Sebagai anak muda yang pernah sok punk, tentu saja saya pernah mendengarkan lagu-lagu Superman is Dead (SID). Tapi, sebagai anak yang tinggal di pinggiran Jakarta, saya juga pernah (dan mungkin masih) mencintai dangdut cum koplo. "Gedung Tua", "SMS", adalah dua di antara lagu-lagu yang pernah mengisi waktu, ketika masih SMP kalau tak salah.
Blog pribadi yang berisi ide-ide subyektif di sana-sini, tergantung jari yang terus menari. Boleh komentar, namun biasakan baca sampai selesai. Boleh diambil, asal kuat iman. Ini bukan dalil, tak perlu dianggap serius. Kalau terlanjur serius, apa boleh buat.
Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts
07 December 2018
15 January 2018
Konser Liam, Transfer Playmaker, dan Kekalahan City
![]() |
| Noel dan Liam. (Foto: Istimewa) |
24 December 2017
Semalam Suntuk Berdansa di Panggung DWP
| Atraksi Steve Aoki di panggung Garuda Land, DWP 2017. |
08 January 2015
Mengenang The Adams
01 January 2015
Selayang Pandang Heterogenerasi
![]() |
| Semoga Berkah on stage (Dok. Kremmasi). |
Matahari sudah tenggelam. Hujan belum kelar. Saya memandang layar ponsel menunggu kabar.
28 December 2014
Penyair Pemalu yang Abadi
JAMES DOUGLAS MORRISON dan Alain Ronay duduk di kafe kecil nan sumpek di pusat fashion dunia, Paris. Hari itu adalah 2 Juli 1971. Mereka sama-sama gelisah. Morrison gelisah perkara nasibnya yang berubah cepat selama empat tahun belakangan. Ronay gelisah, mengingat pacarnya pasti memasang muka dengan bibir mengerut ke depan saat nanti ia sampai ke tempat janjiannya.
Ronay belum bisa pergi. Morrison, temannya, masih belum stabil untuk ditinggalkan. Ia seperti anak kucing yang tak mau ditinngal ibunya. Merayu untuk ditemani seharian. Ronay pasrah. Biarlah nanti pacarnya marah dengan cemberut, pikirnya. Toh wajah pacarnya saat cemberut lebih menggemaskan daripada saat libidonya berada di puncak.
05 December 2014
Antara Desember, Hujan dan Beberapa Lagu untuk Menemaninya
Desember akan selalu dekat dengan hujan. Rasa gelisah, yang hadir ketika duduk diam memandang gemericik air membasahi tanah di luar jendela, itu akan selalu muncul saat Desember. Desember dan hujan selalu membawa kita pada khayalan, masa lalu, dan masa depan.
23 June 2014
Beranda Taman Seni: Ketika Seni Berdampingan dengan Perlawanan
| Foto: Fachrul Irwinsyah (Kaphac32) |
Kehidupan
di dalam kampus, yang ketika pukul delapan malam sudah dipaksa pulang,
adalah suatu yang (sangat) tidak mengasyikan bagi sebagian mahasiswa.
Mahasiswa membutuhkan tempat untuk menyalurkan hasrat mudanya dengan
berbagai kegiatan di luar kuliah, setelah dipaksa menyelesaikan 150 sks
(sistem kredit semester) dalam ruangan kelas dengan sirkulasi udara dan
cahaya yang seadanya.
14 November 2013
Disini Kita Berjumpa, Bukan di Kampus Tercinta
Kredit foto: Bewok Buletin Berisik
|
Suasana kampus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP)
Jakarta menjadi lebih cepat sepi. Tak seperti biasa, para keamanan kampus tidak
harus memaksa para mahasiswa keluar agar kampus sepi. Sepertinya, mahasiswa yang
biasanya diusir paksa, malam itu dengan sukarela meninggalkan kampus menuju
tempat di mana semua akan berjumpa.
