Pages

12 April 2020

Menikmati Panorama Memikat Talaga Bodas


Udara dingin ala daerah dataran tinggi terasa menembus ke badan. Tiga lapis pakaian belum cukup untuk menghalau dinginnya suhu di kawasan itu. Namun, beberapa orang yang terlihat tetap semangat berswafoto dengan latar putihnya air kawah Taman Wisata Alam (TWA) Talaga Bodas di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Rabu awal Februari lalu.

Mereka seolah tak peduli dengan hawa yang dingin. Keindahan panorama Talaga Bodas seolah telah membuat kebal tubuh mereka dan tetap berusaha untuk mengabadikan setiap momen yang ada.

Cindy misalnya, salah satu mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung itu tak henti-hentinya memandang keindahan kawah putih Talaga Bodas sambil duduk di bawah pohon rindang besama seorang temannya. Sementara dua orang temannya sedang sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponselnya.

Perempuan berusia 29 tahun itu mengaku sangat terpikat dengan pemandangan alam di Talaga Bodas. Siang itu merupakan kali pertama ia mendatangi kawasan yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat (Jabar). Namun, ia langsung terpikat dengan keindahannya.

Kawasna itu dinamai Talaga Bodas bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Sunda, bodas memiliki arti putih. Air berwarna putih di telaga itu disebabkan adanya kandungan belerang. Di sejauh mata memandang, terlihat bukit dengan warnanya yang kehijauan. Putih susu di tengah lembah itu membuat kontras yang berbeda, sehingga membuat panoramanya begitu memikat.

"Bagus pemandangannya. Kalau di Bekasi gak ada yang kayak gini, adanya juga pabrik semua," kata perempuan asal Bekasi itu.

Mereka berempat memang sengaja pergi ke Kabupaten Garut untuk mengisi waktu libur semester. Sebab, satu di antara empat mahasiswi itu tinggal di Garut. Kedatangan mereka ke Talaga Bodas adalah rekomendasi dari temannya itu.

Setelah sampai, Cindy menilai rekomendasi temannya itu sangat tepat. Menurut dia, pemandangan di Talaga Bodas sangat berguna untuk menjernihkan kembali pikiran sebelum memasuki kuliah semester berikutnya.

Rombongan Cindy bukan satu-satunya yang datang ke Talaga Bodas siang itu. Ada pula Adit (21 tahun) bersama rekan-rekannya yang sedang asyik melihat pemandangan putihnya warna air di kawah itu dari menara pandang.

Berbeda dengan Cindy, kunjungan Adit ke tempat itu bukanlah yang kali pertama. Ia mengaku telah tiga kali mendatangi obyek wisata alam itu. Semakin ke sini, menurut dia, banyak perubahan yang terjadi di Talaga Bodas.

"Terakhir ke sini waktu SMP, sudah banyak perubahan. Di dekat kawah tak ada lagi warung yang berjualan," kata dia.

Ia menilai, kondisi itu tentu semakin membuat panorama Talaga Bodas semakin indah. Sebab, ketika terdapat banyak pedagang yang berjualan di sekitar kawah, pemandangan di Talaga Bodas terlihat kumuh. Dengan menghilangnya para pedagang dari sekitar kawah, pengunjung dapat menikmati pemandangan yang benar-benar asri.

Pengelola Talaga Bodas memang telah sedemikian rupa mengatur lanskap di kawasan itu. Pengunjung yang masuk ke kawasan TWA tak diperbolehkan membawa kendaraan ke pinggir kawah. Kendaraan wajib dipakir di tempat yang jaraknya sekira 300 meter dari kawah. Di tempat itu juga penduduk sekitar membuka kios-kios makanan dan cenderamata. Untuk memasuki area sekitar kawah, pengunjung harus berjalan kaki atau menyewa ojek seharga Rp 20 ribu pergi-pulang.

Sebagai pengunjung, Adit tak mempermasalahkan tata kelola itu. Justru, ia menilai hal itu baik, sebab membuat kawasan di sekitar kawah semakin alamiah. Namun, hal yang menjadi catatan negatifnya adalah akses jalan untuk menuju kawasan TWA Talaga Bodas.

"Jalan masuk kurang bagus. Padahal lemandangan di jalan, dari Wanaraja sampai sini bagus. Tapi karena jalannya jelek, jadi tidak terlalu menikmati," kata laki-laki asli Garut yang datang ka Talaga Bodas menggunakan sepeda motor itu.

