kepada pemesan.

Menurut Arif, pesanan yang masuk ke PCO masih didominasi makanan kering. Untuk produk sayuran dan daging disebut masih jarang. Ia menduga masih banyak warga Kota Tasikmalaya yang belum mengetahui layanan PCO, sehingga pemesanan dari dalam kota masih relatif sedikit. “Padahal kan belinya enakan daring, tidak perlu becek-becekan ke pasar. Ini harus dikembangkan lagi promosinya,” kata dia.

Omzet meningkat

Berdasarkan data yang diterima Republika, selama operasional PCO pada 2020, diterima 1.141 pesanan, dengan omzet mencapai sekitar Rp 186 juta. Angkanya meningkat pada 2021, di mana masuk 5.326 pesanan, dengan omzet disebut mencapai sekitar Rp 398 juta. Sementara pada 2022, sampai Mei, terdata 3.404 pesanan, dengan omzet mencapai sekitar Rp 220 juta.

Jahid mengatakan, saat ini omzet PCO per bulannya rata-rata mencapai Rp 60 juta. Menurut dia, angkanya masih terbilang jauh dibandingkan omzet total penjualan secara luring para pedagang di Pasar Cikurubuk. Ia mengatakan, pesanan produk lewat PCO selama ini masih banyak berupa ritel atau eceran. Koperasi berupaya mencari cara untuk dapat meningkatkan penjualan. Salah satunya dengan menjajaki pola penjualan business to business. “Ini kami sedang garap. Jadi, penjualannya bisa dalam partai besar, bukan ritel lagi,” kata dia.

Promosi layanan PCO pun diharapkan bisa digencarkan. Untuk itu, Jahid pun meminta dukungan dari Pemkot Tasikmalaya. Selain membantu promosi, diharapkan pemkot dapat mendorong para aparatur sipil negara (ASN) berbelanja melalui PCO. “Itu //kan// bagus, bisa meningkatkan omzet PCO,” ujar Jahid.