Pages

Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

01 January 2014

Membangun Kultur Kreatif, Menjadi Manusia Seutuhnya


Kredit ilustrasi: http://kvltmagz.com

Jutaan kendaraan bermotor berseliweran di jalan-jalan Jakarta. Jutaan orang pula menggantungkan hidupnya pada industri, di mana mereka melebur menjadi alat produksi. Masyarakat kelas pekerja tak peduli lagi dengan proses kreatif. Semua yang dilakukannya adalah kebiasaan, yang terus diulang-ulang sehingga mereka menjadi alat, bukan lagi manusia sutuhnya.

03 November 2013

Sebuah Anugerah untuk Negeri yang Kaya

Bukan hal yang baru, bila ada yang mengatakan bahwa negeri kita kaya. Sumber daya alam melimpah, lautan yang indah, sampai ratusan suku bangsa, menyatu atas nama Indonesia.

01 October 2013

Teror Sebelum Hajatan

Dar der dor suara senapan/ Sugali anggap petasan// Tiada rasa ketakutan/ Punya ilmu kebal senapan/ Semakin keranjingan//

18 February 2013

Narkoba, Artis, dan Petani



Baru-baru ini, media heboh memberitakan tertangkapnya beberapa artis kondang dan teman-temannya yang sedang pesta narkoba di kediaman Raffi Ahmad. Tentu saja, perhatian masyarakat terpengaruh oleh beberapa headline media massa untuk mengikuti perkembangan kasus tersebut dan menenggelamkan kasus Rasyid Rajasa yang belum jelas perkembangannya. Dari mulai proses pengintaian BNN, sampai dengan barang label tersangka yang kemudian diberikan kepada Raffi Ahmad dengan seksama diberitakan media-media besar.

Rasa kecewa muncul di masyarakat ketika mengetahui bahwa proses pengintaian terhadap Raffi Ahmad sudah dilakukan berbulan-bulan namun hanya menghasilkan barang bukti berupa dua linting ganja, dan beberapa narkoba lainnya. Banyak media yang membesar-besarkan beritanya, seakan-akan menampilkan pihak BNN sebagai pahlawan. Bila hanya dua linting ganja, setiap hari pun ada saja orang yang kedapatan transaksi dan memakai narkoba oleh polisi, dan beritanya hilang ditelan isu-isu lain seputar selibriti, yang menandakan masyarakat kita senang dijejali dengan kasus infotainment.

Namun, terlepas dari segala perspektif, penangkapan terhadap Raffi Ahmad dan taman-temannya membuktikan bahwa hukum yang terkait dengan narkoba terbilang sedikit tegas.

BNN sempat kebingungan untuk menentukan pasal yang akan dikenakan kepada tersangka. Pasalnya, barang bukti yang ditemukan merupakan dua linting ganja, ekstasi dan sebuah narkoba jenis baru yang undang-undangnya belum diatur. Narkoba jenis baru ini diketahui benama Methylone yang diduga turunan dari tanaman Cathynone atau Khat. Namun, Methylone  yang ada di tubuh Raffi belum diketahui bahan dasar sebenarnya. Dan, yang menarik adalah narkoba jenis baru ini yang ternyata ditanam dengan bebas di daerah Puncak, Jawa Barat.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Sumirat Dwiyanto, Khat menimbulkan efek jangka pendek mempercepat denyut jantung dan menjadikan mata tetap segar. Warga sekitar Puncak biasa menggunakan Khat untuk menambah stamina. Kurangnya informasi tentang pelarangan narkoba jenis baru ini pun membuat warga Puncak menanamnya dengan bebas.

Kekurangan informasi dari BNN ini menimbulkan efek yang cukup signifikan kepada warga yang sudah terlanjur mencari nafkah dari tamana Khat. Pihak polisi dan BNN menutup ladang mereka dengan garis polisi yang secara otomatis mematikan mata pencaharian mereka. Alih-alih memberikan ganti rugi atau pekerjaan bagi para penanam Khat, BNN malah mengancam mempidanakan para petani yang masih nekat menanam Khat.

22 December 2012

Tentang Teater, Hidup dan Menulis Kehidupan




Saya adalah orang yang tergabung dalam sebuah kelompok teater, Teater Kinasih. Baru-baru ini, kelompok teater tempat saya tergabung mengadakan sebuah diskusi tentang jurnalisme musik. Ada pro, ada kontra.

Kenapa musik? Karena semua orang suka musik, semua orang menikmati musik, dan semua orang hidup berdampingan dengan musik. Musik juga merupakan elemen penting dalam teater. Menulis tentang musik berarti berusaha untuk mengetahui tentang latar belakang teriptanya musik tersebut.

Bila memutuskan untuk mengundang pembicara yang notabennya adalah seorang teaterawan/ti, tentu yang akan senang adalah kita sepihak, sebagai kelompok teater. Animo masyarakat kampus pun tak akan besar dan akhirnya, hanya kelompok teater tersebut yang bertambah ilmunya. Teater Kinasih mencoba untuk tidak memuaskan diri sendiri.

