Pages

Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

22 July 2015

Tanah

Aku adalah angin.
Menyusup lewat dahan kecil,
bersapa dengan daun tua
juga yang muda.

Aku adalah abu.
Yang keluar sejak matahari
belum tiba hingga puncak.
Menari di sela mata.

Aku adalah kabut.
Sebentar terlihat mata,
untuk kemudian menyatu
bersama udara.

Aku adalah pohon.
Menjulang tinggi dan rapuh.
Enggan bersahabat angin.
Menyendiri sampai ke ujung.

Aku adalah rimba.
Rimba yang penuh harimau,
harimau yang siap diburu
sekaligus memburu.

Tapi siapa engkau?
Menyusup melalui maya,
mematahkan segala
aku yang telah tiada.

Kini,
aku bukan angin,
bukan abu,
bukan kabut,
bukan pohon,
bukan rimba.

Aku telah tiada.
Aku menjelma tanah.


Sebelum Malang.

25 May 2015

Kabar

Demi bunyi gelas yang bertemu sendok tukang es campur.
Dan suara botol-botol hijau pedagang mpempek.
Melalui kipas angin listrik yang selalu bolak-balik.
Ingin kutitipkan untukmu segenggam rindu.

Demi Riko yang agak murung melihat rencana nikahnya saat SMK kandas sudah.
Dan keponakannya yang menangis melihat bapaknya pergi beli makan.
Bak hitam plastik telah direbahkan agar bisa mandi di pukul setengah lima.

Demi suara latar lagu The Adams.
Dan suara gelisah menunggu balasan.
Juni semakin dekat,
meskipun tak harus hujan seperti sajak Sapardi.

Demi para pemancing yang tak membawa ikan pulang.
Dan nyanyian burung kenari berwarna kuning di dalam kandang.
Mobil-mobil melulu bising berlalu-lalang.

Demi Beni yang tak lagi menyapa dengan halo.
Dan kakak-beradik kecil terus memegang botol mineral.
Lewat daun melinjo muda, semoga kabarmu selalu tak jumawa.

Mei,  2015

19 January 2015

Pagi yang Kutitipkan Salam

Hujan masih juga berdetak
Saling menyalip dengan waktu
Menggagahi satu dan yang lain

Pengeras suara masjid
tak juga mau berhenti,
tak bosan membisikki suara ibu
yang mengaji

Hanya pagi yang tak jumawa
Setia pada hari
untuk melanjutkan malam

Semalam, kita berbicara tentang rindu, sayang
Tentang aroma
yang aku dan kamu tak juga paham

Aku mengirim puisi dari Indian
Puisi yang berjanji,
sebelum pagi, engkau kujenguk
dalam tidur

Suara ibu yang mengaji telah padam
Telah berganti hujan
yang mulai serakah
Tak membiarkan detak jam lagi terdengar

Apakah semalam aku hadir dalam tidurmu, sayang?
Dan kita lanjutkan tentang rindu yang belum usai?

Lewat waktu, hujan dan pengeras suara
telah kusampaikan rindu, sayang, padamu

Pada pagi,
yang masih manantang malam untuk kembali

03 January 2015

Cokelat

Sebentar kemudian, ia meleleh.
Menjadi cair
menjadi lumer..

Siang itu pukul satu
lewat kurang lebih
tiga puluh menit

30 December 2014

Parafin

Api dari parafin itu sudah hampir habis |
hujan tak sempat mematikannya |
hanya sampai pada dedaunan |
yang rapat berbaris |
sebelum api mematikan dirinya sendiri ||

28 December 2014

Penyair Pemalu yang Abadi


JAMES DOUGLAS MORRISON dan Alain Ronay duduk di kafe kecil nan sumpek di pusat fashion dunia, Paris. Hari itu adalah 2 Juli 1971. Mereka sama-sama gelisah. Morrison gelisah perkara nasibnya yang berubah cepat selama empat tahun belakangan. Ronay gelisah, mengingat pacarnya pasti memasang muka dengan bibir mengerut ke depan saat nanti ia sampai ke tempat janjiannya. 

Ronay belum bisa pergi. Morrison, temannya, masih belum stabil untuk ditinggalkan. Ia seperti anak kucing yang tak mau ditinngal ibunya. Merayu untuk ditemani seharian. Ronay pasrah. Biarlah nanti pacarnya marah dengan cemberut, pikirnya. Toh wajah pacarnya saat cemberut lebih menggemaskan daripada saat libidonya berada di puncak.

