Pages

Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

13 July 2015

Kopi


Saya menganggap kopi hanya sebagai teman bicara. Sungguh hanya teman bicara. Kalaupun diganti dengan susu atau teh, tak ada masalah.

Bagi saya kopi memang tak ada yang istimewa. Belum ada, lebih tepatnya. Sampai saat, semalam saya berkunjung ke sebuah kedai kopi kecil milik kenalan saya, Mirza Jaka Suryana.

24 November 2013

Lenong Betawi Masa Kini

Kredit foto: Google

Seperti suasana hari-hari biasa, jalan-jalan di Jakarta terlihat macet oleh kendaraan pribadi yang hendak mengisi akhir pekan. Tidak banyak pilihan untuk mengisi liburan di Jakarta. Hanya ada Kebun Binatang Ragunan, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, dan mungkin sedikit jauh ke Bogor, kita telah sampai di Puncak. Namun yang menarik adalah suasana Setu Babakan, sebuah kampung budaya Betawi di pinggiran selatan Jakarta.

22 November 2013

Membaca Eleven yang Sayang untuk Dibuang

Diambil dari sebuah proyek yang belum selesai...


Akhir pekan lalu, saya bertemu dengan dua mahasiswa yang menjalankan blog ini untuk pertama kali. Berkumpulnya kami, sebagai mahasiswa yang bergerak di media on-line, membahas seputar media kampus. Kebetulan saya diberi tahu oleh anak-anak Pos Bawah, bahwa terbitan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (Himajur) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Eleven terbit kembali. Langsung saja kami membelinya.

14 November 2013

Disini Kita Berjumpa, Bukan di Kampus Tercinta

Kredit foto: Bewok Buletin Berisik

Suasana kampus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta menjadi lebih cepat sepi. Tak seperti biasa, para keamanan kampus tidak harus memaksa para mahasiswa keluar agar kampus sepi. Sepertinya, mahasiswa yang biasanya diusir paksa, malam itu dengan sukarela meninggalkan kampus menuju tempat di mana semua akan berjumpa.

06 April 2013

At-Twitter: Google Menjawab Semuanya, Pidi Baiq Menjawab Semaunya



Judul       :               At-Twitter
Penulis    :               Pidi Baiq
Penerbit  :               Mizan
Terbit      :               Oktober 2012
Ukuran    :               208 halaman
Harga      :               Rp. 33.150,-

Masyarakat mulai meninggalkan perpustakaan dan beralih ke Google. Ternyata, Google kalah cepat dengan Twitter. Semua informasi terdapat di Twitter. Tapi, bila salah bertanya, Pidi Baiq akan memberikan jawaban sekenanya, yang polos dan ngawur.

23 December 2012

Lebam Telak di Otak Sungsang




Kalo lu bisa nge-review albumnya, gue kasih ceban deh,” begitulah Mawar (nama disamarkan), yang memiliki badan “sedikit” lebih besar bentuk dari saya, berkata kepada saya malam itu. Setalah dua botol minuman produk kapitalis habis, rasa kantuk mulai datang, membawa saya pada mimpi panjang tentang waria. Lalu, setelah matahari kembali, langsung saya unduh album Sapuan Feses Waria Meledak yang dimaksud Mawar di situs netlabel terkemuka asal Jogja, yesnowave.com.

Sungsang Lebam Telak, begitulah nama band pesanan Mawar yang minta diulas. Track ‘Kejatuhan Rona Jiwa Yang Meronta-Ronta Dalam Estetika Psikedelis’ saya dengarkan, teriakan terdengar, improv-improv super jazz –klaim dari mereka mengenai genre musik mereka- menghancurkan daras-dasar pemikiran tentang musik yang sudah ada. Tiba-tiba, saya tak tahu harus menulis apa. “Ini band mau ngapain sih?” Album yang berisi sembilan lagu, yang judulnya lebih enak untuk dibaca daripada harus didengarkan.

