Pages

Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

20 April 2016

Perwakilan Penambak Udang Datangi Komnas HAM



Perwakilan penambak udang Desa Bratasena Mandiri dan Adiwarna, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, mendatangi kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Senin (18/4). Para penambak ini mengaku telah diperlakukan tidak adil dalam kemitraan bersama PT Central Pertiwi Bahari (CPB).

13 July 2015

Kopi


Saya menganggap kopi hanya sebagai teman bicara. Sungguh hanya teman bicara. Kalaupun diganti dengan susu atau teh, tak ada masalah.

Bagi saya kopi memang tak ada yang istimewa. Belum ada, lebih tepatnya. Sampai saat, semalam saya berkunjung ke sebuah kedai kopi kecil milik kenalan saya, Mirza Jaka Suryana.

25 July 2014

Aku, Kamu, Pram dan Mario

copyright by bowo bagus*
“Aku suka ucapannya,” katanya pagi itu.

“Mengapa kamu masih saja mendengarnya sih? Berapa banyak orang-orang sabar yang akhirnya tak bisa merdeka? Manusia adalah makhluk berbudaya. Ia berdialektika, menggabungkan antara tesis dengan antitesis sehingga menjadi sintesis. Begitu seterusnya. Hal itu tidak mengalir begitu saja. Tesis adalah kebiasaan. Antitesis lahir dari perlawanan. Kita tak bisa selallu mendengar. Harus melawan agar sintesis baru lekas ditemukan,” bantahku kepadanya.

Ia diam dalam waktu yang lama. Cukup lama hingga tak ada kabar berita, sampai aku merasa menang dalam satu pernyataan sekaligus pertanyaan. Memenangkan sebuah pertarungan psikologis antara aku dan dia.

17 July 2014

Romantisme Mario Teguh dan Kepahitan Itu

Ilustrasi cover roman Bumi Manusia

Ah, mengapa engkau masih juga mengutip Mario Teguh, sayangku? Aku tahu kau sedang butuh pegangan hidup. Namun, ah, mengapa harus Mario Teguh, sayang?

Sudikah kau mendengarku bercerita tentang Minke. Tahu kau Minke? Aku ragu kau mengenalnya. Minke hidup dalam khayalan Pram. Apa? Kau juga tak kenal Pram? Pramoedya Ananta Toer?

Mungkin agak panjang untuk diceritakan. Tapi untukmu, apapun akan kulakukan, sayangku.

25 June 2014

Matilah Segala yang Kau Ketahui!

Dok. Teater Kinasih (Rohro)
“Aku ingin bicara,” ucap Gerbong 4.

“Jangan!’” tahan Gerbong 1.

“Aku tetap inging bicara.”

“JANGAN!!” Gerbong 1 marah sambil membungkam mulutnya sendiri, sementara Gerbong 2 menutup matanya dan Gebong 3 menutup kupingnya.

Keempat tokoh itu saling beragumen antara ingin melanjutkan perkataannya atau tidak. Sampai akhirnya mereka berempat berbicara dengan suara yang tidak jelas, lalu semuanya tertawa dan perlahan keadaan mulai hening.

18 February 2013

Narkoba, Artis, dan Petani



Baru-baru ini, media heboh memberitakan tertangkapnya beberapa artis kondang dan teman-temannya yang sedang pesta narkoba di kediaman Raffi Ahmad. Tentu saja, perhatian masyarakat terpengaruh oleh beberapa headline media massa untuk mengikuti perkembangan kasus tersebut dan menenggelamkan kasus Rasyid Rajasa yang belum jelas perkembangannya. Dari mulai proses pengintaian BNN, sampai dengan barang label tersangka yang kemudian diberikan kepada Raffi Ahmad dengan seksama diberitakan media-media besar.

Rasa kecewa muncul di masyarakat ketika mengetahui bahwa proses pengintaian terhadap Raffi Ahmad sudah dilakukan berbulan-bulan namun hanya menghasilkan barang bukti berupa dua linting ganja, dan beberapa narkoba lainnya. Banyak media yang membesar-besarkan beritanya, seakan-akan menampilkan pihak BNN sebagai pahlawan. Bila hanya dua linting ganja, setiap hari pun ada saja orang yang kedapatan transaksi dan memakai narkoba oleh polisi, dan beritanya hilang ditelan isu-isu lain seputar selibriti, yang menandakan masyarakat kita senang dijejali dengan kasus infotainment.

Namun, terlepas dari segala perspektif, penangkapan terhadap Raffi Ahmad dan taman-temannya membuktikan bahwa hukum yang terkait dengan narkoba terbilang sedikit tegas.

BNN sempat kebingungan untuk menentukan pasal yang akan dikenakan kepada tersangka. Pasalnya, barang bukti yang ditemukan merupakan dua linting ganja, ekstasi dan sebuah narkoba jenis baru yang undang-undangnya belum diatur. Narkoba jenis baru ini diketahui benama Methylone yang diduga turunan dari tanaman Cathynone atau Khat. Namun, Methylone  yang ada di tubuh Raffi belum diketahui bahan dasar sebenarnya. Dan, yang menarik adalah narkoba jenis baru ini yang ternyata ditanam dengan bebas di daerah Puncak, Jawa Barat.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Sumirat Dwiyanto, Khat menimbulkan efek jangka pendek mempercepat denyut jantung dan menjadikan mata tetap segar. Warga sekitar Puncak biasa menggunakan Khat untuk menambah stamina. Kurangnya informasi tentang pelarangan narkoba jenis baru ini pun membuat warga Puncak menanamnya dengan bebas.