Ada yang bilang, jika sebuah kelompok teater hanya bergaul dengan sesama orang teater, setiap nonton, nonton teater, mengadakan acara, acara teater, kita hanya akan mendapatkan teknik berteater yang baik dan benar (dan kami tentu sadar bahwa kami belum menguasai teknik itu dengan benar), dan sebagai bonus, kita hafal nama-nama pembesar teater dan dikenal dikalangan orang-orang teater.

Teater Kinasih mencoba untuk tidak terperangkap dalam arti teater yang sempit di atas, yang hanya memikirkan tentang pementasan, aktor, panggung, dll. Kemarin, Kinasih mengadakan sesuatu yang berbeda, "Bincang Musik Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang". Di acara yang diaselenggarakan oleh Teater Kinasih yang bekerja sama dengan webzine lokal Jakartabeat.net, juga tidak serta merta lepas dari pelajaran, yang telah didapatan dari latihan maupun masukan yang diberikan para senior (orang-orang yang lebih dahulu bernaung di Kinasih) yang hadir, tentang bagaimana mengaplikaskan ilmu teater dalam kehidupan, tentang cara membangun relasi dengan mereka yang dibilang awam dalam dunia teater, tentang mengajak masyarakat kampus mengenal Teater Kinasih yang terbuka.

Ada benang merah yang masih berkesinambungan antara teater dan menulis musik. Kalau teater itu adalah ilmu tentang kehidupan, menulis musik juga menulis menulis tentang kehidupan (setidaknya itu yang dikatakan oleh Taufiq Rahman sebagai pembicara). Kita bisa mempelajari dan menuliskan tentang kehidupan sekaligus, melalui proses berteater dan menulis.

Saya pribadi cukup puas dengan terselengaranya acara "Bincang Musik Bersama Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang", dan respon para peserta diskusi pun sama, puas. Semua senang dan mendapatkan sesuatu yang baru untuk dibawa pulang. Jadi, bila anda yang merasa kenal maupun awam dengan teater, mungkin perlu untuk menuliskan kehidupan.

19 December 2012

Mediaku Agamaku, Agamamu Urusanmu



Agama, di bangsa yang ketimuran seperti Indonesia, memang sangat sensitif untuk direkonsrtuksi. Setiap agama mengajari dan mempercayai kebenarannya masing-masing. Sampai akhirnya bersinggunganlah kebenaran yang satu dengan yang lainnya.

Media massa memiliki peranan yang besar dalam meredakan atau menciptakan konflik antar agama tersebut. Tentu, tak semua media massa bisa meredakan konflik antar agama yang terjadi, bahkan lebih banyak media sebagai pemicu konflik. Namun, ketika media massa bersikap independen dan tidak berpihak pada kepentingan apapun, sikap bias media massa terhadap agama tak mungkin terjadi.

Peranan media massa dalam negara yang menganut paham demokrasi adalah sebagai pilar ke-empat demokrasi, seharusnya bisa menyelesaikan perselisihan sosial. Namun, yang terjadi justru semakin memperkeruh suasana melalui isu-isu yang tidak jelas asal-usulnya. Untuk mengatasinya, pihak yang terlibat langsung dengan dunia pers harus memegang teguh etika dan kode etik jurnalistik yang berlaku dalam setiap menjalankan tugasnya.

Sebagai masyarakat, kita juga harus memiliki sikap kritis terhadap setiap informasi yang diberikan oleh media massa, tidak langsung menerimanya. Media massa hanya menciptakan tanda-tanda, sementara khalayaknya yang memaknai tanda-tanda yang diberikan oleh media. Dan masyarakat yang tidak kritis akan hidup dalam kepalsuan simbol-simbol yang diciptakan oleh media. Tentu, sebagai masyarakat, sudah menjadi pilihan untuk tetap hidup dalam simbol-simbol yang diberikan media atau bersikap kritis untuk membongkar simbol-simbol tersebut.

05 November 2012

Menulis Hanya Menjadi Beban




Menulis, seperti halnya bermain dan belajar, adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan oleh manusia modern. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi menulis adalah membuat huruf (angka dsb); 2 melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; 3 menggambar; melukis; 4 membatik (kain). Hampir setiap orang dapat menulis dengan bebas dan tentu disertai dengan tanggung jawab.

Orang-orang biasa menulis untuk mencurahkan perasaan, pemikiran, persepsi dan banyak hal lain yang perlu dituangkan melalui rangkaian diksi yang asyik. Ketika seorang penulis telah menyelesaikan tulisannya, ia akan merasa senang. Menulis menjadi sebuah permainan –yang tentu tidak paksaan dari pihak manapun- yang mengasyikkan. Ini tentu menjadi motivasi tersendiri bagi sang penulis. Dalam situasi seperti ini, menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi seorang penulis, layaknya seseorang yang sedang menikmati sebuah permainan.

