RAMOS. Kalah di partai final sebuah kompetisi kelas wahid di benua pusat peradaban sepakbola memang bukan hal yang mudah. Skor 3-1 mengantarkan Real Madrid membawa pulang trofi Liga Champions untuk ketiga kalinya secara beruntun, menyisakan dendam di hati para Liverpudlian. Dendam itu mengarah pada satu nama: Sergio Ramos.
Blog pribadi yang berisi ide-ide subyektif di sana-sini, tergantung jari yang terus menari. Boleh komentar, namun biasakan baca sampai selesai. Boleh diambil, asal kuat iman. Ini bukan dalil, tak perlu dianggap serius. Kalau terlanjur serius, apa boleh buat.
Showing posts with label esai. Show all posts
Showing posts with label esai. Show all posts
11 June 2018
25 June 2014
Matilah Segala yang Kau Ketahui!
![]() |
| Dok. Teater Kinasih (Rohro) |
“Jangan!’” tahan Gerbong 1.
“Aku tetap inging bicara.”
“JANGAN!!” Gerbong 1 marah sambil membungkam mulutnya sendiri, sementara Gerbong 2 menutup matanya dan Gebong 3 menutup kupingnya.
Keempat tokoh itu saling beragumen antara ingin melanjutkan perkataannya atau tidak. Sampai akhirnya mereka berempat berbicara dengan suara yang tidak jelas, lalu semuanya tertawa dan perlahan keadaan mulai hening.
04 December 2012
Peran Mahasiswa dalam Menciptakan Jurnalisme Warga
Jurnalisme warga, menurut wikipedia, adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. Sebagai mahasiswa komunikasi, tentu, jurnalisme warga sudah tak asing lagi di telinga kita. Saat ini semua sudah bisa menjadi wartawan.
Dalam sebuah esai di harian Kompas (13/10/2012), Agus Sudibyo, seorang anggota Dewan Pers, mengatakan, “Hampir semua kalangan masyarakat dapat menjalankan laku jurnalistik; mencari, merekam, mengolah, dan menyebarkan informasi dalam pelbagai bentuk. ..... Dalam berbagai kasus, jurnalisme warga memiliki pengaruh lebih besar dari jurnalisme konvensional,”[1] –dalam hal ini, media mainstream.
Jurnalisme warga, yang saat ini menjadi fenomena di Indonesia, lahir dari ketidakpuasan masyarakat dengan media massa yang ada. Media-media besar semakin hari semakin berpihak kepada kepentingan penguasa. Informasi yang dihadirkan sering kali tidak berimbang. Hal ini yang menyebabkan masyarakat tidak puas dengan berita-berita yang disajikan di media mainstream.
Banyak kepentingan yang terdapat di dalam informasi yang disajikan media massa. Mulai dari kepentingan politik, ekonomi, dan lain sebagainya, yang semakin membuat media massa tidak seimbang (cover both side) lagi dalam menyampaikan isi pernyataan. Yang dirugikan adalah masyarakat, yang mengkonsumsi media tersebut. Masyarakat diberikan mitos melalui tanda (bahasa) oleh media, kemudian media mengemas mitos itu dengan rapi, sehingga mitos itu dianggap sebagai sebuah kebenaran oleh khalayak. Mitos-mitos yang diciptakan media mainstream membuat masyarakat terperangkap dalam tanda-tanda yang diberikan tanpa tahu kebenarannya, bagaikan seekor katak dalam tempurung. Dalam kepalsuan mitos itu pula, kualitas pikiran masyarakat terus menurun. Oleh karena itu, mitos yang dihasilkan oleh media perlu untuk dibongkar, diketahui asal-usul kebenarannya.
Dalam sebuah esai di harian Kompas (13/10/2012), Agus Sudibyo, seorang anggota Dewan Pers, mengatakan, “Hampir semua kalangan masyarakat dapat menjalankan laku jurnalistik; mencari, merekam, mengolah, dan menyebarkan informasi dalam pelbagai bentuk. ..... Dalam berbagai kasus, jurnalisme warga memiliki pengaruh lebih besar dari jurnalisme konvensional,”[1] –dalam hal ini, media mainstream.
