Dua bola matanya tak terlihat. Hanya dua garis sedikit lengkung dengan alis pendek yang terlihat. Kacamatanya tak bulat sempurna, bahkan tak sama antara kiri dan kanannya. Sedangkan dagunya yang berbentuk setengah lingkaran, seolah berusaha mengimbangi topi copetnya yang serupa eskrim cone.
Blog pribadi yang berisi ide-ide subyektif di sana-sini, tergantung jari yang terus menari. Boleh komentar, namun biasakan baca sampai selesai. Boleh diambil, asal kuat iman. Ini bukan dalil, tak perlu dianggap serius. Kalau terlanjur serius, apa boleh buat.
Showing posts with label intermezzo. Show all posts
Showing posts with label intermezzo. Show all posts
10 May 2018
08 May 2018
Ketidakpedulian
Seperti pameran-pameran lainnya di Galeri Nasional, saya bersama rekan-rekan sepekerjaan datang lebih awal daripada pengunjung manapun untuk melakukan tur mengamati sejumlah karya. Begitu pula yang terjadi sore itu, Rabu pertama di bulan Mei, hari setelah peringatan buruh sedunia.
Ayunan
Di beranda Facebook saya, beberapa teman menyebarkan video seorang bapak menendang anak-anak. Mungkin klean sudah nonton videonya. Mungkin juga belum. Biar nambah panjang tulisan, biarlah saya gambarkan isi videonya dengan kata-kata, alih-alih menyebarkan videonya.
26 November 2013
Menikmati Rekreasi dan Nyamuk yang Mati dengan Jempol Kaki
Di pagi yang tak terlalu dingin dengan kipas angin di nomor
dua, kejadian hari Minggu yang baru dua hari berlalu masih teringat. Berwisata
bersama kawan dari Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(IISIP) Jakarta.
24 November 2013
Sepucuk Surat untuk Evan Dimas
Wahai kau Evan Dimas, aku menonton pertandinganmu saat melawan Korea Selatan yang takluk dalam guyuran hujan. Malam ini, aku sempatkan untuk menulis surat ini. Semoga kau membaca.
30 October 2011
Menjaga Kelestarian Alam?
Seminggu terakhir ini saya mendapat banyak pesan singkat di hp agar kita mendukung Taman Nasional Komodo menjadi New 7 Wonders. Di dalamnya bertuliskan peritah agar saya ikut voting Taman Nasional Komodo menjadi New 7 Wonders dan mem-forward pesan itu ke yang lain. Entah kenapa, saya malas untuk mem-forward pesan dari teman saya (bukan berarti gak punya pulsa). Lucunya di akhir kalimat dari pesan singkat itu bertuliskan "AYO TERUS DUKUNG KELESTARIAN NEGARA INDONESIA!".
Cuih..seakan saya ingin meludahi muka manusia pertama yang membuat pesan singkat tersebut. Coba pikirkan! Apakah mungkin kelestarian alam Taman Nasional Komodo yang memang ajaib dapat terjaga kalau nantinya ketenangan komodo yang hidup alami terganggu oleh ribuan turis yang datang? Tentu saja komodo-komodo tersebut akan merasa risih dan pasti lambat laun akan punah. Lagi pula, tanpa harus melalui voting yang tidak jelas asal-usulnya, Taman Nasional Komodo memang sudah ajaib.
Sebenarnya yang kita inginkan hanyalah gengsi di mata dunia, agar dunia melihat negara ini adalah negara yang ajaib. Yah, memang ajaib! Dengan sumber daya alam yang berlimpah tapi tetap menjadi negara miskin. Entah kemana larinya, mungkin hanya mengisi kantung-kantung buncit para penguasa.
24 August 2011
Jalanku Tersendat Di Persimpangan Pengajian
Yang membuat saya lebih prihatin adalah aparat kepolisian dengan mudahnya memberikan izin kepada mereka. Mengapa pak polisi yang terdidik itu sampai tunduk oleh manusia-manusia yang menganggap dirinya suci? Apa memang karena takut masuk neraka, takut mati dikeroyok massa atau malah pak polisi ini memiliki kepentingan lain dengan jemaah ini? Ini menjadi tanda tanya yang amat besar. Coba kita lihat kaum minoritas di negeri ini, untuk membangun rumah ibadah saja izinya berbelit-belit, sedangkan untuk mereka yang ingin menutup jalan yang jelas-jelas mengganggu kenyamanan sekitar dapat izin seperti hanya tinggal membalikkan telapak tangan.
Apa masih pantas Indonesia ini disebut Negara yang memegang prinsip “Bhineka Tunggal Ika”. Mereka yang “minoritas” selalu hidup dalam ketakutan dalam beribadah, dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Agama yang seharusnya membawa kedamaian bagi para pemeluknya dan orang-orang di sekitarnya, saat ini malah menjadi senjata mematikan untuk menikam lawan-lawannya yang berseberangan pendapat. Dalam hal ini, agama sama sekali tidak salah. Yang pantas disalahkan saat ini adalah mereka yang hanya diam tidak bertindak dan terus menerus mengeluh pada keadaan menunggu keajaiban datang sehingga lalu lintas kembali lancar.
Pasti ada api kalau ada asap. Saya terkadang berpikir, untuk apa mereka melakukan semua itu. Sering saya lihat, banyak dari rombongan jemaah yang masih berusia muda belia. Mungkin mereka hanya ikut-ikutan agar tidak diasingkan oleh lingkungan sekitarnya. Atau mungkin ada pihak-pihak yang memanfaatkan dari keanggotaannya sebagai jemaah untuk bertindak semaunya. Siapa yang harus kita takuti kalau memegang lisensi sebagai jemaah? Polisi pun tidak akan bertindak jika menemukan jemaah tidak menggunakan helm saat berkendara. Berbeda dengan teman saya yang ditilang, lalu disidang sampai mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah karena berkendara tidak memakai helm dan tidak membawa STNK. Jadi jika kalian tidak pernah masuk sebagai anggota jemaah, maka kalian tidak akan mengetahui keuntungan apa yang didapat sebagai jemaah.
Subscribe to:
Posts (Atom)