Dengan menikmati menulis, sadar atau tidak, seorang penulis akan melahirkan tulisan-tulisan yang berisi pemahaman dan pemikirannya. Tulisan yang dihasilkan akan memiliki makna yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi orang-orang yang membacanya. Dan, ketika para pembacanya tidak sepaham dengan makna dan pemahaman sang penulis, maka pembacanya itu akan  mengkritisi atau memberikan komentar tentang isi dari tulisan tersebut. Seperti proses untuk melahirkan sintesis, yang dimulai dari sebuah tesis, hadirnya kritikkan berupa anti-tesis dan akhirnya menjadi sebuah sintesis. Tentu hal ini akan melahirkan ide-ide baru dan segar, baik untuk pembaca maupun penulisnya.

Namun, menulis hanya akan menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi seorang penulis ketika mengerjakannya dengan perasaan terpaksa. Orang-orang yang menulis karena sebuah paksaan, secara tidak langsung jiwanya akan tertekan. Ketika jiwa telah tertekan, tulisan yang dikerjakannya pun cenderung akan menjadi kosong, tanpa adanya makna atau pesan yang kuat di dalamnya. Proses pemikiran dalam tulisan itu menjadi tersendat. Besar kemungkinan dalam tulisan yang dikerjakan secara terpakasa, nilai-nilai edukasi yang bersifat kritis dan informasi dari tulisan itu menjadi kabur dan menghilang. Tulisan tersebut hanya akan memenuhi kewajiban sang penulis dari tugasnya, that’s all.

Sebuah tulisan menjadi berguna atau tidak, tergantung pada niat seorang penulis dalam membuat tulisannya. Ketika seorang penulis belum bisa untuk membuat tulisannya berguna, ia masih dapat belajar dengan tekun untuk dapat membuat tulisannya menjadi berguna. Tentu, dengan referensi dari berbagai macam bahan bacaan dan keikhlasan untuk menerima saran dari para pembacanya. Tapi, apabila seorang penulis sudah tak memiliki niat, jangankan untuk tulisannya menjadi berguna bagi pembaca, untuk menyelesaikan tulisannya saja akan menjadi sulit.

Ketika untuk manusia modern menulis telah menjadi fashion, sangat disayangkan bila masih banyak tulisan yang lahir dari sebuah tuntutan. Menulis hanya sekedar menjadi fashion. Dan, hanya apresiasi semu belaka dari para pembaca yang akan didapatkan untuk penulisnya, yang sudah capek-capek membuatnya.

Kegiatan menulis hanya untuk mendapatkan apresiasi memang sangat mudah untuk dilakukan. Kegiatan menulis menjadi sulit ketika dalam tulisan tersebut ada sesuatu yang jujur dan memiliki makna yang jelas, serta dapat memberi efek pada kehidupan sosial –paling tidak kepada orang yang membacaya.

Menulis, dengan kejujuran dan pemahaman yang kuat, tentu akan menyenangkan sekaligus mencerdaskan.

13 October 2012

Mitos Sebagai Budaya (Kebiasaan?) Bangsa


Mitos. Kata yang sering timbul di kepala ketika mendengarkan orang tua –yang dianggap kuno- sedang bercerita tentang hal-hal yang tidak masuk akal. Mitos erat kaitannya dengan legenda atau cerita rakyat yang tidak selalu jelas asal-usulnya. Sebagai bagian dari bangsa timur, nusantara memiliki beragam mitos yang populer di masyarakat. Mitos, yang terus ditanamkan oleh orang tua kepada anaknya sejak balita, akan menjadi sebuah aturan, bahkan kepercayaan. Mitos yang disampaikan dalam masyarakat tidak melulu tentang perilaku manusia, tapi juga tentang obat-obatan tradisional, dari yang herbal sampai yang berbau klenik.


Untuk menemukan solusi untuk sebuah masalah, nenek moyang kita tak pernah melakukan pengujian ilmiah. Insting, pengetahuan implisit dan keyakinan, cukup untuk membuat sesuatu yang tidak masuk akal menjadi solusi sebuah masalah. Contoh yang saat ini masih tersisa adalah mengerok punggung (kerokan) pada saat masuk angin. Ketika diuji secara ilmiah, kerokan tidak membuat angin keluar dari tubuh. Kerokan akan membuat rangsangan nyeri di punggung, sehingga nyeri yang lama akan berkurang, bahkan menghilang. Pun seperti itu faktanya, masyarakat masih menganggap kerokan sebagai salah satu pengobatan alternatif untuk membuat angin keluar atau sekedar membuat badan lebih ringan ketika masuk angin. Kerokan telah menjadi sesuatu yang wajar dilakukan ketika masuk angin.

Sesuatu yang dianggap sebagai kewajaran lahir dari kebiasaan-kebiasaan di lingkungan sosial. Sebuah kewajaran pula bila, pada zaman dahulu, seseorang sedang sakit pergi ke dukun atau paranormal untuk berobat. Dan mereka pun sembuh, seperti masyarakat modern sehabis berobat dari dokter. Sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat, tentunya. Seorang dukun yang dapat menyembuhkan pasiennya tidak dapat dibuktikan dengan fakta-fakta ilmiah, yang oleh bangsa barat terus diagung-agungkan untuk menemukan kebenaran. Namun dalam ketidakilmiahan tersebut terdapat sebuah keyakinan untuk sembuh dari dalam diri pasien ketika pergi ke dukun. Mitos menjadi sebuah keyakinan dan melahirkan sugesti yang akan menghasilkan energi. Ketika “sesuatu” diberikan sugesti positif, maka “sesuatu” tersebut menghasihkan energi positif. Kerokan dan berobat ke dukun merupakan contoh nyatanya.