Jurnalisme warga, yang saat ini menjadi fenomena di Indonesia, lahir dari ketidakpuasan masyarakat dengan media massa yang ada. Media-media besar semakin hari semakin berpihak kepada kepentingan penguasa. Informasi yang dihadirkan sering kali tidak berimbang. Hal ini yang menyebabkan masyarakat tidak puas dengan berita-berita yang disajikan di media mainstream.
Banyak kepentingan yang terdapat di dalam informasi yang disajikan media massa. Mulai dari kepentingan politik, ekonomi, dan lain sebagainya, yang semakin membuat media massa tidak seimbang (cover both side) lagi dalam menyampaikan isi pernyataan. Yang dirugikan adalah masyarakat, yang mengkonsumsi media tersebut. Masyarakat diberikan mitos melalui tanda (bahasa) oleh media, kemudian media mengemas mitos itu dengan rapi, sehingga mitos itu dianggap sebagai sebuah kebenaran oleh khalayak. Mitos-mitos yang diciptakan media mainstream membuat masyarakat terperangkap dalam tanda-tanda yang diberikan tanpa tahu kebenarannya, bagaikan seekor katak dalam tempurung. Dalam kepalsuan mitos itu pula, kualitas pikiran masyarakat terus menurun. Oleh karena itu, mitos yang dihasilkan oleh media perlu untuk dibongkar, diketahui asal-usul kebenarannya.
Pry S Pry dalam esainya di situs Jakartabeat.net mengatakan:
Tapi seiring
waktu, kebutuhan masyarakat untuk lebih dari sekedar memahami kompleksitas
zaman macam apa yang tengah terjadi di lingkungannya makin menguat. Media massa
sebagai sumber pengetahuan publik dalam konteks kebudayaan populer paling
strategis, dituntut untuk berperan menuntun publik lebih dari sekedar
menyajikan berita-berita kering nan kaku. Independensi, objektivitas, dan
universalitas tadi pun ramai-ramai digugat. Sebab seterang apapun fakta
disucikan, bukankah rumus 5W+1H itu adalah buah pikir subjektif sang jurnalis
ketika menentukan bagian mana yang harus dijadikan lead dan peristiwa apa yang dipilih untuk jadi headline.[2]
Seorang jurnalis tak mungkin lepas dari subjektifitasnya dalam menyampaikan informasi kepada khalayak. Jurnalis bukan seorang Nabi atau Rasul yang membawa kebenaran mutlak, karena kebenaran itu relatif. Oleh karena itu, masyarakat sendiri yang harus aktif untuk mencari kebenaran tersebut.
Kerja jurnalis sebagai profesi hari ini bukan lagi bagaimana memperjuangkan idealisme tunggal dari pribadi yang narsistik dan mungkin juga sedikit nyeni yang menjual mimpi-mimpi palsu akan independensi, objektivitas, dan universalitas, tapi sebagai kerja kreatif tim yang juga mengandung praktik kelas di dalamnya; reporter bergaji murah sebagai buruh middle class yang bekerja mengumpulkan fakta, redaktur sebagai elit kecil yang memegang kemudi dari balik mejanya menjelang deadline hingga tengah malam buta, dan pemimpin redaksi yang merancang strategi dan menyusun bagaimana komposisi idealisme dan komersial di tengah ketidakpastian konteks politik ekonomi yang selalu tarik menarik.[3]
Masyarakat yang memiliki sikap kritis, tentu, tidak begitu saja percaya dengan apa yang disaksikan melalui media massa. Mereka, yang masih bisa sedikit kritis, akan berusaha membongkar fakta yang diberikan oleh media mainstream. Namun, mitos yang dihasilkan oleh media massa, tidak lantas menjadi alasan untuk membenci media yang notabene-nya memberi informasi. Media hanyalah alat menyampaikan informasi. Jika ada yang harus disalahkan, tentu bukan medianya, namun kepentingan di balik media tersebut.