20 November 2014

Rabu

Ia datang padaku dengan terlambat,
ini jam sepuluh tepat
aku tersadar oleh bising
oleh waktu yang semalam.

31 October 2014

Hari-hari yang Tak Kunjung Tamat

Matahari itu muncul lagi
Selalu..
Aku bisa merasakannya
dari balik jendela yang memang tak tertutup rapat..

30 October 2014

Orang-orang yang Hidup dalam Gua

Kita adalah orang-orang yang hidup dalam gua
Nyaman, melihat bayangan
dari luar masuk menghiasi..
Kita tak mau keluar,
terlalu empuk alas batu ini untuk ditinggalkan

20 June 2014

Talu Pagi

Lirik dari aksara yang dimulai dari kanan itu terdengar lagi
Entah..
Lambat laun, menyergap
Merasuki sendi yang tadinya tertutup

Aku mendengar suaranya dari sini
Dari ujung gang yang sempit
Ujung gang yang pasti kendaraanmu harus terparkir di depan


Suara kuyup itu belum mau juga untuk melesat
Membayangi telinga, merusak..

Kali ini lebih keras
Memanggil denyut yang perlahan menghilang
Menghujam nanar kala embun tak lagi mau menempel
 

Sudikah kau akhiri semua?

Jakarta, depan monitor, Juni sebelum puasa

02 May 2013

Puisi untuk Perempuan

Perempuan #1
Apa artinya emansipasi perempuan?
Lelaki tetap sewenang-wenang..
Kebebasan dikekang
Ijazah sarjana kami nantinya...
Kami, kaum perempuan..
Hanya akan berakhir di dapur...

19 July 2012

Ilusi

Hidupku, kuserahkan padamu..
Pada alam yang terus berevolusi
Pada burung yang berkembang biak di sarangnya..
Di atas pohon yang perlahan berubah menjadi bangunan

Hidupku untuk sebuah kepalsuan
Kepalsuan yang terasa nyata
Nyata yang berbuah imaji
Yang menjadi tujuan..
Ilusi!

Angin membawa jatuh daun yang berguguran
Matahari tak mampu untuk melawan kuasa
Dan.. manusia pun hanya berjalan mengikuti aliran sungai..
Sungai yang semakin keruh..
Semakin menjijikan untuk menjadi panutan

Burung itu keluar dari sebuah tembok..
Tembok yang bersinar, yang menghancurkan harapan

Palsu!
Hidup ini adalah kepalsuan para manusia..
Manusia yang maha tahu..
Yang maha esa..

Sesuatu yang indah hanya dalam kata-kata
Tak pernah datang untuk menjawab keresahan
Diam, menerima pesan, lantas tak memberi penjelasan

Dimanakah kebenaran absolut?
Dimana?
Kapan engkau datang menjemput tubuhmu yang mulai menua?
Sampai kapan?
Sampai kapan kebenaran akan datang?

Manusia-manusia putus asa semakin merajalela
Diam tanpa kata..

Aku adalah ilusi..
Hanya sebuah imaji bintik kehidupan yang tak jadi
Sebuah mimpi untuk menjadi materi
Namun, pada akhirnya..
Aku tetap hanyalah ilusi..
Carian nafsu dalam onani

Jakarta, 19 Juli 2012

21 June 2012

Kenang-Kenanglah


Burung bernyanyi riang di tangkai yang daunnya perlahan jatuh
Sayapnya merekah, mengingat masa ketika ribuan mayat tergeletak
Senapan panjang lengkap dengan bayonetnya, sekilas nampak pada paruhnya
Burung elang legenda itu pun terbang, menghilang bersama kenangan

Aku telah mencari tentang pembantaian…
Di riuhnya suara air yang menabrak pasir…
Di heningnya hutan, tempat mayat tak bertengkorak…
Sampai ke kuburan, selepas misa sebelum hingga rosario tertelan…
Buku sejarah, entah mengapa, seakan enggan menjelaskan tentang pembantaian

Burung elang legenda kembali datang
Pohon tempat ia merenung, kini telah berubah menjadi tiang
Burung itu seperti kesepian menatap cakrawala
Dalam kepalanya tersimpan pertanyaan tentang angka…
Angka yang hilang tak pernah sempat untuk dibicarakan

Senja datang seperti kilat menyambar dalam hujan
Datang untuk memisahkan siang dan malam
Membawa keriangan dalam ketenangan
Burung pun kini perlahan terbang, entah kapan akan kembali…
Mungkin kepergiannya bisa menghapuskan kenangan tentang pembantaian