Mitos yang diberikan oleh para orang tua secara tidak langsung mengajarkan bangsa ini untuk tetap memberikan sugesti positif terhadap segala sesuatu. Namun, dengan menjamurnya modernisme di berbagai tempat, mitos para orang tua mulai tergusur layaknya kebudayaan lokal yang mulai luntur. Budaya kritis mulai terbenuk untuk merekonstruksi nilai-nilai yang telah ada. Sikap kritis masyarakat modern melulu menuntut fakta ilmiah untuk menjelaskan segala sesuatu dan mencari kebenaran, tak terkecuali untuk menjelaskan dan mencari kebenaran tentang Tuhan. Oleh sebab itu, kepercayaan terhadap sesama kian memudar.

Saat ini, mitos diasosiasikan sebagai sebuah kepalsuan atau kebohongan para leluhur yang hanya dapat dipercayai oleh anak kecil. Kepercayaan terhadap sebuah mitos dianggap kebodohan, menipu diri sendiri. Namun sejarah mengatakan bahwa manusia akan selalu memerlukan mitos untuk memuaskan dirinya sendiri, layaknya onani.

18 July 2012

Mencari Oase Di Padang Gersang

Rakyat Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan yang berkepanjangan. Krisis kepercayaan ini tidak datang secara tiba-tiba. Ini adalah akibat kepercayaan yang diberikan oleh rakyak tidak digunakan dengan baik. Sejak reformasi terjadi pada tahun 1998 seluruh aktivitas politik dapat dilakukan secara bebas dan terbuka. Namun, kebebasan telah membuat kita semakin tidak terarah seperti kehilangan pegangan.

Saat ini bangsa kita tidak memiliki sosok peminpin yang dapat dijadikan teladan oleh rakyatnya. Mereka hanya bisa menghamburkan uang tanpa memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Sementara, rakyat Indonesia semakin apatis bila berbicara tentang nasionalisme. Sikap ini disebabkan oleh para elite politik yang hanya mengandalkan slogan-slogan omong kosong, namun tidak pernah bergerak secara nyata.

Seperti contohnya salah satu calon gubernur (cagub) Jakarta, yang sedang melakukan kampanye pemilukada, memiliki slogan yang berbunyi ‘Ayo Beresin Jakarta’ namun pada kenyataannya pamflet dan poster wajah mereka banyak yang merusak estetika ruang publik kota Jakarta secara vandal. Kampanye para cagub yang ingin memimpin Jakarta dengan cara-cara yang merusak, apakah pantas mengajukan diri sebagai pemimpin?

Bila dilihat dari efisiensi biaya, jelas dana kampanye adalah hal yang sangat tidak penting. Sikap seperti itu hanya dilakukan oleh manusia-manusia hedon yang bisanya hanya menghambur-hamburkan uang tanpa ada sesuatu yang berguna. Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membuat poster-poster dan kaos-kaos bertuliskan slogan-slogan omong kosong para cagub? Bayangkan bila uang tersebut dialihkan untuk keperluan masyarakat tidak mampu, mungkin beberapa dari mereka bisa tertolong.

Rakyat  sudah muak dengan kata-kata indah para elite politik yang semakin lama bagaikan seorang penyair –mungkin jauh lebih mulia seorang penyair karena mereka merangkai kata-kata dengan kejujuran- namun hanya manis saat kampanye berlangsung. Rakyat perlu sosok yang dapat menjadi penyalur aspirasinya, sosok yang kehadirannya bagaikan oase di tengah padang gersang. Sosok pemimpin yang tegas, adil dan berbudaya sepertinya sudah cukup untuk membangun bangsa Indonesia yang semakin lama semakin kehilangan jati dirinya sendiri. Namun, di saat seperti ini kita, sebagai bagiain dari rakyat Indonesia, tidak bisa berdiam diri menunggu kedatangan sosok yang diimpikan tersebut. Akan lebuh baik bila kita dapat menjadi teladan bagi diri kita sendiri dan juga bagi lingkungan sehingga tercipta masyarakat yang memiliki rasa bangga akan Indonesia.

02 July 2012

Bumi Semakin Rusak

Bumi semakin rusak. Itu adalah kalimat yang menggambarkan keadan saat ini. Asap-asap industrialisasi membuat lapisan ozon semakin lama semakin terkikis. Hutan, sebagian besar telah menjadi perkebunan yang lebih menjanjikan uang, sisanya hilang menjadi lembaran kertas yang jumlahnya tak terbatas. Sungai mengecil menjelma menjadi pemukiman kumuh. 

