Pages

06 July 2013

Poppies Lane Memory dan Adegan Itu

Kredit foto: Alika Khanza
Lirik lagu Poppies Lane Memory milik Slank selalu membawa saya melayang. Bukan. Bukan karena perempuan -toh perempuan yang melayang akibat saya. Lagu ini selalu membawa saya melayang menuju adegan menghisap sabu dari gagang bolpoin yang terisi mecin.

Sebelum tim musik bergabung, latihan terasa hambar. Memang bukan teater namanya bila latihannya tak membosankan. Saya dilatih untuk menjadi bosan dan perlahan melawan kebosanan itu dengan frekuensi yang lebih masuk akal. Sampai pada akhirnya tim musik datang membawa konsep musik pertunjukan.

Aku dibawa terbang/ ke alam mereka/ Aku di bawa rebah/ Di rumput hijau/ Dalam imaji lima dimensi/ Kucumbu//

Lagu itu, Poppies Lane Memory, mengiringi adegan sakau yang memang terlihat canggung sebelumnya. Lirik yang dimainkan setelah saya menghisap sabu itu. Melayang, lagu itu selalu membuat melayang menuju dimensai ke lima dalam nirwana. Tak peduli dalam proses latihan, cacian dan makian terus keluar dari bibir sang pimpinan. Peduli setan. Observasi pun hanya bisa lewat minuman. 

Mungkin ini adalah ketergantungan teater pada musik. Toh memang seperti itulah teater, semua saling berkaitan. Musik, gestur, vokal yang pecah, latar panggung, semua berkaitan sehingga mencapai titik temu yang sempurna.

Memang, pementasan itu adalah pesanan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam menyampaikan penyuluhan anti-narkobanya. Sempat terjadi cekcok mengenai isi pementasan yang tidak sesuai dengan pesanan. Namun, proses latihan sudah berjalan. Gladi kotor telah dipersiapkan. Pilihannya saat itu bagi BNN adalah, lanjut pentas atau batal. Mereka mengalah dan pementasan tetap berjalan, pun interupsi ngawur yang muncul di sana-sini sempat membuat sang sutradara kesal.

Ah, rasanya kalimat-kalimat ini sudah mulai tak terarah seperti tulisan sebelumnya, yang sebelumnya dan yang sebelumnya. Mungkin karena pagi sudah hampir menjelang dan saya terburu nafsu untuk melukiskan kisah ini. Namun apalah daya, tulisan ini telah dimuat. Hentikan saja di sini, lalu kita berjumpa di lain hari.

Kami hidup karena kami harus berkarya, kami berkarya karena kami hidup~ Teater Kinasih. Foto: Alika Khanza

No comments:

Post a Comment