Salah satu cara untuk membongkar mitos tersebut adalah dengan bersikap independen. Dan, berusahan untuk menciptakan media yang dinilai lebih jujur, obyektif, tanpa adanya kepentingan para penguasa. Mahasiswa tentu memiliki peranan yang penting dalam upaya membongkar mitos-mitos yang ditampilkan oleh media massa dengan membuat sebuah wadah informasi yang independen. Sebagai pelaku intelektual, mahasiswa berkewajiban untuk mengarahkan lingkungan sekitarnya agar menjadi cerdas dalam memilih dan menerima informasi dari berbagai gempuran media. Dan, tidak hanya sekedar menerima, tetapi juga bisa menghasilkan informasi, yang bebas dari kepentingan penguasa, kepada khalayak luas. Dari hal tersebut munculah jurnalisme warga, sebagai media dari dan untuk untuk masyarakat.
Jurnalisme warga lahir dari masyarakat yang muak dengan media massa mainstream, yang seragam. Mereka, masyarakat yang muak dengan media mainstream, lantas mencari media alternatif, mengamati dan mulai menirukannya. Sadar atau tidak, mereka telah menjadi media –setidaknya media untuk menyalurkan pemikirannya sendiri. Saat ini masyarakat dapat dengan sangat mudah menjadi media yang memnyampaikan pikiran-pikirannya tentang isu atau kondisi yang sedang terjadi melalui situs jejaring sosial yang ada. Jika antusias seperti ini dikelola dengan baik, seperti jurnalisme profesional, tentu akan menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menemukan informasi yang berbeda dari berbagai perspektif.
Namun, terjadi sesuatu yang ironis dalam kehidupan media di Kampus Tercinta. Ketika jurnalisme warga sedang mengalami masa keemasannya, kehidupan media di Kampus Tercinta justru mandeg di situ-situ saja. Lihat saja, Epicentrum, yang memiliki sejarah panjang dan terkenal “doyan” mengritisi kebikajan di Kampus Tercinta, sudah susah untuk ditemui saat ini. Eleven, produk resmi Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (Himajur) IISIP, yang tak jelas ditribusi penerbitannya. Dan, masih banyak lagi media kampus yang “hidup segan, mati pun tak mau”. Kampus yang terkenal dengan sebutan Kampus Jurnalistik, justru kehidupan medianya seperti mengalami “mati suri”.
Kampus, yang katanya, dulu forum-forum diskusi berbau paham ke kiri-kirian atau lebih demokratis banyak ditemui di setiap kumpulan. Namun saat ini, semua hanya kenangan. Kita, sebagai mahasiswa generasi yang sedang melakoninya, tak bisa lagi merasakan aroma pertempuran melalui media kampus. Semua hanya tergambarkan dari cerita-cerita senior yang mesih tersisa.
“Don’t hate the media, just be the media,” begitulah salah seorang kawan saya, salah satu alumni IISIP Jakarta yang sempat merasakan ramainya kehidupan media di Kampus Tercinta, berucap. Jangan pernah menyalahkan media bila kita tak dapat berbuat apa-apa. Setidaknya, bertindaklah sebagai media. Media yang menghasilkan pikiran-pikiran segar, yang telah lama hilang dari media-media besar dan juga telah terbenam dalam lingkungan kampus kita. Yang pasti, mahasiswa, seperti kita, adalah masyarakat yang berkesempatan untuk menjadi intelektual yang bertindak secara independen.
Sudah jelas tugas kita sabagai mahasiswa, sebagai masyarakat yang berkesempatan menjadi kaum intelektual, haruslah mencari alternatif untuk masyarakat banyak –minimal dalam lingkungan kampus. Ketika media massa mulai mandeg, berisi berbagai kepentingan ekonomi politik, saatnya bagi media kampus bersikap independen dalam memberikan informasi. Karena hanya mahasiswa yang memiliki kesempatan itu dengan sangat besar dan mampu bersikap independen tanpa kepentingan yang muluk-muluk. Pun ada kepentingan, itu hanyalah pencarian eksistensi kehidupan yang alami.
12 June 2012
Hilangnya Kebudayaan dalam Sistem Pendidikan
Mei merupakan bulan yang identik dengan pendidikan. Karena setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hari Pendidikan Ini diambil dari hari lahir Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau lebih akrab dengan nama Ki Hajar Dewantara pada tanggal 2 Mei 1889 yang merupakan pahlawan pendidikan Indonesia.