Saat ini manusia tidak lagi membangun sisbiosis mutualisme dengan alam. Para pemilik modal yang serakah menghabisi hutan demi keberlangsungan hidup sebuah perusahaan. Akibatnya, para penduduk hutan, seperti harimau, gajah, dan lain sebagainya, memasuki dan menyerang pemukiman warga untuk meminta pertanggung-jawaban. Hukum alam menjadi salah sasaran. Penduduk lokal tidak hanya tersiksa melihat alam sekitarnya dirusak oleh para penguasa, melainkan mereka pun ketadangan hewan-hewan yang murka karena habitatnya dirusak. Alam terus dieksploitasi, sementara para penguasa menikmati hasilnya sendiri. Hutan yang rusak sudah tidak lagi dapat menampung air, sehingga muncul genangan-genangan menyerupai banjir di hampir setiap jalan, di berbagai kota besar. 

Para pemimpin dunia telah bertemu di Rio de Janeiro, Brazil, untuk mengadakan Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Para pemimpin dunia mengajak kita untuk bergerak dari ekonomi yang serakah ke ekonomi hijau. Mereka tanpa henti menyuarakan pembangunan yang hijau demi masa depan yang lebih naik. Namun sayang, kepercayaan masyarakat sedang mengalami krisis, sehingga pertemuan ini dilihat dengan sikap skeptis dan apatis oleh banyak pihak. 

Bagaimanapun, upaya pertemuan para pemimpin dunia in harus diapresiasi sebagai langkah awal mewujudkan ekonomi yang hijau, yang tidak merusak alam. Masyarakat luas juga harus mendukung dan berupaya untuk melestarikan kegiatan tersebut, karena rencana sebaik apapun tidak akan dapat berjalan tanpa dukungan dari masyarakat luas. 

Setiap masyarakat memiliki peran untuk menjaga dan melestarikan lingkunagn. Alasan, yang paling sederhana, masyarakat memiliki kewajiban untuk melestarikan lingkungan adalah agar anak-cucu kita dapat merasakan alam yang saat ini kita rasakan, atau mungkin alam yang lebih baik lagi. Betapa egoisnya, bila kita hanya menguntungkan diri sendiri tanpa menyisakan hal yang berguna bagi generasi penerus kita. 

Bumi masih bisa diselamatkan. Tentu. Oleh karena itu, marilah kita membuat perubahan pada pola tingkah laku dalam diri sendiri. Perbuatan sekecil apapun dalam upaya melestarikan lingkungan tentu akan membawa efek yang positif bagi masyarakat banyak. Apa masih perlu menunggu korban lebih banyak lagi?

12 June 2012

Menantikan Lahirnya Partai Penyalur Aspirasi Rakyat

Demokrasi adalah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rayat. Demokrasi merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan bangsa. Namun pada kenyataannya, demokrasi telah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Filosofi demokrasi yang tadinya dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat telah berubah menjadi dari rakyat, oleh rakyat, untuk partai politik.

Masyarakat di saat-saat seperti sekarang ini seakan tidak dibutuhkan perannya oleh para elite politik. Oleh karena itu kepentingan rakyat sering terabaikan oleh para wakil rakyat di Senayan. Mereka lebih mengutamakan urusan partai politik yang telah membesarkan namanya dari pada membela rakyat yang menggajinya setiap bulan. Ini terbukti pada saat pembahasan UU Pemilu, para anggota dewan lebih mengutamakan kepentingan partainya masing-masing agar dapat keistimewaan khusus kepada partai-partai di parlemen dapat mengikuti pemilu 2014 tanpa harus melalui proses verifikasi terlebih dahulu. Sedangkan mengenai bentuk pemilu yang ideal tidak banyak yang dijelaskan kepada masyarakat.

Kepentingan rakyat telah disepelekan oleh orang yang mengaku dirinya “wakil rakyat”. Rakyat hanya diberi harapan, mungkin dengan sedikit sogokan, saat pemilu berlangsung untuk memberikan suaranya. Setelah pemilu usai, para elite politik seakan lupa oleh janji-janjinya pada saat kampanye. Mereka tidak lagi mengurusi rakyat, tetapi mengurusi bagaimana caranya agar partai politiknya masih dapat ikut pemilu pada masa selanjutnya.

Partai politik pada dasarnya adalah tempat untuk menyalurkan aspirasi politik rakyat. Namun, dalam perkembangannya, rakyat yang ingin menyuarakan aspirasi politiknya harus berhadapan dengan idealisme partai politik tersebut. Rakyat yang telah masuk dalam sebuah partai politik mau tidak mau harus mendahulukan kepentingan partai politiknya daripada kepentingan masyaraat luas. Dengan kata lain, orang baik yang sudah masuk ke dalam lingkaran partai politik, akan sangat sulit untuk tetap bertahan menjadi orang baik.

Masyarakat saat ini telah muak oleh sandiwara-sandiwara yang dilakukan oleh para elite politik. Jadi, jangan salahkan masyarakat bila pada pemilu 2014 nanti suara yang golput akan semakin banyak. Masyarakat lebih memilih menjadi golput daripada harus memilih dengan terpaksa para oportunis yang ada dalam partai politik. Masyarakat memimpikan lahirnya partai politik yang benar-benar dapat menyalurkan aspirasinya.