Kekurangan informasi dari BNN ini menimbulkan efek yang cukup signifikan kepada warga yang sudah terlanjur mencari nafkah dari tamana Khat. Pihak polisi dan BNN menutup ladang mereka dengan garis polisi yang secara otomatis mematikan mata pencaharian mereka. Alih-alih memberikan ganti rugi atau pekerjaan bagi para penanam Khat, BNN malah mengancam mempidanakan para petani yang masih nekat menanam Khat.

05 November 2012

Menulis Hanya Menjadi Beban




Menulis, seperti halnya bermain dan belajar, adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan oleh manusia modern. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi menulis adalah membuat huruf (angka dsb); 2 melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; 3 menggambar; melukis; 4 membatik (kain). Hampir setiap orang dapat menulis dengan bebas dan tentu disertai dengan tanggung jawab.

Orang-orang biasa menulis untuk mencurahkan perasaan, pemikiran, persepsi dan banyak hal lain yang perlu dituangkan melalui rangkaian diksi yang asyik. Ketika seorang penulis telah menyelesaikan tulisannya, ia akan merasa senang. Menulis menjadi sebuah permainan –yang tentu tidak paksaan dari pihak manapun- yang mengasyikkan. Ini tentu menjadi motivasi tersendiri bagi sang penulis. Dalam situasi seperti ini, menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi seorang penulis, layaknya seseorang yang sedang menikmati sebuah permainan.

Dengan menikmati menulis, sadar atau tidak, seorang penulis akan melahirkan tulisan-tulisan yang berisi pemahaman dan pemikirannya. Tulisan yang dihasilkan akan memiliki makna yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi orang-orang yang membacanya. Dan, ketika para pembacanya tidak sepaham dengan makna dan pemahaman sang penulis, maka pembacanya itu akan  mengkritisi atau memberikan komentar tentang isi dari tulisan tersebut. Seperti proses untuk melahirkan sintesis, yang dimulai dari sebuah tesis, hadirnya kritikkan berupa anti-tesis dan akhirnya menjadi sebuah sintesis. Tentu hal ini akan melahirkan ide-ide baru dan segar, baik untuk pembaca maupun penulisnya.

Namun, menulis hanya akan menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi seorang penulis ketika mengerjakannya dengan perasaan terpaksa. Orang-orang yang menulis karena sebuah paksaan, secara tidak langsung jiwanya akan tertekan. Ketika jiwa telah tertekan, tulisan yang dikerjakannya pun cenderung akan menjadi kosong, tanpa adanya makna atau pesan yang kuat di dalamnya. Proses pemikiran dalam tulisan itu menjadi tersendat. Besar kemungkinan dalam tulisan yang dikerjakan secara terpakasa, nilai-nilai edukasi yang bersifat kritis dan informasi dari tulisan itu menjadi kabur dan menghilang. Tulisan tersebut hanya akan memenuhi kewajiban sang penulis dari tugasnya, that’s all.

Sebuah tulisan menjadi berguna atau tidak, tergantung pada niat seorang penulis dalam membuat tulisannya. Ketika seorang penulis belum bisa untuk membuat tulisannya berguna, ia masih dapat belajar dengan tekun untuk dapat membuat tulisannya menjadi berguna. Tentu, dengan referensi dari berbagai macam bahan bacaan dan keikhlasan untuk menerima saran dari para pembacanya. Tapi, apabila seorang penulis sudah tak memiliki niat, jangankan untuk tulisannya menjadi berguna bagi pembaca, untuk menyelesaikan tulisannya saja akan menjadi sulit.

Ketika untuk manusia modern menulis telah menjadi fashion, sangat disayangkan bila masih banyak tulisan yang lahir dari sebuah tuntutan. Menulis hanya sekedar menjadi fashion. Dan, hanya apresiasi semu belaka dari para pembaca yang akan didapatkan untuk penulisnya, yang sudah capek-capek membuatnya.

Kegiatan menulis hanya untuk mendapatkan apresiasi memang sangat mudah untuk dilakukan. Kegiatan menulis menjadi sulit ketika dalam tulisan tersebut ada sesuatu yang jujur dan memiliki makna yang jelas, serta dapat memberi efek pada kehidupan sosial –paling tidak kepada orang yang membacaya.

Menulis, dengan kejujuran dan pemahaman yang kuat, tentu akan menyenangkan sekaligus mencerdaskan.

18 July 2012

Mencari Oase Di Padang Gersang

Rakyat Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan yang berkepanjangan. Krisis kepercayaan ini tidak datang secara tiba-tiba. Ini adalah akibat kepercayaan yang diberikan oleh rakyak tidak digunakan dengan baik. Sejak reformasi terjadi pada tahun 1998 seluruh aktivitas politik dapat dilakukan secara bebas dan terbuka. Namun, kebebasan telah membuat kita semakin tidak terarah seperti kehilangan pegangan.