Dahulu, Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, bersusah payah untuk membangun sistem pendidikan Indonesia yang sesuai dengan budaya dan karakteristik bangsa. Maka, lahirlah Taman Siswa pada 3 Juli 1922 sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat. Ki Hajar Dewantara berharap dapat menciptakan generasi muda yang dapat bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsanya. Sampai pada saatnya, Bapak Pendidikan Nasional bersama Taman Siswanya berhasil mengantarkan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan.
Namun, keadaan saat ini telah berubah. Pedidikan bukan menjadi lagi sesuatu yang menolong bangsanya, tapi pendidikan digunakan untuk memperkaya diri sendiri tanpa memikirkan bangsanya. Jelas, sistem pendidikan saat ini sangat berbanding terbalik dengan ekspetasi para pendiri bangsa. Ini merupakan akibat dari pendidikan yang hanya menekankan pada sisi intelektual saja. Padahal, Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan, bahwa pendidikan yang hanya menekankan aspek intelektual akan menjauhkan para peserta didik oleh masyarakat. Dari sisi psikologis, pendidikan saat ini hanya mementingkan cipta yang mengakibatkan kekosongan pada rasa dan karsa. Pendidikan yang dipengaruhi oleh unsur-unsur cipta, rasa, dan karsa memang sangat penting. Karena jika cipta, rasa, dan karsa iru menjadi satu, maka ketika itu pula hati, pikiran, roh, tubuh, dan lingkungan akan menjadi satu keseimbangan dalam diri manusia.
Pedidikan dan budaya adalah syarat mutlak bagi sebuah bangsa untuk dapat bertahan dalam mengarungi samudra. Pendidikan dan budaya memiliki andil yang sangat besar dalam upaya menjadikan Negara Republik Kesatuan Indonesia benjadi sebuah bangsa yang utuh dan dipandang oleh dunia. Namun, secara perlahan tapi pasti bangsa ini mulai terbuai dengan kemerdekaan. Pendidikan berubah menjadi syarat untuk mencari makan, sedangkan budaya hanya tinggal kenangan yang diabadikan dalam gudang.
Merupakan hal yang wajar, jika sampai saat ini korupsi merajalela di bangsa ini dan nilai-nilai agama dirusak oleh kekerasan. Hilangnya unsur unsur budaya Indonesia dari dunia pendidikan sumber dari segala kebobrokkan yang dialami oleh bangsa ini. Pendidikan saat ini telah meningggalkan karakter bangsa yang sesungguhnya. Karakter bangsa yang ramah, telah berubah menjadi apatis. Bangsa yang terkenal dengan ke-bhineka-annya, sudah menjelma menjadi perusak atas nama perbedaan.
Pemerintah harus berupaya untuk mengembalikan karakter bangsa sesuai dengan kodratnya. Banngsa yang terkenal dengan keramahannya dan menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Untuk merubah kondisi bangsa yang sudah seperti ini memang bukanlah proses yang mudah. Namun, jika pelaksanaan pendidikan karakter tidak juga terlaksana, maka harus menunggu sampai kapan lagi untuk melihat bangsa ini merdeka seutuhnya?
23 April 2012
Satu Porno Semua Parno
Nama saya Sujarwo Wijiatmoyo asal dari Purwokerto, tapi bisa dipanggil Mbah Jarwo. Saya biasanya dimintai petuah atau wejangan oleh masyarakat agar sukses, padahal hidup saya sendiri ndak sukses. Hehehe..dasar wong ndeso! Kalau mau sukses ya usaha!
Sabtu kemarin, saya pergi ke Jakarta dalam rangka memenuhi panggilan untuk menjadi hakim dalam sidang kasus korupsi Angie. “wah, lumayan bisa mejeng muka di TV..” dalam pikiran saya. Sampai di Jakarta, kawan kawan aktivis justru sedang heboh mendiskusikan satgas anti pornografi atau apapun lah itu namanya. Saya pun bingung, memang benar-benar bingung mau bicara apa. “Apa saya salah denger waktu dipanggil ke Jakarta? Perasaan, suruh ngurusi kasus Angie, ini kok malah pornografi?” hati kecil saya berbisik. Tapi, kemudian saya larut dalam diskusi yang cukup panas itu. Porno itu kan subjektif, terus bagaimana cara memberantasnya? Wong yang jelas-jelas objektif seperti korupsi saja ndak pernah tuntas.