25 April 2012

Rakyat Lapar, Pendidikan Terlupakan

Kabar penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merupakan kegembiraan bagi rakyat Indonesia. Ada dua tipe masyarakat yang merasa diuntungkan.

Pertama, masyarakat miskin. Setidaknya mereka masih dapat bernafas untuk enam bulan ke depan. Kedua, masyarakat yang tidak tahu diri menggunakan BBM bersubsidi untuk mobil pribadinya yang mewah. Jika tidak ada tindakkan yang tegas dari penyelenggara negara, masyarakat tipe kedua akan tetap menjadi parasit bagi negara. Subsidi seperti ini kiranya tak akan mampu menyejahterakan rakyat Indonesia. Saat pendidikan dan kesehatan terabaikan, rasanya mustahil bagi sebuah bangsa untuk berkembang.

Pemberian subsidi pada BBM secara bebas hanya akan memanjakan kaum-kaum borjuis dengan kendaraan-kendaraan mewahnya. Laju penjualan kendaraan bermotor juga akan semakin meningkat, sementara pembangunan jalan tersendat.Akhirnya Jakarta sebagai pusat perekonomian di Indonesia akan lumpuh oleh kemacetan. Pada saat seperti ini memang sulit untuk mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi karena masyarakat selalu dimanjakan oleh pemerintah untuk menutupi kebobrokkan kinerjanya.

Masyarakat Indonesia seolah-olah dibentuk untuk memikirkan perutnya saja. Sekarang pendidikan hanya dianggap sebagai sebuah syarat untuk tetap bertahan hidup yang terbungkus dalam selembar ijazah. Ironis memang, tapi seperti itulah kenyataannya saat ini. Dengan demikian, saat BBM bersubsidi akan dinaikkan, rakyat akan marah, pun subsidi tersebut akan dialihkan ke sektor-sektor yang lebih berguna.

Masyarakat tidak lagi memikirkan bagaimana mereka harus sekolah, tapi mereka akan berpikir untuk bertahan hidup. Hal tersebut merupakan pembodohan kepada masyarakat. Rakyat dibuat tetap menjadi bodoh agar tidak mengurusi penguasa-penguasa yang korupsi. Tenggelamnya kasus Nazaruddin dan para petinggi Partai Demokrat pada saat isu kenaikan BBM bersubsidi merupakan contoh nyata bahwa masalah “perut” lebih penting dari masalah korupsi.

Pemerintah sepenuhnya bertanggung jawab atas keadaan sekarang.Ini adalah konsekuensi tetap membiarkan APBN tersedot oleh subsidi BBM. Jika keadaan tetap seperti ini, APBN tentu akan habis hanya untuk subsidi BBM.

Kesejahteraan rakyat tidak akan tercapai jika pendidikan dijadikan “anak tiri” oleh para penguasa. Pemerintah harus bersikap berani untuk mengambil keputusan, tentu keputusan yang cerdas, yang tidak membodohi masyarakat.

BAYU ADJI P Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta
Suara Mahasiswa Harian Seputar Indonesia
Thursday, 12 April 2012

Salah Kaprah Subsidi

Rencana kenaikkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akhir-akhir ini menimbulkan polemik baru di kalangan masyarakat luas. Di zaman yang semuanya serba sulit seperti sekarang ini, rakyat kembali harus menghadapi kenyataan bahwa BBM akan segera naik. 

Tentu saja, hal ini menuai berbagai kritik dari berbagai lapisan masyarakat.Terlihat dari aksi yang dilakukan oleh mahasiswa- mahasiswa hampir di seluruh pelosok Indonesia yang secara terang-terangan menentang rencana kenaikkan BBM. Ini adalah bukti bahwa bangsa ini masih jauh dari apa yang dicita-citakan oleh para pendirinya. Pemerintah tentu saja tidak ingin dijadikan “kambing hitam”atas rencana kenaikkan BBM bersubsidi ini.

Mereka berdalih bahwa APBN sudah tidak sanggup lagi untuk menutupi subsidi BBM akibat harga minyak dunia semakin meninggi. Tidak hanya itu, pemerintah juga berkata bahwa subsidi lebih berguna bila disalurkan untuk sektor pendidikan atau pembangunan, walau nyatanya pendidikan tetap saja mahal dan pembangunan pun tersendat. BBM bersubsidi juga dinilai tidak tepat sasaran.

Memang demikian adanya, masih banyak kendaraan pribadi roda empat dengan senang hati mengisi bahan bakar jenis premium. Ya, dengan senang hati tanpa rasa malu sedikit pun.Bayangkan,mobil seharga lebih dari Rp100 juta tanpa merasa bersalah mengantre pada barisan BBM bersubsidi dapat ditemui hampir di setiap SPBU. Ini membuktikan bahwa masih banyak orang-orang di antara kita yang bersikap apatis dan tidak peka.

Banyak masyarakat yang salah pengertian tentang BBM bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan untuk kalangan menengah ke bawah. Oleh karena itu, pemerintah tidak seharusnya menaikkan harga BBM bersubsidi. Jika hal ini tetap dilakukan, maka penderitaan rakyat miskin di Indonesia akan semakin bertambah.