Saat ini bangsa kita tidak memiliki sosok peminpin yang dapat dijadikan teladan oleh rakyatnya. Mereka hanya bisa menghamburkan uang tanpa memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Sementara, rakyat Indonesia semakin apatis bila berbicara tentang nasionalisme. Sikap ini disebabkan oleh para elite politik yang hanya mengandalkan slogan-slogan omong kosong, namun tidak pernah bergerak secara nyata.

Seperti contohnya salah satu calon gubernur (cagub) Jakarta, yang sedang melakukan kampanye pemilukada, memiliki slogan yang berbunyi ‘Ayo Beresin Jakarta’ namun pada kenyataannya pamflet dan poster wajah mereka banyak yang merusak estetika ruang publik kota Jakarta secara vandal. Kampanye para cagub yang ingin memimpin Jakarta dengan cara-cara yang merusak, apakah pantas mengajukan diri sebagai pemimpin?

Bila dilihat dari efisiensi biaya, jelas dana kampanye adalah hal yang sangat tidak penting. Sikap seperti itu hanya dilakukan oleh manusia-manusia hedon yang bisanya hanya menghambur-hamburkan uang tanpa ada sesuatu yang berguna. Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membuat poster-poster dan kaos-kaos bertuliskan slogan-slogan omong kosong para cagub? Bayangkan bila uang tersebut dialihkan untuk keperluan masyarakat tidak mampu, mungkin beberapa dari mereka bisa tertolong.

Rakyat  sudah muak dengan kata-kata indah para elite politik yang semakin lama bagaikan seorang penyair –mungkin jauh lebih mulia seorang penyair karena mereka merangkai kata-kata dengan kejujuran- namun hanya manis saat kampanye berlangsung. Rakyat perlu sosok yang dapat menjadi penyalur aspirasinya, sosok yang kehadirannya bagaikan oase di tengah padang gersang. Sosok pemimpin yang tegas, adil dan berbudaya sepertinya sudah cukup untuk membangun bangsa Indonesia yang semakin lama semakin kehilangan jati dirinya sendiri. Namun, di saat seperti ini kita, sebagai bagiain dari rakyat Indonesia, tidak bisa berdiam diri menunggu kedatangan sosok yang diimpikan tersebut. Akan lebuh baik bila kita dapat menjadi teladan bagi diri kita sendiri dan juga bagi lingkungan sehingga tercipta masyarakat yang memiliki rasa bangga akan Indonesia.

02 July 2012

Opini Mahasiswa Mengenai Pancasila


Menurut gue Pancasila itu adalah filosofi bagikehidupan bangsa, negara, peraturan, dan segala perilaku rakyatnya. karena disini, pancasila menjamin tentang keadilan bagi seluruh warga negaranya sebagaimana tertera dalam sila ke-5. sehingga pancasila harus dipertahankan untuk menjadikan Indonesia ini bangsa yang utuh dan makmur,Floria Zulvi, Jurnalistik 2011, IISIP Jakarta

Rangkuman berbagai ideologi yang seharusnya dijalani oleh bangsa Indonesia supaya hidupnya aman, tentram, dan bahagia,Sherly Peniman, Jurnalistik 2011, IISIP Jakarta

Pancasila itu asas negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang sudah terkandung sebelumnya. Bisa ditinjau dari sila satu sampai lima, yang isinya sudah jelas terlaksana sebelum Pancasila sendiri dibentuk dan disahkan oleh BPUPKI. Banyak warga berpendapat bahwasannya pancasila itu adalah ideologi bangsa Indonesia. Pancasila itu bukanlah ideologi melainkan nilai-nilai yang sudah terkandung dan tadi gue jabarkan. Memang sangatlah berkaitan antara ideologi dan pancasila itu sendiri. Karena ideologi merupakan olahan dan hasil pemikiran dari manusia. Sedangkan pancasila itu bukanlah saja olahan dan hasil pemikiran manusia. Dan pancasila sekarang sebenarnya sudah kurang tercermin di masyarakat pada umumnya karena di dalam sila-sila yang tersusun kurang begitu dipahami oleh masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Indonesia zaman dahulu menganut paham pancasilais. Indonesia sekarang menganut paham pluralisme. Bisa dibuktikan dari sila satu,Khalied Malvino, Jurnalistik 2011, IISIP Jakarta

Opini gue Pancasila ya lambang ideologi tentang kemerdekaan Indonesia dan dibuatlah Pancasila agar rakyat Indonesia mengenang para pahlawan Indonesia yang berjuang memperebutkan kemerdekaan dari bangsa penjajah,Djodi Setiawan, Hubungan Masyarakat 2011, IISIP Jakarta

Pancasila adalah salah satu dasar negara untuk mencapai kemakmuran bagi penduduk Indonesia maupun bangsa lain agar tidak ada lagi perpecahan atau perselisihan,Andri Pirdaus, Manajemen Komunikasi 2011, IISIP Jakarta