Hal serupa juga diungkapkan Deni (28), yang datang bersama keluarganya menaiki mobil pribadi ke Talaga Bodas. Menurut dia, akses jalan masuk ke dalam terlalu sempit. Akibatnya, ia agak kesulitan menyetir jika ada kendaraan dari arah berlawanan. Apalagi, jalanan menuju kawasan itu naik-turun dan berkelok.

"Ngeri kalau agak ngebut," kata lekaki dari Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut itu.


Untuk dapat sampai ke TWA Talaga Bodas, setidaknya terdapat dua akses jalan, dari Garut dan Tasikmalaya. Saya menjajal jalan masuk melalui arah Tasikmalaya. Dari pusat kota, diperlukan setidaknya 1,5 jam untuk sampai di lokasi dengan menggunakan kendaraan roda dua.

Rute untuk dapat sampai ke kawasan Talaga Bodas dari Tasikmalaya harus melewati jalan nasional atau yang dikenal Jalur Gentong. Setelah itu, masuk jalan besar di sebelah kiri tepat pada Polsek Kadipaten, dan melalui area Karaha Bodas.

Sekira 70 persen akses jalan menuju Talaga Bodas dari Tasikmalaya. Namun, ketika melewati area Karaha Bodas, akan terdapat banyak jalan batu kerikil dan tanah licin. Namun, jika kendaraan belum diservis atau rawan mogok, Saya tak menyarankan mengambil rute itu, meski pemandangan hutan, tebing, dan bukit, di sepanjang jalan membuat sejuk mata.

Pengunjung yang melakukan perjalanan dari Tasikmalaya juga disarankan tidak mudah percaya pada aplikasi peta, khususnya Google Maps. Sebab, awalnya Saya menggunakan aplikasi itu, melewati Jalan Raya Ciawi-Singaparna (Cisinga) dan masuk ke Desa Sukamukti, Kecamatan Cisayong. Namun, sampai diujung jalan, seorang ibu yang sedang bertani memberi tahu bahwa jalan itu buntu.

Sementara ketika pulang, saya memilih jalur ke arah Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Jalur ke arah Garut dapat dibilang lebih manusiawi dibanding arah Tasikmalaya, meski tak bisa dikatakan 100 persen mulus. Pemandangan yang ditawarkan pun tak berbeda jauh. Terdapat hamparan sawah, bukit, hutan, dan tebing, di sepanjang perjalanan. Meski kalau boleh jujur, pemandangan dari arah Tasikmalaya lebih baik. Perjalanan dari Talaga Bodas untuk mencapai pusat kota Garut diperlukan waktu lebih singkat, yaitu sekira 1 jam. Dari arah Garut juga terdapat angkutan kota yang dapat membawa wisatawan untuk sampai ke Talaga Bodas.


Jarak untuk mencapai Talaga Bodas, baik dari pusat kota Tasikmalaya atau Garut terbilang cukup dekat. Meski jalanan tak mulus, tapi beratnya perjalanan itu terbayar dengan pemandangan alam di Talaga Bodas. Seperti kata Deni, yang baru pertama kali ke tempat itu dan langsung dibuat terpesona. "Waktu lihat di medsos bagus, pas sampai bagus banget," kata dia.

Bukan hanya pemandangan alam yang disediakan di TWA Talaga Bodas. Resor Konservasi Wilayah XVII Talaga Bodas, sebagai pengelola, juga membuat berbagai sarana dan prasarana pendukung untuk pengunjung, seperti shelter, gazebo, spot swafoto, mushola, homestay, toilet, dan yang paling disukai adalah kolam rendam air panas di dekat kawah. Selain di dekat kawah, terdapat pula kolam rendam Pancuran Tujuh. Namun, posisinya terletak agak jauh dari kawah. Di kawasan itu juga disediakan area berkemah untuk pengunjung yang ingin menginap di tenda.

Bukan hanya itu, di kawasan TWA yang memiliki luas sekira 27 ribu hektare itu memiliki aneka ragam flora dan fauna. Sebab, kawasan itu termasuk dalam tipe vegetasi hutan hujan pegunungan, dengan jenis tumbuhan di antaranya puspa, huru, pasang, manglid, anggrek bulan, dan banyak lainnya. Jika pengunjung beruntung, dapat pula dijumpai satwa seperti elang, babi hutan, tringgiling, dan tupai.