06 July 2013
Poppies Lane Memory dan Adegan Itu
Lirik lagu Poppies Lane Memory milik Slank selalu membawa saya melayang. Bukan. Bukan karena perempuan -toh perempuan yang melayang akibat saya. Lagu ini selalu membawa saya melayang menuju adegan menghisap sabu dari gagang bolpoin yang terisi mecin.
25 March 2013
Bertamasya Entah Kemana
Sore itu, di sebuah
kafe, yang tak selayaknya kafe, beratapkan ranting bambu, lagu itu terdengar
lagi. entah berapa lama saya tak pernah mendengarkan lagu tersebut. Sontak pikiran
saya langsung melanglang buana, seperti efek dedaunan kering yang mulai
terbakar, kembali ke masa berseragam.
02 February 2013
Tentang Sebuah Lagu dari Era 90-an
Siang itu langit
sedikit muram namun tak kunjung meneteskan hujan. Riko datang, saya ambilkan agar-agar
dan teh manis untuk dijadikan dorongan (berguna untuk menetralisir, layaknya
jeruk nipis untuk sebotol jamu lokal). Ya, berbicara dengan Riko memang lebih
afdol bila memakai dorongan agar semuanya lancar.
Dia datang mencari
segudang pekerjaan untuk mengisi waktu luangnya saat libur kuliah. Tak hanya
itu, ia pun memasang iklan motornya yang masih layak pakai (ini kisah nyata,
jadi kalau ada yang berminat segera hubungi saya).
Sudah selesai dengan
tujuan awalnya datang ke rumah, tiba-tiba dorongan yang saya berikan mulai bereaksi,
dikeluarkan handphone dari saku
celana pendeknya dan ia pun mulai mendengarkan lagu dari playlist-nya. Lagu asing lagi yang terdengar –setidaknya untuk
telinga saya- seperti Wieteke van Dort, Soundtrack serial Kera Sakti, Bob
Marley, dan banyak lagi. Tapi ada satu lagu yang mengingatkan saya tentang hari
Minggu siang ketika tahun 90-an, di mana panas matahari masih terhalang
rimbunnya pepohonan.
Anda salah bila mengira
lagu yang terdengar adalah suara-suara pemberontakan a la grunge Nirvana, lagu
dengan lirik-lirik misoginis Bon Jovi, atau pop manis indie lokal angkatan
Rumahsakit. Lagu yang melantun dari handphone
Riko bercerita tentang seorang pendekar yang selalu mengisi Minggu siang
anak-anak 90-an.
Anak-anak yang kala
itu yang menikmati hidupnya dengan berlarian, mengumpat di balik jembatan,
lewat sambil tertawa di atas sepeda, dan berkelahi setelah diadu oleh teman
yang lebih tua. Setelah mereka cukup lelah, saat yang tepat untuk pulang dan
menonton serial seorang pendekar berbaju putih dan ikat kepala berwarna putih
pula. Seorang pendekar yang kala itu cukup kondang di pergaulan anak-anak 90-an.
Bukan, bukan Catatan
si Boy yang menceritakan seorang pemuda kaya raya. Bukan pula serial Lupus yang
berteman dengan hari-hari sibuk nan melelahkan. Pendekar itu bernama Wiro
Sableng yang mempunyai guru bernama Sinto Gendeng. Dan, satu yang masih saya
ingat, delman itu nyungsep ke sebuah lubang.
Wiro Sableng yang terkenal
dengan nomor dada 212, mempunyai sebuah kapak yang ajaib. Entah apa yang ada
dipikiran Riko mendengarkan (lagi) soundtrack Wiro Sableng, namun lagu itu
sedikit membuat saya bernostalgia dengan, ya.. anak-anak 90-an. Bernostalgia dengan
otot-otot yang saya punya ketika itu, ketika menjadi manusia sempurna. Bila
tulisan ini hanya terpajang dalam layar monitor Anda, itu tandanya otot saya
sudah tak sempurna dulu lagi, seperti anak-anak 90-an dengan nyanyiannya. Setidaknya
sekarang kita bisa bernostalgia menjadi manusia sempurna.