Pancasila adalah dasar negara atau ideologi yang bertujuan sebagai pandanagan setiap bangsa Indonesia Dan pemersatu bangsa dan negara Indonesia,” Angga Prasetyo, Hubungan Masyarakat 2011, IISIP Jakarta

Pancasila merupakan ideologi suatu negara khususnya Indonesia. Pancasila sebagai ideologi dijadikan sebagai dasar bagi seluruh warga negara Indonesia. Jadi, diharapkan pada kenyataannya Pancasila itu bisa dterapkan secara benar dan bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,Santi Putri Fitriyani, Teknik Arsitektur dan Perencanaan 2010, UGM

Pancasila adalah landasan negara, sama seperti Al-Quran, yang dapat mendaji panduan,Nursalim, Broadcast 2010, BSI

Pancasila itu landasan dasar dari negara Indonesia. Pancasila sebagai pedoman dan sifatnya sangat mendasar (fundamental),Nanda Dwi Rusmiyanti, 2010-Administrasi Bisnis, UI

Pancasila adalah prinsip yang dibuat orang-orang ajaib, untuk menciptakan hal ajaib, dan sedang mengalami pendinginan di Republik yang semakin membuktikan bahwa itu hanya untuk Republik mimpi! Alika Khanza, Jurnalistik 2011, IISIP Jakarta

Menurut gue Pancasila itu corak khas/kepribadian kita. Ia adalah sesuatu yang merangkul semua kebudayaan yang ada,Senja Ayudia, Manajemen Komunikasi 2010, IISIP Jakarta

Pancasila adalah dasar dasar negara, landasan/hukum yang digunakan sebagan acuan dari keseluruan hukum yang berlaku di Indonesia,Muhammad Irsyad, Teknik Grafika dan Penerbitan 2010, Politeknik Negeri Jakarta

Pancasila itu ya menurut gua dasar negara Indonesia,Bathara Anwar, Jurnalistik 2011, IISIP Jakarta

Pancasila? Ya.. Falsafah hidup warga negara Indonesia,Mutiara Safitri, Multimedia 2011, Politeknik Media Kreatif

Pancasila adalah dasar negara republik Indonesia dan juga sebagai falsafah hidup dalam berbangsa dan bernegara baik dalam membangun dan mengembangkan bangsa dalam pergaulan internasional. Tapi kini seiriing berjalannya waktu, nilai Pancasila mulai pudar terbawa arus perubahan dan globalisasi di mana dalam setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sudah tidak atau kurang berlandandaskan Pancasila,Amarilis Nurdita Pawestri, Gizi 2010, Uhamka

Sebuah ideologi pastinya, hahaha.. Pancasila adalah ideologi bangsa indonesia, yang mengatur jalannya pemerintahan di Indonesia,Indah Lestari, DKV 2011, Unindra

Seharusnya sih Pancasila itu dasar negara yang berarti Indonesia harus berdiri di atas dasar dasar tersebut. Namun pada kenyataannya banyak yang disalah gunakan, bahkan juga banyak yang dilupakan, sekarang Pancasila hanya sebagai formalitas dasar negara, sekarang hanya beberapa orang yang benar benar mengerti makna dari pancasila tersebut,Dyah Kusuma, Teknik Grafika dan Penerbitan 2011, Politeknik Negeri Jakarta

Menurut gue di jaman yang sekarang Pancasila cuma pajangan yang ada di depan kelas gak ada gunanya sama sekali. Sekarang udah pada lupa tentang apa sebenernya itu pancasila dan fungsinya yg sebenernya,Ayu Rizky, Teknik Gigi 2010, Politeknik Negeri Kesehatan

Pancasila adalah ideologi yang hanya dimiliki bangsa Indonesia, sesuatu yang amat berharga karena tak dimiliki negara lain. Seharusnya kita bangga dengan itu,namun generasi muda sekarang sudah banyak yang tak peduli, Heri Susanto, Jurnalistik 2011, IISIP Jakarta

Ideologi bangsa, Pancasila, udah jarang berkumandang jadi sebagian masyarakat udah lupa sama lima dasar ideologi negara itu,Dwinita Puspitasari, Teknologi Informatika 2010, Universitas Gunadarma

Pancasila kan dasar negara, dasar hukum, cerminan bangsa, sama falsafah masyarakat Indonesia, ya harusnya dijaga terus. Ya, bener-bener dimaknai artinya, gak cuma heboh digembor-gemborin pas hari lahirnya pancaila,Dewi Susanti, Teknik Telekomunikasi 2010, Politeknik Negeri Jakarta


Sebenernya ideologi Pancasila tuh terlalu idealis, kurang cocok buat diaplikasikan pada masyarakat Indonesia, contohnya aja sila pertama. Kalo kata gue sih, seharusnya bukan ketuhanan yang maha esa, tapi kebebasan berkeyakinan dan beragama. Gak semua masyarakat Indonesia tau kan tentang bahasa sanskerta, mereka taunya esa itu satu. Jad lebih baik pake bahasa yang umum aja biar semua masyarakat bisa nyerna,Khaulah Fauzia Hasan, Psikologi 2011, Universutas Gunadarma 