Saya jadi teringat pada suatu ketika, di Jakarta pernah ada juga (mungkin sampai sekarang masih berlaku) aturan untuk tidak merokok di tempat umum. Kalau ada yang melanggar peraturan ini akan disidang di tempat. Algojonya itu Satpol PP. Toh, nyatanya sang algojo yang mulia malah ikutan ngerokok. Payah.
Kembali lagi ke kasus satgas pornografi. Kasus? Lah memangnya mereka salah apa? Oh, saya keliru, maksud saya kembali lagi ke calon kasus satgas anti pornografi. Saya yakin kalau sebenarnya orang-orang yang membuat rencana ini bermaksud baik, untuk melindungi kita semua dari tindakan pelecehan seksual atau bahasa kerennya digerepe-gerepe. Namun, karena rakyat Indonesia ini sudah pintar semua, maka salah memaknai sedikit, masalah bisa jadi rumit. Teman saya, Sal, menilai kalau aturan ini melanggar hak asasi manusia untuk memamerkan pahanya.
Suatu hari, ada teman cucu saya yang cantik,Tantekul, pergi ke kampus dengan memakai rok mini. Saat pulang kuliah, di dalam angdes (angkutan desa), pepek dan teteknya diremes-remes sama si Suman, supir angdes yang sudah seharian belum dapat setoran. Kalau sudah digerepe-gerepe, baru Tantekul melapor ke petugas kalau paha ini hanya untuk dilihat tidak untuk disentuh. Tantekul bilang “dasar pikiran kotor! Baru liat paha aja langsung nepsong..” Suman berkilah “maaf tadi saya khilaf”. Yah, bagaimana orang yang seharian belum dapat setoran pikirannya ndak khilaf? Logikanya, orang yang laper akan susah berpikir benar, kelakuannya ngawur cenderung kurang ajar, ..wong laper kok suruh membela kebenaran! Jadi yang salah yang membuka pameran paha atau yang punya pikiran kotor?
Saya jadi merasa ngeri sendiri kalau nanti saya bertemu cucu saya di tempat umum, saya peluk dia, akan ditangkap karena dianggap adegan porno. Lebih kasihan lagi, orang-orang yang kamar mandinya terpisah dari rumahnya, sehabis mandi jalan ke rumah pakai handuk doang, malahan ditangkap karena dianggap menggoda si Iman.
Wah, saya lupa harus ngurusi mbak Angie di ruang sidang... (MJ)
19 December 2011
Mengembalikan Kejayaan Indonesia
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Mulai dari kekayaan alam yang berlimpah hingga beragam budaya ada di bumi pertiwi kita ini. Pada lirik lagu kolam susu yang dipopulerkan oleh Koes Plus, digambarkan betapa kayanya tanah air kita ini, “bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala untuk menghidupimu”. Lagu tersebut secara jujur menceritakan keindahan alam Indonesia dan betapa mudahnya untuk mencari makan. Memang itulah gambaran tentang Indonesia pada tahun 1970-an. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Alih-alih dapat hidup serba cukup, namun yang kita lihat masih banyak rakyat yang harus hidup dengan mengandalkan belas kasihan orang lain.
Ini merupakan bukti nyata bahwa ketersediaan sumber daya alam yang melimpah di suatu negara tidak menjamin negara tersebut menjadi maju. Kita seharusnya belajar kepada Jepang yang wilayahnya sangat tebatas tetapi dapan menjadi negara yang maju di bidang teknologi dan informasi. Begitu pula dengan Swiss yang tidak memiliki perkebunan coklat tetapi dikenal sebagai negara penghasil coklat terbaik di dunia. Negara-negara dengan sumber daya alam yang terbatas justru menjadi negara-negara yang maju dengan sumber daya manusia yang maju pula. Lalu terbesit pertanyaan yang menggoda, sebenarnya apa yang salah dengan Indonesia ini?
