Pages

Showing posts with label kritik. Show all posts
Showing posts with label kritik. Show all posts

07 December 2018

Isu #4

Sebagai anak muda yang pernah sok punk, tentu saja saya pernah mendengarkan lagu-lagu Superman is Dead (SID). Tapi, sebagai anak yang tinggal di pinggiran Jakarta, saya juga pernah (dan mungkin masih) mencintai dangdut cum koplo. "Gedung Tua", "SMS", adalah dua di antara lagu-lagu yang pernah mengisi waktu, ketika masih SMP kalau tak salah.

16 March 2015

Dakwah

Foto: Akumassa.org

Sabtu sore, di depan kampus kecil yang melulu memasang banner Andy F. Noya, terlihat tak mau kalah spanduk habib terbentang begitu lebarnya. Saya lupa nama habibnya. Isinya ajakan untuk datang ke majelisnya.

Andai habib memakai android dan menginstal aplikasi Line, pasti ia tak perlu repot-repot mengeluarkan biaya Rp 30 ribu per meter untuk mencetak spanduk, banner, apalah namanya. Karena sia-sia. Setidaknya bagi saya.

Andai juga ia berpikir pragmatis seperti kampus di seberang jalan spanduknya dipasang, ia tak terlalu rugi. Prinsipnya sederhana, cetak satu, gunakan selama mungkin.

Syahdan, habib tetap berdakwah. Pun saya menulis ini tanda tak suka caranya berdakwah. Karena bukan habib yang mencetak poster, menutup jalan, dan berjualan di trotoar. Habib tak tahu urusan sepele itu. Tugas habib lebih dari itu.

Propagandis, kalau dilihat dari ilmu propaganda. Seperti Sacra Congretario de Propaganda Fide, majelis propaganda yang mengontrol misionaris Katolik pada abad XVII.

Propaganda masih ada. Ginting, dosen mata kuliah Propaganda dan Psywar di kampus saya, bilang, propaganda tidak selamanya buruk. Karena ia adalah ilmu, dan dasar ilmu pastilah baik. Propaganda yang baik adalah propaganda yang tak terendus bahwa itu buruk.

Dakwah adalah salah satunya.

07 January 2015

Apa yang Salah dengan Upacara Bendera Hari Ini?


GEDUNG tiga lantai itu nampak megah. Lonceng tanda upacara bendera secara otomatis membuat siswa-siswi berseragam putih-merah, lengkap dengan atribut dasi dan topi, berhamburan dari kelasnya menuju lapangan untuk berbaris. Bendera merah putih sudah berkibar. Upacara hari ini tidak seperti kegiatan rutin menaikkan bendera di setiap Senin pagi. Ada hal penting yang patut dirayakan dengan upacara.

Alih-alih menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, guru mereka datang bak dirigen handal memainkan kedua tangannya dan siswa-siswi bernyanyi lagu “TV, Jasamu Tiada...”

01 January 2015

Selayang Pandang Heterogenerasi

semoga berkah
Semoga Berkah on stage (Dok. Kremmasi).
Euforia Natal belum selesai. Masih banyak pohon cerama berhias lampu-lampu yang menyala mesra. Belum lagi, hujan di bulan Desemeber yang semakin syahdu. Jumat ini adalah Jumat yang sempurna. Sempuna untuk tidur berdekap selimut dalam kamar yang hangat.

Matahari sudah tenggelam. Hujan belum kelar. Saya memandang layar ponsel menunggu kabar.

28 September 2014

Cerita dari Pojok Ruang V-2

Saya menulis ini dengan emosi. Pasalnya, kegiatan untuk berkarya dihalangi. Padahal Orde Baru telah lewat. Namun mentalnya masih tertanam. Mental untuk memberangus kebebasan.