1  –Tertangkapnya Kecepatan Wal Afiat yang Mampu Diramalkan Setiap Kancah
2  –Pengharapan semu dapat dirasakan asap-asap alumnus terjerembab lompat
3  –Kapan Lagi Membakar Aroma Bolpoin di Balik Karpet Musim Panas Terus
4  –Sebesar Usaha Kami Mencuci Kaus Ternoda Bersama Gemericik Gledek Cemerlang
5  –Kejatuhan Rona Jiwa yang Meronta-Ronta dalam Estetika Psikedelis
6  –Endapan Kesalahpahaman Bobroknya Birokrasi Tato Rusak
7 –Menyongsong Area Lampu Merah saat Anus Kembali Menyempit per Dua Detik dalam Penasaran Mabrur
8 –Usurlah Partikel Cakupan Melejitnya Adidaya Kerupuk dan Asam Garam Politik
9 –Semburan Diare Langsung ke Lidah yang Telah Terpatahkan oleh Teori Usang Tata-Titi Bersepeda

Track demi track saya putar terus menerus, tetap saja tak ada yang bisa saya tangkap maknanya. Apakah ini yang namanya komunikasi tanpa makna, yang menghancurkan makna palsu dalam komunikasi? Akhirnya dengan berat hati dan kondisi kepala pusing, saya putuskan untuk mendengarkan Wezeer –berbubung Wezzer sebentar lagi akan konser di Jakarta, pun tak mungkin nonton pula, yang penting mendengarkan untuk menghilangkan kepenatan Sungsang Lebam Telak.

Mungkin sesuai dengan namanya, Sungsang Lebam Telak ingin menghancurkan pandangan tentang nilai-nilai moral yang sudah ada. Mendekonstruksi nilai-nilai yang telah tersusun rapih dengan super jazz yang dibawakannya. Satu saran saya, janganlah Anda dengarkan lagu-lagu di atas, cukup baca saja judul lagunya. Anda hanya akan menghabiskan waktu, quota internet, pikiran, bahkan sampai persaan saat Anda memutuskan untuk mendengarkan album Sapuan Feses Waria Meledak. Saya pun menuliskan review ini hanya untuk mendapatkan uang cebanan, yang entah akan dibayarkan atau diangga[ sebagai pemotongan hutang yang kian tak tertahan.

Sampai saat ini, saat sedikit memperbaiki tulisan ini, saya tak tahan mendengarkannya dan memilih mendengarkan lagu-lagu absurd Zeke Khaseli.

19 December 2012

papernoise: Teater Kan Gak Melulu Harus Pentas


Ketika sebuah diskusi diulas, apa yang anda harapkan didalamnya? Jika konsep 5W + 1H anda rasa sudah cukup, maka diujung flyer lah rasa keingintahuan anda berhulu. Jika tidak, berarti saya yang kemudian kelimpungan harus menariknya ke lingkup yang lebih personal.
Industri musik butuh narasi, media memiliki peranan penting dalam hal ini. Maka tulisan-tulisan yang dihadirkan diharapkan memiliki skala persuasi yang kental untuk mengubah konstruksi realitas sosial. Skema ke-sok-tahu-an saya membawa saya mereka-reka alasan tadi, alasan mengapa Teater Kinasih memilih jurnalisme musik sebagai sarana mempelajari kehidupan — manusia khususnya. Semacam mencari legalisir akan alasan tadi, saya coba berbincang dengan Bayu.
Terhitung 4 hari setelah talkshow "Jurnalisme Musik Dulu Dan Sekarang", 17 Desember 2012, saya berbincang dengan Bayu Adji Prihammanda, selaku anggota Teater Kinasih, sekaligus ketua pelaksana diskusi tersebut.

Kenapa Teater Kinasih pilih tema "Jurnalisme Musik" buat acara diskusi kemarin?
Karena semua orang suka musik dan musik bagian dari unsur teater. Kalo jurnalisme, karena kinasih punya media juga yang membahas tentang seni budaya, Buletin Kinasih (BuKin) yang lu juga jadi pelanggannya, mangkanya diambil tema jurnalisme musik.
Dan, setelah gw baca buku LTD (Lokasi Tidak Ditemukan), ternyata menulis musik itu gak segampang menulis blablabla... Menulis musik adalah menulis tentang manusia, sedangkan teater adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan, manusia juga.
 Oh jadi si teater sama musik ada hubungan gitu ya..
iyalah
Hubungan Teater Kinasih sama Jurnalisme, sedekat apa sih Bay?
Iya dibilang deket pasti sih..
IISIP itu kan bisa dibilang 60% isinya mahasiswa jurnalistik, jadi tradisi setiap HIMA/UKM/tongkrongan punya media itu udah turun-temurun. Ini sih sebagai bentuk persembahan buat anak2 kampus yang minat jurnalisme.
Terus ya kita sebagai salah satu yang ngeramein kehidupan media di kampus mencoba membuat sebuah diskusi jurnalisme. Mencoba membuat media kampus khususnya, yang menuliskan tentang musik itu tau bagaimana sih seharusnya menulis musik yang asyik. Ya itu tadi, biar kehidupan media di kampus itu hidup, gak sepi.
Bisa dibilang tema 'musik' yang diambil disini kaya gula buat semut2 lah ya?
Nah! Coba lu bayangin kalo gw bikin workshop/diskusi tentang teater. Itu mah sama aja onani, cuma pegiat teater aja yang seneng.
Bay, terus efek diskusinya buat Teater Kinasihsnya sendiri gimana Bay? Diluar BuKin
Teater Kinasih jadi lebih seger, dinamis dan gak ngebosenin, out of the box lah. Teater kan gak melulu harus pentas dan acara kemaren itu lebih nyuri ilmu & bikin relasi sama orang2 di luar lingkup teater.