Ihwal harga tiket masuknya, pengunjung tak perlu mengeluarkan biaya terlalu tinggi. Untuk wisatawan lokal, tiket masuk dipatok dengan harga Rp 7.000 per hari untuk hari biasa dan Rp 9.500 per hari saat hari libur. Sementara untuk wisatawan mencanegara harga tiket dikenakan Rp 105 ribu hingga Rp 155 ribu. Sedangkan untuk kendaraan roda dua Rp 5.000 hingga Rp 7.500, kendaraan roda empat Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu, dan kendaraan roda enam Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu.

Kawasan itu juga dapat digunakan untuk melakukan kegiatan komersil atau foto pranikah, dengan tarif Rp 250 ribu. Sementara untuk wisatawan yang hendak berkemah dikenakan biasa Rp 7.500 per tenda. Seluruh tarif itu sudah termasuk asuransi kepada pengunjung.

Kunjungan Masih Minim


Kendati nama Talaga Bodas sudah banyak
dikenal luas oleh masyarakat, Kepala Resor Konservasi Wilayah XVII Talaga Bodas, Walin mengatakan, angka kunjungan wisata ke tempat itu per tahunnya masih cenderung minim. Ia menyebutkan, kunjungan ke TWA Talaga Bodas per tahunnya berada di angka 2.000-3.000 orang.

Kendati demikian, bukan berarti pengelolaan kawasan TWA Talaga Bodas tanpa masalah. Menurut dia, salah satu masalah yang sering dihadapi pengelola adalah kurangnya kesadaran pengunjung. Ia mencontohkan, masih ada sejumlah pengunjung yang bandel dan melintas ke kawasan cagar alam. Padahal sudah ada rambu larangan untuk tidak melintas ke kawasan itu.

Walin menjelaskan, kawasan cagar alam merupakan daerah yang tak boleh dimasuki sembarang orang. Sebab, di kawasan itu masih banyak terdapat satwa liar. Area itu hanya bisa dimasuki untuk tujuan penelitian. Itu pun peneliti harus mengantongi surat izin masuk kawasan konservasi (simaksi).

"Pernah kejadian pada sekira 2013, ada pengunjung yang meninggal setelah memasuki kawasan cagar alam. Padahal sudah ada rambu larangan," kata dia.

Selain itu, pengelola juga sempat konflik beberapa kali dengan penduduk sekitar. Alasannya serupa, penduduk sering kali memasuki kawasan cagar alam tanpa izin.

Bukan hanya itu, lanjut Walin, meski sudah ada penataan kendaraan bermotor tak boleh dibawa sampai area kawah, masih ada saja penduduk lokal yang memaksa membawa kendaraan. Alhasil, timbul kecemburuan dari wisatawan yang mesti berjalan kaki atau naik ojek untuk bisa sampai ke area kawah.

"Padahal kita sudah ada kebijakan untuk menggratiskan tiket masuk untuk penduduk. Penduduk juga diberdayakan jadi tukang ojek atau jualan di TWA," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Konvervasi Wilayah III Ciamis, Andi Witria Rudianto mengatakan, pihaknya memang belum mampu melakukan pengembagan TWA Talaga Bodas untuk menjadi destinasi massal. Selain ingin tetap menjaga ekosistem di kawasan itu, anggaran yang diimiliki BBKSDA Jabar juga terbatas.

"Kita juga kan bbksda jabar luas. Jadi anggarannya terbagi ke banyak hal. Misalnya ke Pangandaran yang akan dijadikan destinasi internasional," kata dia.

Selain itu, menurut dia, salah satu permasalahan BBKSDA dalam mengelola TWA adalah kesadaran wisatawan akan kebersinhan lingkungan. Ia menilai, masih banyak wisatawan yang membuang sampah sembarangan, yang imbasnya merusak ekosistem di kawasan itu.

Andi mengingatkan, wisatawan hendaknya selalu menjaga kebersihan dan mengikuti rambu yang ada di kawasan itu. Sebab, keberlanjutan TWA Talaga Bodas tak lepas dari cara manusia menjaganya.

2 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. Rupiahtoto adalah situs togel online resmi terbaik indonesia. Dengan melayani dan menyediakan permainan judi online terlengkap serta pasaran togel online terbesar mancanegara bermodalkan pasang taruhan bet 100 perak. Untuk langsung memperoleh besaran jackpot hadiah 4d 10 juta dibayar lunas 100%.

    ReplyDelete