Jadi ceritanya, saya sedang melakukan latihan teater untuk pementasan di Bulungan, dalam rangka mengikuti Festival Teater Jakarta Selatan. Seperti biasa, satpam datang mendatangi ruangan tempat kami latihan untuk segera menyudahi latihan. Saya berbicara sebentar dengan satpam tersebut, ia mengerti dan memberi waktu tambahan. Saya melanjutkan latihan.

24 June 2014

Realitas dalam Sastra


Meminjam kata-kata dalam kumpulan esai, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara milik Seno Gumira Ajidarma, "Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku Sastra bisa dibredel, tetapi kebenaran dan kesustraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan."

23 June 2014

Beranda Taman Seni: Ketika Seni Berdampingan dengan Perlawanan

Foto: Fachrul Irwinsyah (Kaphac32)
Kehidupan di dalam kampus, yang ketika pukul delapan malam sudah dipaksa pulang, adalah suatu yang (sangat) tidak mengasyikan bagi sebagian mahasiswa. Mahasiswa membutuhkan tempat untuk menyalurkan hasrat mudanya dengan berbagai kegiatan di luar kuliah, setelah dipaksa menyelesaikan 150 sks (sistem kredit semester) dalam ruangan kelas dengan sirkulasi udara dan cahaya yang seadanya.

01 April 2014

Janji Datangnya Kereta Kencana

Foto: Hana Sola Gracia

Bunyi selo dan piano mengisi ruangan yang gelap. Cukup lama hingga akhirnya lampu panggung perlahan menyala.

Dengan lilin yang masih menyala, orang tua itu (Indrasitas) memasuki ruang tamu –yang sekaligus menjadi ruang keluarganya. Umurnya, semenjak dua hari yang lalu, telah memasuki dua abad. Rambutnya putih, kumis dan janggutnya jua, menutupi seperempat wajahnya.

22 November 2013

Membaca Eleven yang Sayang untuk Dibuang

Diambil dari sebuah proyek yang belum selesai...


Akhir pekan lalu, saya bertemu dengan dua mahasiswa yang menjalankan blog ini untuk pertama kali. Berkumpulnya kami, sebagai mahasiswa yang bergerak di media on-line, membahas seputar media kampus. Kebetulan saya diberi tahu oleh anak-anak Pos Bawah, bahwa terbitan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (Himajur) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Eleven terbit kembali. Langsung saja kami membelinya.

03 November 2013

Sebuah Anugerah untuk Negeri yang Kaya

Bukan hal yang baru, bila ada yang mengatakan bahwa negeri kita kaya. Sumber daya alam melimpah, lautan yang indah, sampai ratusan suku bangsa, menyatu atas nama Indonesia.

18 February 2013

Narkoba, Artis, dan Petani



Baru-baru ini, media heboh memberitakan tertangkapnya beberapa artis kondang dan teman-temannya yang sedang pesta narkoba di kediaman Raffi Ahmad. Tentu saja, perhatian masyarakat terpengaruh oleh beberapa headline media massa untuk mengikuti perkembangan kasus tersebut dan menenggelamkan kasus Rasyid Rajasa yang belum jelas perkembangannya. Dari mulai proses pengintaian BNN, sampai dengan barang label tersangka yang kemudian diberikan kepada Raffi Ahmad dengan seksama diberitakan media-media besar.

Rasa kecewa muncul di masyarakat ketika mengetahui bahwa proses pengintaian terhadap Raffi Ahmad sudah dilakukan berbulan-bulan namun hanya menghasilkan barang bukti berupa dua linting ganja, dan beberapa narkoba lainnya. Banyak media yang membesar-besarkan beritanya, seakan-akan menampilkan pihak BNN sebagai pahlawan. Bila hanya dua linting ganja, setiap hari pun ada saja orang yang kedapatan transaksi dan memakai narkoba oleh polisi, dan beritanya hilang ditelan isu-isu lain seputar selibriti, yang menandakan masyarakat kita senang dijejali dengan kasus infotainment.