Rakyat kita memang masih terus terbuai oleh kejayaan Indonesia masa lalu, Indonesia yang kaya, yang suatu saat akan kembali sendirinya. Namun, nyatanya kekayaan itu telah hilang terkikis oleh rezim orde baru dan para penerusnya sampai saat ini. Korupsi yang sudah menjadi tradisi (mungkin sudah dianggap wajar), birokrasi yang semakin bobrok hingga para PNS muda dengan mudah mencari celah untuk korupsi, yang lebih parah adalah sikap apatis rakyat yang membuat Indonesia semakin menjauh dari kejayaan masa lalu.
Mengembalikan Indonesia seperti pada kejayaan masa lalu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bukan berarti tidak bisa dikembalikan lagi. Untuk memajukan suatu negara tentu harus didukung oleh sumber daya manusia yang bermutu, baik dalam pengetahuan maupun moral. Saya rasa pengetahuan masyarakat Indonesia tidak perlu diragukan, namun yang perlu diperbaiki adalah masalah moral dan kemauan untuk berubah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bermoral. Kemauan untuk maju harus dimulai dari dalam diri sendiri. Dosen saya pernah berkata, “untuk menghentikan korupsi hanya ada satu jalan, yaitu berjanji pada diri sendiri untuk tidak korupsi”. Jika anda tetap apatis, maka tidak akan ada yang berubah dengan Indonesia kita ini.
29 August 2011
Rock N Roll di Scene Indie
Mungkin kita sudah tahu apa yang dimaksud dengan musik indie. Indie bukanlah sebuah genre musik, indie adalah sebuah scene musik yang di dalamnya terdapat jenis musik yang beragam. Mungkin kita sudah mengetahui musik-musik di scene indie seperti White Shoes & The Couples Company, Mocca, Efek Rumah Kaca, The S.I.G.I.T, Sore, The Safari, Dagger Stab, Pure Saturday, Goodnight Electric dan masih banyak lagi band dan musisi yang menyuarakan kejujuran dalam bermusik. Meraka menciptakan pasar sendiri yang bertolak belakang dengan “mainstream”. Di scene musik indie genre-genrenya sangat beragam mulai dari pop yang manis, jazz yang individual, rock n’ roll yang ugal-ugalan, punk yang anti publikasi, sampai metal yang terdengar sangat bising.
Keberadaan Rock and Roll di scene musik indie cukup dapat diterima oleh orang-orang yang kupingnya sudah bosan mendengar rengekan dari musik-musik industri. Kita sebut saja The Brandals, band rock n’ roll asal ibukota yang ugal-ugalan. The S.I.G.I.T, yang mungkin tak se ugal-ugalan band-band rock n’ roll yang lainnya tetapi memiliki prestasi yang dapat di pehitungkan. Teenege Death Star, band yang di punggawai oleh manusia-manusia yang sangat berperan di scene indie kota kembang yang seperti “hidup segan mati pun tak mau.”
Band-band tersebut adalah band-band yang sudah memiliki nama di scene indie. Memang untuk menjadi band/musisi ternama di scene indie itu memerlukan perjuangan yang sangat berat. Band/musisi yang memilih indie sebagai scene-nya harus memiliki attitude.