Satu pesan dari Riko
siang itu, “Dari C#7 cuk, yok sama-sama
yok... cokocokocokocokocokocok...” biar sableng, biar jadi bener.
23 December 2012
Lebam Telak di Otak Sungsang
“Kalo lu
bisa nge-review albumnya, gue kasih ceban deh,” begitulah Mawar (nama
disamarkan), yang memiliki badan “sedikit” lebih besar bentuk dari saya,
berkata kepada saya malam itu. Setalah dua botol minuman produk kapitalis
habis, rasa kantuk mulai datang, membawa saya pada mimpi panjang tentang waria.
Lalu, setelah matahari kembali, langsung saya unduh album Sapuan Feses Waria Meledak yang dimaksud Mawar di situs netlabel
terkemuka asal Jogja, yesnowave.com.
Sungsang Lebam
Telak, begitulah nama band pesanan Mawar yang minta diulas. Track ‘Kejatuhan Rona Jiwa Yang
Meronta-Ronta Dalam Estetika Psikedelis’ saya dengarkan, teriakan terdengar, improv-improv
super jazz –klaim dari mereka mengenai genre musik mereka- menghancurkan
daras-dasar pemikiran tentang musik yang sudah ada. Tiba-tiba, saya tak tahu
harus menulis apa. “Ini band mau ngapain sih?” Album yang berisi sembilan lagu,
yang judulnya lebih enak untuk dibaca daripada harus didengarkan.
1 –Tertangkapnya Kecepatan Wal Afiat yang Mampu
Diramalkan Setiap Kancah
2 –Pengharapan semu dapat dirasakan asap-asap
alumnus terjerembab lompat
3 –Kapan Lagi Membakar Aroma Bolpoin di Balik
Karpet Musim Panas Terus
4 –Sebesar Usaha Kami Mencuci Kaus Ternoda
Bersama Gemericik Gledek Cemerlang
5 –Kejatuhan Rona Jiwa yang Meronta-Ronta dalam
Estetika Psikedelis
6 –Endapan Kesalahpahaman Bobroknya Birokrasi
Tato Rusak
7 –Menyongsong Area
Lampu Merah saat Anus Kembali Menyempit per Dua Detik dalam Penasaran Mabrur
8 –Usurlah Partikel
Cakupan Melejitnya Adidaya Kerupuk dan Asam Garam Politik
9 –Semburan Diare
Langsung ke Lidah yang Telah Terpatahkan oleh Teori Usang Tata-Titi Bersepeda
Track demi track saya
putar terus menerus, tetap saja tak ada yang bisa saya tangkap maknanya. Apakah
ini yang namanya komunikasi tanpa makna, yang menghancurkan makna palsu dalam
komunikasi? Akhirnya dengan berat hati dan kondisi kepala pusing, saya putuskan
untuk mendengarkan Wezeer –berbubung Wezzer sebentar lagi akan konser di
Jakarta, pun tak mungkin nonton pula, yang penting mendengarkan untuk
menghilangkan kepenatan Sungsang Lebam Telak.
Mungkin sesuai
dengan namanya, Sungsang Lebam Telak ingin menghancurkan pandangan tentang nilai-nilai
moral yang sudah ada. Mendekonstruksi nilai-nilai yang telah tersusun rapih
dengan super jazz yang dibawakannya. Satu saran saya, janganlah Anda dengarkan
lagu-lagu di atas, cukup baca saja judul lagunya. Anda hanya akan menghabiskan
waktu, quota internet, pikiran,
bahkan sampai persaan saat Anda memutuskan untuk mendengarkan album Sapuan Feses Waria Meledak. Saya pun menuliskan
review ini hanya untuk mendapatkan
uang cebanan, yang entah akan
dibayarkan atau diangga[ sebagai pemotongan hutang yang kian tak tertahan.