Namun, terlepas dari segala perspektif, penangkapan terhadap Raffi Ahmad dan taman-temannya membuktikan bahwa hukum yang terkait dengan narkoba terbilang sedikit tegas.

BNN sempat kebingungan untuk menentukan pasal yang akan dikenakan kepada tersangka. Pasalnya, barang bukti yang ditemukan merupakan dua linting ganja, ekstasi dan sebuah narkoba jenis baru yang undang-undangnya belum diatur. Narkoba jenis baru ini diketahui benama Methylone yang diduga turunan dari tanaman Cathynone atau Khat. Namun, Methylone  yang ada di tubuh Raffi belum diketahui bahan dasar sebenarnya. Dan, yang menarik adalah narkoba jenis baru ini yang ternyata ditanam dengan bebas di daerah Puncak, Jawa Barat.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Sumirat Dwiyanto, Khat menimbulkan efek jangka pendek mempercepat denyut jantung dan menjadikan mata tetap segar. Warga sekitar Puncak biasa menggunakan Khat untuk menambah stamina. Kurangnya informasi tentang pelarangan narkoba jenis baru ini pun membuat warga Puncak menanamnya dengan bebas.

Kekurangan informasi dari BNN ini menimbulkan efek yang cukup signifikan kepada warga yang sudah terlanjur mencari nafkah dari tamana Khat. Pihak polisi dan BNN menutup ladang mereka dengan garis polisi yang secara otomatis mematikan mata pencaharian mereka. Alih-alih memberikan ganti rugi atau pekerjaan bagi para penanam Khat, BNN malah mengancam mempidanakan para petani yang masih nekat menanam Khat.

02 July 2012

Bumi Semakin Rusak

Bumi semakin rusak. Itu adalah kalimat yang menggambarkan keadan saat ini. Asap-asap industrialisasi membuat lapisan ozon semakin lama semakin terkikis. Hutan, sebagian besar telah menjadi perkebunan yang lebih menjanjikan uang, sisanya hilang menjadi lembaran kertas yang jumlahnya tak terbatas. Sungai mengecil menjelma menjadi pemukiman kumuh. 

Saat ini manusia tidak lagi membangun sisbiosis mutualisme dengan alam. Para pemilik modal yang serakah menghabisi hutan demi keberlangsungan hidup sebuah perusahaan. Akibatnya, para penduduk hutan, seperti harimau, gajah, dan lain sebagainya, memasuki dan menyerang pemukiman warga untuk meminta pertanggung-jawaban. Hukum alam menjadi salah sasaran. Penduduk lokal tidak hanya tersiksa melihat alam sekitarnya dirusak oleh para penguasa, melainkan mereka pun ketadangan hewan-hewan yang murka karena habitatnya dirusak. Alam terus dieksploitasi, sementara para penguasa menikmati hasilnya sendiri. Hutan yang rusak sudah tidak lagi dapat menampung air, sehingga muncul genangan-genangan menyerupai banjir di hampir setiap jalan, di berbagai kota besar. 

Para pemimpin dunia telah bertemu di Rio de Janeiro, Brazil, untuk mengadakan Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Para pemimpin dunia mengajak kita untuk bergerak dari ekonomi yang serakah ke ekonomi hijau. Mereka tanpa henti menyuarakan pembangunan yang hijau demi masa depan yang lebih naik. Namun sayang, kepercayaan masyarakat sedang mengalami krisis, sehingga pertemuan ini dilihat dengan sikap skeptis dan apatis oleh banyak pihak. 

Bagaimanapun, upaya pertemuan para pemimpin dunia in harus diapresiasi sebagai langkah awal mewujudkan ekonomi yang hijau, yang tidak merusak alam. Masyarakat luas juga harus mendukung dan berupaya untuk melestarikan kegiatan tersebut, karena rencana sebaik apapun tidak akan dapat berjalan tanpa dukungan dari masyarakat luas. 