Akan lebih efektif bila pemerintah mengambil keputusan cerdas untuk membatasi BBM bersubsidi hanya untuk rakyat yang benar-benar membutuhkannya dan mobil-mobil “pribadi” wajib menggunakan bahan bakar tidak bersubsidi. Dengan begitu,pemilik kendaraan pribadi cenderung memilih angkutan umum untuk kegiatan sehari-harinya.

Hai ini tentu saja memberikan dampak positif bagi perekonomian rakyat kecil dan sedikit banyak dapat mengatasi kemacetan di kota-kota besar. Sudah saatnya pemerintah kita bersikap tegas dan cerdas.

BAYU ADJI P 
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi 
IISIP Jakarta       
Suara Mahasiswa Harian Seputar Indonesia
Tuesday, 27 March 2012

Masih Adakah Cinta di Antara Kita?

Siapa yang tidak tahu Front Pembela Islam (FPI)? Organisasi massa yang dipimpin oleh Habib Rizieq ini memang disegani sebagian kalangan masyarakat. FPI memang terkenal dengan kekerasan dalam setiap melakukan aksinya, bahkan lebih buas dari Satpol PP yang sedang mengusir pedagang kaki lima atau menggusur rumah warga.

Terakhir, Kantor Kementrian Dalam Negeri yang menjadi sasaran para anggota FPI. Bertepatan dengan Hari Valentin yang dikenal sebagai Hari Kasih Sayang, Selasa, 14 Februari 2012, ratusan massa yang berasal dari berbagai elemen masyarakat melakukan aksi damai bertajuk “Indonesia Tanpa FPI” di Bundaran Hotel Indonesia.

Aksi damai ini terinspirasi dari demo ratusan warga Dayak yang menolak kedatangan FPI di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Masyarakat Dayak menolak FPI masuk ke wilayahnya karena tidak ingin kehidupannya yang tenang dirusak oleh kehadiran FPI yang terkenal sebagai perusak.

Aksi “Indonesia Tanpa FPI” adalah bentuk kekecewaan masyarakat terhadap lemahnya keadilan di negeri ini. Kekecewaan kepada pemerintah yang selalu menutup mata dari apa yang dilakukan oleh mereka yang mengatasnamakan agama untuk melakukan kerusakan. Kekecewaan kepada pemerintah yang tidak bisa menjamin hak-hak kaum minoritas untuk beribadah.

Bila kita lihat ke sumber permasalahan, apa yang dilakukan FPI adalah untuk menegakkan syariat Islam dalam kehidupan seluruh masyarakat Indonesia.Tapi ingat, Indonesia bukanlah negara Islam. Indonesia adalah Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Setiap rakyat Indonesia memiliki hak untuk memiliki keyakinannya masing-masing. Rasa saling menghargai inilah yang selama ini membuat Indonesia tetap bersatu dalam keberagaman.

Namun, rasa itu perlahan mulai hilang dan kekerasan atas nama Tuhan semakin merajalela. Apakah agama kita mengajarkan kekerasan? Agama bukanlah alat perusak, agama tercipta untuk menebar cinta dan kedamaian. Dalam ajaran Islam sendiri kita mengenal Hablumminallah dan Hablumminannas. Hablumminallah adalah usaha untuk menjaga hubungankita dengan Tuhan agar selalu harmonis.

Hablumminanass adalah hubungan dengan manusia lain agar kita selalu berbuat baik dalam hidup bermasyarakat. Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa keyakinan manusia kepada Tuhan adalah urusan yang sangat pribadi dan setiap orang memiliki cara masingmasing untuk dekat dengan Tuhan.

Mungkin ini saatnya menyingkirkan manusia-manusia yang mengaku beragama, namun tidak bisa memanusiakan manusia lainnya. Sekarang saatnya untuk kembali menebar cinta. Kita harus tetap bersatu dalam perbedaan yang ada karena perbedaan itu akan membuat kita saling melengkapi satu sama lain. Mencintai Indonesia berarti mencintai juga perbedaan yang ada di antara kita.● 

BAYU ADJI P Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta, 
Aktif di UKM Teater Kinasih 
Suara Mahawiswa Harian Seputar Indonesia
Tuesday, 21 February 2012

Mari Hargai Karya Anak Bangsa

Akhir-akhir ini sejumlah media nasional mengangkat berita tentang Wali Kota Solo Joko Widodo yang dengan berani menjadikan mobil yang diproduksi oleh beberapa siswa SMK di Solo yang bekerja sama dengan Kiat Motor sebagai mobil dinasnya.

Tentu langkah tersebut mendapat perhatiandarimasyarakatluas, termasukparaelite politik yang berbondong-bondong ingin membeli mobil tersebut. Inilah Indonesia, yang satu memiliki, yang lain pun ingin memiliki.Satu korupsi,semua korupsi. Namun, mobil buatan para siswa SMK ini atau yang lebih dikenal dengan mobil Esemka patut diapresiasi,mungkin tidak cukup hanya dengan apresiasi melainkan harus dikembangkan sehingga mobil Esemka dapat unjuk gigi dalam persaingan industri mobil di Indonesia, karena selama ini Indonesia merupakan target para produsen mobil dari luar negeri.