Sebenarnya saya juga kurang paham tentang sejarah rock n’ roll di scene indie, maka dari itu kita ganti topik aja jadi “Rock and Roll Semau Gw” haha! Kalau setahu saya tentang rock n’ roll itu selalu benar. Menurut artikel yang pernah terbaca oleh sang penulis, ada sebuah kata “rock n’ roll tak pernah salah.” Memang istilah ekstrim itu tidak salah. Kita lihat saja “Teenage Death Star,” band yang mempunyai slogan “Skill Is Dead” itu bukanlah band biasa. Sat NB “bassist” yang juga merupakan vokalis dari Pure Saturday itu pernah bermain dengan volume ampli-nya yang sangat kecil karena ia belum bisa bermain bass. Dan kalau melihat aksi panggungnya TDS pasti ada saja kejadian lupa lirik atau lupa kunci. Tapi secara musikalitas Teenage Death Star lebih baik dari The Changcuter. Aksi panggung yang tanpa persiapan seperti itu memang sudah menjadi bagian dari TDS. Walaupun usia para personelnya sudah tak remaja lagi, namun mereka tetap energic dan ugal-ugalan melebihi anak-anak muda yang merasa paling tahu tentang rock n’ roll, yang hanya bermodalkan celana jeans ketat dan baju Ramones-Rolling Stones-Sex Pistols AC/DC, padahal belum pernah mendengar musik rock n’ roll itu sendiri. Ke-ugal-ugalan di atas panggung itulah yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik TDS bagi anak muda untuk meneriakan kata “Skill Is Dead.”
Mungkin dari masalah di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sampai saa ini istilah “rock n’ roll tak pernah salah” itu masih dihargai.
29 March 2011
Betapa Kasihan Generasi Muda Indonesia Sekarang
“Anak-anak adalah sumber daya dunia yang paling bernilai, dan mereka harapan terbaik untuk masa depan.” John F Kennedy, Presiden Amerika ke-35 {1917-1963).
Kadang saya merasa prihatin kepada pergaulan anak sekarang. Ketika saya mengenang masa lalu, yang teringat adalah kesesangan di raut muka saya yang sedang sibuk barmain di terik matahari yang masih bisa mengintip dari dedaunan pohon sawo yang masih lebat. Seingat saya, permainan yang paling gemar kami mainkan adalah permainan singkong, petak umpet, petak jongkok, asin, dan lain-lain tergantung permainan apa yang sedang musim. Ketika senja menjelang, saya pun bergegas ke lapangan, tepatnya lahan kosong tak terpakai untuk bermain sepak bola, layangan, atau sekedar bercanda dengan teman yang lainnya. Lalu, ketika malam libur tiba, kebun singkong tetangga pasti ada yang tercabut antara satu sampai tiga pohon singkong yang akan kami bakar umbinya.
Tapi ketika melihat pergaulan anak sekarang, saya merasa kasihan dengan mereka, karena mereka mengalami masa kecil yang selalu dibayangi oleh internet. Dampak dari kemajuan teknologi memang sangat merubah perilaku setiap manusia, tak terkecuali mereka yang masih belia. Memang setiap manusia perlu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dengan linkungannya agar tidak menjadi gaptek.
Hal yang membuat saya merasa kasihan terhadap generasi sekarang adalah mereka sudah tidak punya lagi arena bermain secara nyata. Mungkin yang menyebabkan banyaknya anak usia belia “kecanduan” dunia maya adalah karena kurangnya lahan untuk menjadi tempat mereka bermain di dunia nyata. Hal ini dapat dengan mudah dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk merangkul korbannya lewat dunia maya. Lahan kosong yang dahulu menjadi tempat saya bermain, kini telah menjadi sejejer rumah kontrakan yang lebih menjanjikan uang.
Dalam hal ini, pemerintah harusnya berperan lebih aktif untuk membuat arena bermain untuk anak-anak yang sebagian besar dari kalangan kurang mampu. Tentu saja pemerintah tidak mungkin mewujudkan hal itu kalau kita sebagai masyarakat tidak mendukung upaya yang dilakukan pemerintah tersebut. Banyak taman bermain yang telah dibuat oleh pemerinta tetapi tidak dirarat oleh waga sekitar. Sehingga banyak pihak yang menjadikan arena bermain untuk anak atau taman-taman sebagai tempat “mesum” muda-mudi cabul atau menjadi tempat “nongkrong” preman-preman pasar.
Dengan keadaan yang seperti ini, anak-anak pun lebih memilih warnet sebagai arena bermain mereka daripada harus bermain di taman. Dalam posisi seperti ini, anak-anak memang tak punya pilihan untuk melakukan permainan. Tidak sama separti saya pada waktu masih kanak-kanak, selalu ada pilihan untuk melakukan permainan yang saya sukai.
Subscribe to:
Posts (Atom)