Setiap masyarakat memiliki peran untuk menjaga dan melestarikan lingkunagn. Alasan, yang paling sederhana, masyarakat memiliki kewajiban untuk melestarikan lingkungan adalah agar anak-cucu kita dapat merasakan alam yang saat ini kita rasakan, atau mungkin alam yang lebih baik lagi. Betapa egoisnya, bila kita hanya menguntungkan diri sendiri tanpa menyisakan hal yang berguna bagi generasi penerus kita. 

Bumi masih bisa diselamatkan. Tentu. Oleh karena itu, marilah kita membuat perubahan pada pola tingkah laku dalam diri sendiri. Perbuatan sekecil apapun dalam upaya melestarikan lingkungan tentu akan membawa efek yang positif bagi masyarakat banyak. Apa masih perlu menunggu korban lebih banyak lagi?

25 April 2012

Rakyat Lapar, Pendidikan Terlupakan

Kabar penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merupakan kegembiraan bagi rakyat Indonesia. Ada dua tipe masyarakat yang merasa diuntungkan.

Pertama, masyarakat miskin. Setidaknya mereka masih dapat bernafas untuk enam bulan ke depan. Kedua, masyarakat yang tidak tahu diri menggunakan BBM bersubsidi untuk mobil pribadinya yang mewah. Jika tidak ada tindakkan yang tegas dari penyelenggara negara, masyarakat tipe kedua akan tetap menjadi parasit bagi negara. Subsidi seperti ini kiranya tak akan mampu menyejahterakan rakyat Indonesia. Saat pendidikan dan kesehatan terabaikan, rasanya mustahil bagi sebuah bangsa untuk berkembang.

Pemberian subsidi pada BBM secara bebas hanya akan memanjakan kaum-kaum borjuis dengan kendaraan-kendaraan mewahnya. Laju penjualan kendaraan bermotor juga akan semakin meningkat, sementara pembangunan jalan tersendat.Akhirnya Jakarta sebagai pusat perekonomian di Indonesia akan lumpuh oleh kemacetan. Pada saat seperti ini memang sulit untuk mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi karena masyarakat selalu dimanjakan oleh pemerintah untuk menutupi kebobrokkan kinerjanya.

Masyarakat Indonesia seolah-olah dibentuk untuk memikirkan perutnya saja. Sekarang pendidikan hanya dianggap sebagai sebuah syarat untuk tetap bertahan hidup yang terbungkus dalam selembar ijazah. Ironis memang, tapi seperti itulah kenyataannya saat ini. Dengan demikian, saat BBM bersubsidi akan dinaikkan, rakyat akan marah, pun subsidi tersebut akan dialihkan ke sektor-sektor yang lebih berguna.

Masyarakat tidak lagi memikirkan bagaimana mereka harus sekolah, tapi mereka akan berpikir untuk bertahan hidup. Hal tersebut merupakan pembodohan kepada masyarakat. Rakyat dibuat tetap menjadi bodoh agar tidak mengurusi penguasa-penguasa yang korupsi. Tenggelamnya kasus Nazaruddin dan para petinggi Partai Demokrat pada saat isu kenaikan BBM bersubsidi merupakan contoh nyata bahwa masalah “perut” lebih penting dari masalah korupsi.

Pemerintah sepenuhnya bertanggung jawab atas keadaan sekarang.Ini adalah konsekuensi tetap membiarkan APBN tersedot oleh subsidi BBM. Jika keadaan tetap seperti ini, APBN tentu akan habis hanya untuk subsidi BBM.

Kesejahteraan rakyat tidak akan tercapai jika pendidikan dijadikan “anak tiri” oleh para penguasa. Pemerintah harus bersikap berani untuk mengambil keputusan, tentu keputusan yang cerdas, yang tidak membodohi masyarakat.

BAYU ADJI P Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta
Suara Mahasiswa Harian Seputar Indonesia
Thursday, 12 April 2012