Pancasila itu dasar negara yang dijadiin landasan negara itu berdiri. Pancasila juga dijadiin pencerminan sebuah bangsa bangsa, Indonnesia maksudnya! Tapi, kayaknya Pancasila cuma dijadiin pajangan doang sama ini negara. Yaa, menurut gw ya.. abis udah banyak yang kagak dilaksanin keyak sila ke-4, yang didengerin cuma pendapat orang berduit aja kan? Yaa.. istilahnya gak dijalanin,Yvonne Marchelyn Yulius, Pendidikan Matematika 2010, Universitas Islam Riau



Menurut gue sih Pancasila harus lebih diperjelas lagi. Kayak sila pertama, ketuhanan yang maha esa, itu gak jelas maksudnya. mungkin kalo yang makan sekolah sih kenal, tapi kalo yang gak sekolah, ya.. gak ngerti dia,Sunarti, Keperawatan 2010, Akademi Keperawatan Pasar Rebo

21 June 2012

Nasib Mayat yang Berlabuh di RSCM

Jakarta, 12 Juni 2012-Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) adalah salah satu pusat rumah sakit di Jakarta. Biasanya, korban dari suatu kejadian atau peristiwa di Jakarta langsung dibawa ke RSCM. Mayat-mayat yang ditemukan oleh polisi atau siapa saja dilarikan ke RSCM untuk ditindaklanjuti atau diotopsi.

Menurut dr. Djaja S Atmadja, dokter forensik RSCM, tidak semua mayat yang ada di kamar mayat RSCM dapat diotopsi, otopsi hanya bisa dilakukan bila ada permintaan dari pihak kepolisian.  Jadi mayat-mayat yang tidak jelas identitasnya dan kasusnya akan dikuburkan secara masal, pungkas dr. Djaja.

“Mayat yang tidak ada identitasnya akan disimpan di kamar mayat dengan tenggang waktu tida hari, jika tidak ada yang mencarinya maka mayat itu akan dikuburkan dengan cara Islam,” jelas Dedi, salah satu penjaga kamar mayat RSCM saat ditemui Rabu (23/5/2012). Pun ada orang yang mengenali mayat tak beridentitas, harus ada surat dari pihak kepolisian untuk membawa pulang mayat tersebut, lanjut Dedi. “Rata-rata mayat yang masuk ke RSCM memang mayat yang tidak ada identitasnya,” tutup Dedi.



12 June 2012

Hilangnya Kebudayaan dalam Sistem Pendidikan

Mei merupakan bulan yang identik dengan pendidikan. Karena setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hari Pendidikan Ini diambil dari hari lahir Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau lebih akrab dengan nama Ki Hajar Dewantara pada tanggal 2 Mei 1889 yang merupakan pahlawan pendidikan Indonesia.

Dahulu, Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, bersusah payah untuk membangun sistem pendidikan Indonesia yang sesuai dengan budaya dan karakteristik bangsa. Maka, lahirlah Taman Siswa pada 3 Juli 1922 sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat. Ki Hajar Dewantara berharap dapat menciptakan generasi muda yang dapat bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsanya. Sampai pada saatnya, Bapak Pendidikan Nasional bersama Taman Siswanya berhasil mengantarkan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan.

Namun, keadaan saat ini telah berubah. Pedidikan bukan menjadi lagi sesuatu yang menolong bangsanya, tapi pendidikan digunakan untuk memperkaya diri sendiri tanpa memikirkan bangsanya. Jelas, sistem pendidikan saat ini sangat berbanding terbalik dengan ekspetasi para pendiri bangsa. Ini merupakan akibat dari pendidikan yang hanya menekankan pada sisi intelektual saja. Padahal, Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan, bahwa pendidikan yang hanya menekankan aspek intelektual akan menjauhkan para peserta didik oleh masyarakat. Dari sisi psikologis, pendidikan saat ini hanya mementingkan cipta yang mengakibatkan kekosongan pada rasa dan karsa. Pendidikan yang dipengaruhi oleh unsur-unsur cipta, rasa, dan karsa memang sangat penting. Karena jika cipta, rasa, dan karsa iru menjadi satu, maka ketika itu pula hati, pikiran, roh, tubuh, dan lingkungan akan menjadi satu keseimbangan dalam diri manusia.

Pedidikan dan budaya adalah syarat mutlak bagi sebuah bangsa untuk dapat bertahan dalam mengarungi samudra. Pendidikan dan budaya memiliki andil yang sangat besar dalam upaya menjadikan Negara Republik Kesatuan Indonesia benjadi sebuah bangsa yang utuh dan dipandang oleh dunia. Namun, secara perlahan tapi pasti bangsa ini mulai terbuai dengan kemerdekaan. Pendidikan berubah menjadi syarat untuk mencari makan, sedangkan budaya hanya tinggal kenangan yang diabadikan dalam gudang.

Merupakan hal yang wajar, jika sampai saat ini korupsi merajalela di bangsa ini dan nilai-nilai agama dirusak oleh kekerasan. Hilangnya unsur unsur budaya Indonesia dari dunia pendidikan sumber dari segala kebobrokkan yang dialami oleh bangsa ini. Pendidikan saat ini telah meningggalkan karakter bangsa yang sesungguhnya. Karakter bangsa yang ramah, telah berubah menjadi apatis. Bangsa yang terkenal dengan ke-bhineka-annya, sudah menjelma menjadi perusak atas nama perbedaan.