Ini merupakan langkah awal untuk membangkitkan industri dalam negeri.Pemerintah harus dapat berperan aktif dalam mengembangkan produk industri nasional agar dapat mengubah pola pikir masyarakat kita yang selalu menganggap bahwa produk luar selalu lebih baik. Bila dilihat dari kualitas sumber daya manusia,Indonesia tidak kalah dengan negara-negara maju.Banyak warga Indonesia yang cerdas memilih untuk berkarya di luar negeri.

Salah satunya adalah Prof Nelson Tansu PhD yang dikenal sebagai pakar teknologi nano yang merupakan kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa depan, lebih memilih untuk melanjutkan risetnya di Amerika. Bukan karena tidak cinta Indonesia, tetapi bila ia tetap di Indonesia maka kecerdasannya tidak digunakan dengan maksimal. Hal ini seharusnya tidak terjadi kalau pemerintah peka dan masyarakat mau mengapresiasi terhadap apa yang dimiliki oleh bangsa ini.

Dengan kehadiran mobil Esemka ini harus dimanfaatkan sebagai momentum bagi para pegiat industri dalam negeri, dari berbagai sektor maupun para pelaku industri kreatif untuk membuktikan bahwa karya anak negeri tidak kalah dengan produk buatan luar. Ini semua tidak akan berjalan dengan baik tanpa apresiasi dari masyarakat Indonesia. Masyarakat adalah pasar yang akan pertama dituju oleh industri dalam negeri.

Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harusnya bangga dengan menggunakan produk dalam negeri. Jangan sampai orang-orang seperti Prof Nelson Tansu pergi lagi dari bangsa ini karena tidak dihargai oleh bangsanya sendiri.Apakah selamanya kita akan terus menjadi negara pemakai?

BAYU ADJI P 
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta 
Suara Mahawiswa Harian Seputar Indonesia
Tuesday, 10 January 2012

Indonesia yang Sehat dan Bermartabat

Tahun 2012 sudah di depan mata.Semua orang, dari rakyat sampai pejabat, tentu mengharapkan Indonesia yang lebih baik pada 2012. 

Semua bermimpi untuk menjadikan Indonesia sesuai dengan yang diharapkan para pendiri bangsa kita.Tak apa hanya mimpi karena dari mimpi itu akan menjadi inspirasi membangun Indonesia. Ya,Indonesia yang sehat,Indonesia yang bersih dari korupsi serta memiliki nilai budaya yang tinggi. Ini merupakan tantangan yang besar untuk kembali menjadikan Indonesia sebagai “Macan Asia”.

Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Mulai dari pemberantasan kasus-kasus korupsi yang sudah menjadi tradisi sampai pada mengatasi budaya kekerasan yang mulai muncul ke permukaan. Dalam masalah pemberantasan korupsi, aparat penegak hukum harus secara serius menuntaskan segala kasus yang ada tanpa pandang bulu.Kami sudah muak dengan kasus-kasus yang terkesan ditutupi dan tidak jelas di mana akhirnya. Semoga tertangkapnya Nunun Nurbaeti dan terbongkarnya kasus ini menjadi momentum untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada penegak hukum yang kian lemah.

Tentu saja hal tersebut harus didukung rekan-rekan media agar dapat menyajikan berita secara aktual dan faktual supaya masyarakat juga dapat mengawasi segala perkembangan yang terjadi. Di sisi lain, kekerasan terus terjadi dan mulai muncul ke permukaan.Belum selesai konflik di Papua,datang lagi kabar dari Mesuji yang sangat tragis dan seakan tidak cukup masih ditambah lagi kabar menyedihkan dari Sape, Bima, NTB. Indonesia, yang masyarakatnya terkenal ramah dan penuh sopan santun,kini telah menjadi buas.

Sebenarnya apa yang menyebabkan Indonesia menjadi buas seperti ini? Tentu tidak akan ada api kalau tidak ada asap.Ada kesamaan pada kasus yang terjadi di Papua dengan kasus Mesuji, yaitu para pemilik perusahaan yang notabene orang asing, samasama mengeruk kekayaan alam yang ada di bumi pertiwi dan keuntungan yang seharusnya diberikan kepada warga sekitarnya. Dari kasus-kasus tersebut seharusnya pemerintah lebih memilahmilah para investor asing yang ingin menanamkan modal di Indonesia agar kasus tersebut tidak terulang. Inilah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang sehat dan juga menjunjung tinggi kebudayaan.

Tantangan harus kita hadapi bersama. Dengan kerja keras dan keinginan untuk terus maju, tentu saja bukan hal yang mustahil untuk Indonesia menjelma dan menjadi “Macan Asia”.Semoga di tahun 2012,Indonesia dapat “merdeka”di negeri sendiri.●

BAYU ADJI P 
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta 
Suara Mahasiswa Harian Seputar Indonesia
Monday, 26 December 2011