Sampai saat ini,
saat sedikit memperbaiki tulisan ini, saya tak tahan mendengarkannya dan memilih
mendengarkan lagu-lagu absurd Zeke Khaseli.
22 December 2012
Tentang Teater, Hidup dan Menulis Kehidupan
Saya adalah orang yang tergabung dalam sebuah kelompok teater, Teater Kinasih. Baru-baru ini, kelompok teater tempat saya tergabung mengadakan sebuah diskusi tentang jurnalisme musik. Ada pro, ada kontra.
Kenapa musik? Karena semua orang suka musik, semua orang menikmati musik, dan semua orang hidup berdampingan dengan musik. Musik juga merupakan elemen penting dalam teater. Menulis tentang musik berarti berusaha untuk mengetahui tentang latar belakang teriptanya musik tersebut.
Bila memutuskan untuk mengundang pembicara yang notabennya adalah seorang teaterawan/ti, tentu yang akan senang adalah kita sepihak, sebagai kelompok teater. Animo masyarakat kampus pun tak akan besar dan akhirnya, hanya kelompok teater tersebut yang bertambah ilmunya. Teater Kinasih mencoba untuk tidak memuaskan diri sendiri.
Ada yang bilang, jika sebuah kelompok teater hanya bergaul dengan sesama orang teater, setiap nonton, nonton teater, mengadakan acara, acara teater, kita hanya akan mendapatkan teknik berteater yang baik dan benar (dan kami tentu sadar bahwa kami belum menguasai teknik itu dengan benar), dan sebagai bonus, kita hafal nama-nama pembesar teater dan dikenal dikalangan orang-orang teater.
Kenapa musik? Karena semua orang suka musik, semua orang menikmati musik, dan semua orang hidup berdampingan dengan musik. Musik juga merupakan elemen penting dalam teater. Menulis tentang musik berarti berusaha untuk mengetahui tentang latar belakang teriptanya musik tersebut.
Bila memutuskan untuk mengundang pembicara yang notabennya adalah seorang teaterawan/ti, tentu yang akan senang adalah kita sepihak, sebagai kelompok teater. Animo masyarakat kampus pun tak akan besar dan akhirnya, hanya kelompok teater tersebut yang bertambah ilmunya. Teater Kinasih mencoba untuk tidak memuaskan diri sendiri.
Ada yang bilang, jika sebuah kelompok teater hanya bergaul dengan sesama orang teater, setiap nonton, nonton teater, mengadakan acara, acara teater, kita hanya akan mendapatkan teknik berteater yang baik dan benar (dan kami tentu sadar bahwa kami belum menguasai teknik itu dengan benar), dan sebagai bonus, kita hafal nama-nama pembesar teater dan dikenal dikalangan orang-orang teater.
Teater Kinasih mencoba untuk tidak terperangkap dalam arti teater yang sempit di atas, yang hanya memikirkan tentang pementasan, aktor, panggung, dll. Kemarin, Kinasih mengadakan sesuatu yang berbeda, "Bincang Musik Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang". Di acara yang diaselenggarakan oleh Teater Kinasih yang bekerja sama dengan webzine lokal Jakartabeat.net, juga tidak serta merta lepas dari pelajaran, yang telah didapatan dari latihan maupun masukan yang diberikan para senior (orang-orang yang lebih dahulu bernaung di Kinasih) yang hadir, tentang bagaimana mengaplikaskan ilmu teater dalam kehidupan, tentang cara membangun relasi dengan mereka yang dibilang awam dalam dunia teater, tentang mengajak masyarakat kampus mengenal Teater Kinasih yang terbuka.
Ada benang merah yang masih berkesinambungan antara teater dan menulis musik. Kalau teater itu adalah ilmu tentang kehidupan, menulis musik juga menulis menulis tentang kehidupan (setidaknya itu yang dikatakan oleh Taufiq Rahman sebagai pembicara). Kita bisa mempelajari dan menuliskan tentang kehidupan sekaligus, melalui proses berteater dan menulis.