Pemerintah harus berupaya untuk mengembalikan karakter bangsa sesuai dengan kodratnya. Banngsa yang terkenal dengan keramahannya dan menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Untuk merubah kondisi bangsa yang sudah seperti ini memang bukanlah proses yang mudah. Namun, jika pelaksanaan pendidikan karakter tidak juga terlaksana, maka harus menunggu sampai kapan lagi untuk melihat bangsa ini merdeka seutuhnya?

Menantikan Lahirnya Partai Penyalur Aspirasi Rakyat

Demokrasi adalah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rayat. Demokrasi merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan bangsa. Namun pada kenyataannya, demokrasi telah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Filosofi demokrasi yang tadinya dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat telah berubah menjadi dari rakyat, oleh rakyat, untuk partai politik.

Masyarakat di saat-saat seperti sekarang ini seakan tidak dibutuhkan perannya oleh para elite politik. Oleh karena itu kepentingan rakyat sering terabaikan oleh para wakil rakyat di Senayan. Mereka lebih mengutamakan urusan partai politik yang telah membesarkan namanya dari pada membela rakyat yang menggajinya setiap bulan. Ini terbukti pada saat pembahasan UU Pemilu, para anggota dewan lebih mengutamakan kepentingan partainya masing-masing agar dapat keistimewaan khusus kepada partai-partai di parlemen dapat mengikuti pemilu 2014 tanpa harus melalui proses verifikasi terlebih dahulu. Sedangkan mengenai bentuk pemilu yang ideal tidak banyak yang dijelaskan kepada masyarakat.

Kepentingan rakyat telah disepelekan oleh orang yang mengaku dirinya “wakil rakyat”. Rakyat hanya diberi harapan, mungkin dengan sedikit sogokan, saat pemilu berlangsung untuk memberikan suaranya. Setelah pemilu usai, para elite politik seakan lupa oleh janji-janjinya pada saat kampanye. Mereka tidak lagi mengurusi rakyat, tetapi mengurusi bagaimana caranya agar partai politiknya masih dapat ikut pemilu pada masa selanjutnya.

Partai politik pada dasarnya adalah tempat untuk menyalurkan aspirasi politik rakyat. Namun, dalam perkembangannya, rakyat yang ingin menyuarakan aspirasi politiknya harus berhadapan dengan idealisme partai politik tersebut. Rakyat yang telah masuk dalam sebuah partai politik mau tidak mau harus mendahulukan kepentingan partai politiknya daripada kepentingan masyaraat luas. Dengan kata lain, orang baik yang sudah masuk ke dalam lingkaran partai politik, akan sangat sulit untuk tetap bertahan menjadi orang baik.

Masyarakat saat ini telah muak oleh sandiwara-sandiwara yang dilakukan oleh para elite politik. Jadi, jangan salahkan masyarakat bila pada pemilu 2014 nanti suara yang golput akan semakin banyak. Masyarakat lebih memilih menjadi golput daripada harus memilih dengan terpaksa para oportunis yang ada dalam partai politik. Masyarakat memimpikan lahirnya partai politik yang benar-benar dapat menyalurkan aspirasinya.

25 April 2012

Masih Adakah Cinta di Antara Kita?

Siapa yang tidak tahu Front Pembela Islam (FPI)? Organisasi massa yang dipimpin oleh Habib Rizieq ini memang disegani sebagian kalangan masyarakat. FPI memang terkenal dengan kekerasan dalam setiap melakukan aksinya, bahkan lebih buas dari Satpol PP yang sedang mengusir pedagang kaki lima atau menggusur rumah warga.

Terakhir, Kantor Kementrian Dalam Negeri yang menjadi sasaran para anggota FPI. Bertepatan dengan Hari Valentin yang dikenal sebagai Hari Kasih Sayang, Selasa, 14 Februari 2012, ratusan massa yang berasal dari berbagai elemen masyarakat melakukan aksi damai bertajuk “Indonesia Tanpa FPI” di Bundaran Hotel Indonesia.

Aksi damai ini terinspirasi dari demo ratusan warga Dayak yang menolak kedatangan FPI di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Masyarakat Dayak menolak FPI masuk ke wilayahnya karena tidak ingin kehidupannya yang tenang dirusak oleh kehadiran FPI yang terkenal sebagai perusak.

Aksi “Indonesia Tanpa FPI” adalah bentuk kekecewaan masyarakat terhadap lemahnya keadilan di negeri ini. Kekecewaan kepada pemerintah yang selalu menutup mata dari apa yang dilakukan oleh mereka yang mengatasnamakan agama untuk melakukan kerusakan. Kekecewaan kepada pemerintah yang tidak bisa menjamin hak-hak kaum minoritas untuk beribadah.