(Bahkan tanpa harus dibilang 'out of the box' pun saya belum pernah lihat UKM serupa mengadakan diskusi tentang jurnalisme.)

oleh:

Resqi Utomo
Redaksi

12 June 2012

Ilir-Ilir: Ilustrasi Tembang Dolanan Anak Jawa


Permainan anak-anak tradisional dari masa ke masa selalu berubah sejalan dengan perkembangan zamannya. Dahulu, republik ini sangat kaya akan permainan anak-anak. Setiap daerah memiliki ciri khas permainannya sendiri-sendiri. Namun, saat ini keberadaannya sudah sangat jarang ditemukan. Pengaruh modernisme telah membuat segala hal yang berbau tradisional terkesan kuno, sehingga masyarakat tidak memiliki minat lagi, dan akhirnya ditinggalkan oleh bangsanya sendiri. Sungguh sangat memprihatinkan, padalah itu merupakan warisan kebudayaan yang harus kita lestarikan.


Dalam rangka melestarikan permainan anak tradisional yang saat ini semakin terkikis, Bentara Budaya Yogyakarta mengadakan Pameran Ilustrasi Tembang Dolanan Anak Jawa di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat, 30 Mei – 3 Juni 2012. Acara itu memamerkan lukisan dan buku ilustrasi tembang dolanan karya seorang seniman dari Bentara Budaya Yogyakarta bernama Hermanu. Bentara Budaya Yogyakarta juga mengumpulkan data-data tentang permainan anak yang berupa ilustrasi dan teks tembang dolanan anak dari berbagai sumber, lalu lalu menyusunnya dalam sebuah buku sebagai kelengkapan pameran.

Ilir-ilir dipilih sebagai judul pameran, karena tembang ini sangat unik dibandingkan dengan tembang yang lain. Di antara sekian banyak tembang dolanan anak, ilir-ilir mudah dinyanyikan, sudah memasyarakat, namun juga mempunyai makna yang sangat dalam pada dunia spiritual. Selain itu, tembang ini juga dinyanyikan untuk permainan anak-anak yang berbau magis seperti Sintren, Nini Thowok, dan Lahis yang saat ini sudah langka, bahkan hampir tak ada yang memainkannya lagi.

Nilai budaya di sekitar kesosialan dan kebersamaan yang terdapat pada permainan tradisional nampaknya tidak ada dalam games yang dimainkan anak-anak sekarang. Permainan tradisional selalu terjadi dalam kebarsamaan. Anak-anak saling berinteraksi satu sama lain. Namun, games pada saat sekarang ini cenderung dapat dimainkan secara idividual. Hal itu tentu saja akan ikut membentuk kultu,r yang kemudian membuat manusia menjadi individualis bahkan terkesan egois dan sinis terhadap kesosialan serta kebersamaan.

Saat ini sulit bagi kita menghayati llagi diri kita sebagai homo ludens (makhluk bermain) yang khas bagi kebudayaan kita. Kita terlalu sibuk untuk menjadi homo economicus (manusia ekonomi) yang selalu mendewakan harta atau keuntungan semata. Mungkin di sinilah letak jawaban, mengapa di zaman global ini kita merasa kehilangan identitas kita sendiri. Pameran Ilustrasi Tembang Dolanan bukan sekedar noltalgia dengan masa lampau. Lebih dari itu, pameran ini mengajak kita untuk kembali melestarikan permainan yang khas kebudayaan kita.