Saya pribadi cukup puas dengan terselengaranya acara "Bincang Musik Bersama Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang", dan respon para peserta diskusi pun sama, puas. Semua senang dan mendapatkan sesuatu yang baru untuk dibawa pulang. Jadi, bila anda yang merasa kenal maupun awam dengan teater, mungkin perlu untuk menuliskan kehidupan.
29 August 2011
Rock N Roll di Scene Indie
Mungkin kita sudah tahu apa yang dimaksud dengan musik indie. Indie bukanlah sebuah genre musik, indie adalah sebuah scene musik yang di dalamnya terdapat jenis musik yang beragam. Mungkin kita sudah mengetahui musik-musik di scene indie seperti White Shoes & The Couples Company, Mocca, Efek Rumah Kaca, The S.I.G.I.T, Sore, The Safari, Dagger Stab, Pure Saturday, Goodnight Electric dan masih banyak lagi band dan musisi yang menyuarakan kejujuran dalam bermusik. Meraka menciptakan pasar sendiri yang bertolak belakang dengan “mainstream”. Di scene musik indie genre-genrenya sangat beragam mulai dari pop yang manis, jazz yang individual, rock n’ roll yang ugal-ugalan, punk yang anti publikasi, sampai metal yang terdengar sangat bising.
Keberadaan Rock and Roll di scene musik indie cukup dapat diterima oleh orang-orang yang kupingnya sudah bosan mendengar rengekan dari musik-musik industri. Kita sebut saja The Brandals, band rock n’ roll asal ibukota yang ugal-ugalan. The S.I.G.I.T, yang mungkin tak se ugal-ugalan band-band rock n’ roll yang lainnya tetapi memiliki prestasi yang dapat di pehitungkan. Teenege Death Star, band yang di punggawai oleh manusia-manusia yang sangat berperan di scene indie kota kembang yang seperti “hidup segan mati pun tak mau.”
Band-band tersebut adalah band-band yang sudah memiliki nama di scene indie. Memang untuk menjadi band/musisi ternama di scene indie itu memerlukan perjuangan yang sangat berat. Band/musisi yang memilih indie sebagai scene-nya harus memiliki attitude.
Sebenarnya saya juga kurang paham tentang sejarah rock n’ roll di scene indie, maka dari itu kita ganti topik aja jadi “Rock and Roll Semau Gw” haha! Kalau setahu saya tentang rock n’ roll itu selalu benar. Menurut artikel yang pernah terbaca oleh sang penulis, ada sebuah kata “rock n’ roll tak pernah salah.” Memang istilah ekstrim itu tidak salah. Kita lihat saja “Teenage Death Star,” band yang mempunyai slogan “Skill Is Dead” itu bukanlah band biasa. Sat NB “bassist” yang juga merupakan vokalis dari Pure Saturday itu pernah bermain dengan volume ampli-nya yang sangat kecil karena ia belum bisa bermain bass. Dan kalau melihat aksi panggungnya TDS pasti ada saja kejadian lupa lirik atau lupa kunci. Tapi secara musikalitas Teenage Death Star lebih baik dari The Changcuter. Aksi panggung yang tanpa persiapan seperti itu memang sudah menjadi bagian dari TDS. Walaupun usia para personelnya sudah tak remaja lagi, namun mereka tetap energic dan ugal-ugalan melebihi anak-anak muda yang merasa paling tahu tentang rock n’ roll, yang hanya bermodalkan celana jeans ketat dan baju Ramones-Rolling Stones-Sex Pistols AC/DC, padahal belum pernah mendengar musik rock n’ roll itu sendiri. Ke-ugal-ugalan di atas panggung itulah yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik TDS bagi anak muda untuk meneriakan kata “Skill Is Dead.”
Mungkin dari masalah di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sampai saa ini istilah “rock n’ roll tak pernah salah” itu masih dihargai.
Subscribe to:
Posts (Atom)