Bila kita lihat ke sumber permasalahan, apa yang dilakukan FPI adalah untuk menegakkan syariat Islam dalam kehidupan seluruh masyarakat Indonesia.Tapi ingat, Indonesia bukanlah negara Islam. Indonesia adalah Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Setiap rakyat Indonesia memiliki hak untuk memiliki keyakinannya masing-masing. Rasa saling menghargai inilah yang selama ini membuat Indonesia tetap bersatu dalam keberagaman.

Namun, rasa itu perlahan mulai hilang dan kekerasan atas nama Tuhan semakin merajalela. Apakah agama kita mengajarkan kekerasan? Agama bukanlah alat perusak, agama tercipta untuk menebar cinta dan kedamaian. Dalam ajaran Islam sendiri kita mengenal Hablumminallah dan Hablumminannas. Hablumminallah adalah usaha untuk menjaga hubungankita dengan Tuhan agar selalu harmonis.

Hablumminanass adalah hubungan dengan manusia lain agar kita selalu berbuat baik dalam hidup bermasyarakat. Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa keyakinan manusia kepada Tuhan adalah urusan yang sangat pribadi dan setiap orang memiliki cara masingmasing untuk dekat dengan Tuhan.

Mungkin ini saatnya menyingkirkan manusia-manusia yang mengaku beragama, namun tidak bisa memanusiakan manusia lainnya. Sekarang saatnya untuk kembali menebar cinta. Kita harus tetap bersatu dalam perbedaan yang ada karena perbedaan itu akan membuat kita saling melengkapi satu sama lain. Mencintai Indonesia berarti mencintai juga perbedaan yang ada di antara kita.● 

BAYU ADJI P Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta, 
Aktif di UKM Teater Kinasih 
Suara Mahawiswa Harian Seputar Indonesia
Tuesday, 21 February 2012

Mari Hargai Karya Anak Bangsa

Akhir-akhir ini sejumlah media nasional mengangkat berita tentang Wali Kota Solo Joko Widodo yang dengan berani menjadikan mobil yang diproduksi oleh beberapa siswa SMK di Solo yang bekerja sama dengan Kiat Motor sebagai mobil dinasnya.

Tentu langkah tersebut mendapat perhatiandarimasyarakatluas, termasukparaelite politik yang berbondong-bondong ingin membeli mobil tersebut. Inilah Indonesia, yang satu memiliki, yang lain pun ingin memiliki.Satu korupsi,semua korupsi. Namun, mobil buatan para siswa SMK ini atau yang lebih dikenal dengan mobil Esemka patut diapresiasi,mungkin tidak cukup hanya dengan apresiasi melainkan harus dikembangkan sehingga mobil Esemka dapat unjuk gigi dalam persaingan industri mobil di Indonesia, karena selama ini Indonesia merupakan target para produsen mobil dari luar negeri.

Ini merupakan langkah awal untuk membangkitkan industri dalam negeri.Pemerintah harus dapat berperan aktif dalam mengembangkan produk industri nasional agar dapat mengubah pola pikir masyarakat kita yang selalu menganggap bahwa produk luar selalu lebih baik. Bila dilihat dari kualitas sumber daya manusia,Indonesia tidak kalah dengan negara-negara maju.Banyak warga Indonesia yang cerdas memilih untuk berkarya di luar negeri.

Salah satunya adalah Prof Nelson Tansu PhD yang dikenal sebagai pakar teknologi nano yang merupakan kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa depan, lebih memilih untuk melanjutkan risetnya di Amerika. Bukan karena tidak cinta Indonesia, tetapi bila ia tetap di Indonesia maka kecerdasannya tidak digunakan dengan maksimal. Hal ini seharusnya tidak terjadi kalau pemerintah peka dan masyarakat mau mengapresiasi terhadap apa yang dimiliki oleh bangsa ini.

Dengan kehadiran mobil Esemka ini harus dimanfaatkan sebagai momentum bagi para pegiat industri dalam negeri, dari berbagai sektor maupun para pelaku industri kreatif untuk membuktikan bahwa karya anak negeri tidak kalah dengan produk buatan luar. Ini semua tidak akan berjalan dengan baik tanpa apresiasi dari masyarakat Indonesia. Masyarakat adalah pasar yang akan pertama dituju oleh industri dalam negeri.

Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harusnya bangga dengan menggunakan produk dalam negeri. Jangan sampai orang-orang seperti Prof Nelson Tansu pergi lagi dari bangsa ini karena tidak dihargai oleh bangsanya sendiri.Apakah selamanya kita akan terus menjadi negara pemakai?

BAYU ADJI P 
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta 
Suara Mahawiswa Harian Seputar Indonesia
Tuesday, 10 January 2012

Indonesia yang Sehat dan Bermartabat

Tahun 2012 sudah di depan mata.Semua orang, dari rakyat sampai pejabat, tentu mengharapkan Indonesia yang lebih baik pada 2012. 

Semua bermimpi untuk menjadikan Indonesia sesuai dengan yang diharapkan para pendiri bangsa kita.Tak apa hanya mimpi karena dari mimpi itu akan menjadi inspirasi membangun Indonesia. Ya,Indonesia yang sehat,Indonesia yang bersih dari korupsi serta memiliki nilai budaya yang tinggi. Ini merupakan tantangan yang besar untuk kembali menjadikan Indonesia sebagai “Macan Asia”.

Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Mulai dari pemberantasan kasus-kasus korupsi yang sudah menjadi tradisi sampai pada mengatasi budaya kekerasan yang mulai muncul ke permukaan. Dalam masalah pemberantasan korupsi, aparat penegak hukum harus secara serius menuntaskan segala kasus yang ada tanpa pandang bulu.Kami sudah muak dengan kasus-kasus yang terkesan ditutupi dan tidak jelas di mana akhirnya. Semoga tertangkapnya Nunun Nurbaeti dan terbongkarnya kasus ini menjadi momentum untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada penegak hukum yang kian lemah.

Tentu saja hal tersebut harus didukung rekan-rekan media agar dapat menyajikan berita secara aktual dan faktual supaya masyarakat juga dapat mengawasi segala perkembangan yang terjadi. Di sisi lain, kekerasan terus terjadi dan mulai muncul ke permukaan.Belum selesai konflik di Papua,datang lagi kabar dari Mesuji yang sangat tragis dan seakan tidak cukup masih ditambah lagi kabar menyedihkan dari Sape, Bima, NTB. Indonesia, yang masyarakatnya terkenal ramah dan penuh sopan santun,kini telah menjadi buas.

Sebenarnya apa yang menyebabkan Indonesia menjadi buas seperti ini? Tentu tidak akan ada api kalau tidak ada asap.Ada kesamaan pada kasus yang terjadi di Papua dengan kasus Mesuji, yaitu para pemilik perusahaan yang notabene orang asing, samasama mengeruk kekayaan alam yang ada di bumi pertiwi dan keuntungan yang seharusnya diberikan kepada warga sekitarnya. Dari kasus-kasus tersebut seharusnya pemerintah lebih memilahmilah para investor asing yang ingin menanamkan modal di Indonesia agar kasus tersebut tidak terulang. Inilah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang sehat dan juga menjunjung tinggi kebudayaan.

Tantangan harus kita hadapi bersama. Dengan kerja keras dan keinginan untuk terus maju, tentu saja bukan hal yang mustahil untuk Indonesia menjelma dan menjadi “Macan Asia”.Semoga di tahun 2012,Indonesia dapat “merdeka”di negeri sendiri.●

BAYU ADJI P 
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta 
Suara Mahasiswa Harian Seputar Indonesia
Monday, 26 December 2011

19 December 2011

Mengembalikan Kejayaan Indonesia

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Mulai dari kekayaan alam yang berlimpah hingga beragam budaya ada di bumi pertiwi kita ini. Pada lirik lagu kolam susu yang dipopulerkan oleh Koes Plus, digambarkan betapa kayanya tanah air kita ini, “bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala untuk menghidupimu”. Lagu tersebut secara jujur menceritakan keindahan alam Indonesia dan betapa mudahnya untuk mencari makan. Memang itulah gambaran tentang Indonesia pada tahun 1970-an. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Alih-alih dapat hidup serba cukup, namun yang kita lihat masih banyak rakyat yang harus hidup dengan mengandalkan belas kasihan orang lain.

Ini merupakan bukti nyata bahwa ketersediaan sumber daya alam yang melimpah di suatu negara tidak menjamin negara tersebut menjadi maju. Kita seharusnya belajar kepada Jepang yang wilayahnya sangat tebatas tetapi dapan menjadi negara yang maju di bidang teknologi dan informasi. Begitu pula dengan Swiss yang tidak memiliki perkebunan coklat tetapi dikenal sebagai negara penghasil coklat terbaik di dunia. Negara-negara dengan sumber daya alam yang terbatas justru menjadi negara-negara yang maju dengan sumber daya manusia yang maju pula. Lalu terbesit pertanyaan yang menggoda, sebenarnya apa yang salah dengan Indonesia ini?

Rakyat kita memang masih terus terbuai oleh kejayaan Indonesia masa lalu, Indonesia yang kaya, yang suatu saat akan kembali sendirinya. Namun, nyatanya kekayaan itu telah hilang terkikis oleh rezim orde baru dan para penerusnya sampai saat ini. Korupsi yang sudah menjadi tradisi (mungkin sudah dianggap wajar), birokrasi yang semakin bobrok hingga para PNS muda dengan mudah mencari celah untuk korupsi, yang lebih parah adalah sikap apatis rakyat yang membuat Indonesia semakin menjauh dari kejayaan masa lalu.

Mengembalikan Indonesia seperti pada kejayaan masa lalu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bukan berarti tidak bisa dikembalikan lagi. Untuk memajukan suatu negara tentu harus didukung oleh sumber daya manusia yang bermutu, baik dalam pengetahuan maupun moral. Saya rasa pengetahuan masyarakat Indonesia tidak perlu diragukan, namun yang perlu diperbaiki adalah masalah moral dan kemauan untuk berubah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bermoral. Kemauan untuk maju harus dimulai dari dalam diri sendiri. Dosen saya pernah berkata, “untuk menghentikan korupsi hanya ada satu jalan, yaitu berjanji pada diri sendiri untuk tidak korupsi”. Jika anda tetap apatis, maka tidak akan ada yang berubah dengan Indonesia kita ini.