![]() |
| Ilustrasi: Istimewa |
Blog pribadi yang berisi ide-ide subyektif di sana-sini, tergantung jari yang terus menari. Boleh komentar, namun biasakan baca sampai selesai. Boleh diambil, asal kuat iman. Ini bukan dalil, tak perlu dianggap serius. Kalau terlanjur serius, apa boleh buat.
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
13 July 2015
Rahasia Kecil dalam Sepucuk Surat yang Lusuh
09 January 2015
Perempuan dalam Kepala
![]() |
| Ilustrasi karya Popo, yang pernah jadi ilustrasi cerpen "Perempuan Tua dalam Rashomon"Kompas (5/12/2011). |
Entah
kapan petama kali ia datang dalam kepalaku. Pagi itu, saat matahari belum sempat
menyapa embun yang hinggap dalam rentangnya hijau daun, aku termenung lagi. Di dalam
cangkir masih ada sisa-sisa ampas pengembaraanku tadi malam, saat pikiranku menjelajah
setiap kemungkinan adanya kenangan tentang sosok perempuan dalam kepalaku ini.
28 December 2014
Penyair Pemalu yang Abadi
JAMES DOUGLAS MORRISON dan Alain Ronay duduk di kafe kecil nan sumpek di pusat fashion dunia, Paris. Hari itu adalah 2 Juli 1971. Mereka sama-sama gelisah. Morrison gelisah perkara nasibnya yang berubah cepat selama empat tahun belakangan. Ronay gelisah, mengingat pacarnya pasti memasang muka dengan bibir mengerut ke depan saat nanti ia sampai ke tempat janjiannya.
Ronay belum bisa pergi. Morrison, temannya, masih belum stabil untuk ditinggalkan. Ia seperti anak kucing yang tak mau ditinngal ibunya. Merayu untuk ditemani seharian. Ronay pasrah. Biarlah nanti pacarnya marah dengan cemberut, pikirnya. Toh wajah pacarnya saat cemberut lebih menggemaskan daripada saat libidonya berada di puncak.
04 August 2014
Doa Pagi untuk Diana
Setiap awal doa, selalu aku ucapkan, "Selamat pagi, Diana." Entah apa yang membuat aku begitu nekat. Tak tahu pasti apa sebabnya. Yang pasti, doa itu telah terucapkan.
Dalam kotak masuknya, doa-doa ini terpanjatkan. Seluruh doa pagi yang tertulis tak henti-henti selama 30 hari. Tugas telah terselesaikan. Sesuai janji.
02 August 2014
Laksmi Tak Pernah Pulang
Ilustrasi: lentera-pembebasan
|
Ramai-ramai warga desa mendatangi rumah di dekat portal masuk gang Kenari. Mereka membawa segala barang yang bisa digunakan untuk menghancurkan. Cangkul, pedang, parang, balok kayu, dan segala macam kerabatnya ada di tangan mereka. Amarah sudah mencapai puncaknya. Tak tertahan.
01 August 2014
Secangkir Kopi Pahit untuk Ayah
![]() |
| Kredit ilustrasi: di potonya udah ada. |
Pagi ini Zia tak seperti biasa. Tak ada koran di pangkuannya, tak ada telepon genggam, tak ada senyuman. Matanya hanya menatap lurus ke ujung jalan yang ramai, di mana orang-orang menghabiskan pagi di akhir pekan.
Sudah tiga cangkir kopi pahit ia habiskan. Ini cangkir keempat pagi itu. Sementara pikirannya masih berkelana entah ke mana.
25 July 2014
Aku, Kamu, Pram dan Mario
![]() |
copyright by bowo bagus*
|
“Aku suka ucapannya,” katanya pagi itu.
“Mengapa kamu masih saja mendengarnya sih? Berapa banyak
orang-orang sabar yang akhirnya tak bisa merdeka? Manusia adalah makhluk
berbudaya. Ia berdialektika, menggabungkan antara tesis dengan antitesis
sehingga menjadi sintesis. Begitu seterusnya. Hal itu tidak mengalir begitu
saja. Tesis adalah kebiasaan. Antitesis lahir dari perlawanan. Kita tak bisa
selallu mendengar. Harus melawan agar sintesis baru lekas ditemukan,” bantahku
kepadanya.
Ia diam dalam waktu yang lama. Cukup lama hingga tak ada
kabar berita, sampai aku merasa menang dalam satu pernyataan sekaligus pertanyaan.
Memenangkan sebuah pertarungan psikologis antara aku dan dia.
16 June 2014
Sesosok Suara dari Timur Dekat
![]() |
| Buku Gambar Sketsa J. H. Dowd |
Rokok
di dalam kotak merah itu hanya tersisa tiga batang. Kata-kata yang kujanjikan
untuknya belum lagi selesai kutuliskan. Entah mengapa, malam ini sungguh tak
menginspirasi. Tak seperti kemarin, ketika malam menerbangkan balon udara
berisi aksara yang rakus untuk keluar, bergerak pelan mengelilingi ruangan. Aku
telah mati akal.
04 May 2014
Menjadi Udara
Lembar
kertas masih itu tergeletak di dasar kamar. Surat yang dulu pernah dikirmkan
kepadaku. Aku masih belum mau membukanya lagi. Aku ingat, saat dulu membukanya,
aku tak berani untuk datang ke kamar ini, hingga hari ini kuberanikan diri. Kata-kata
yang ada di dalamnya adalah diksi tebaik yang pernah ada di semesta: Kematian.
04 October 2013
Tapak Kaki Titisan Dewa
Ilustrasinya minjem dari Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit
Dalam rumah itu, aku tinggal sendiri. Dinding retak, atap
tertembus cahaya kecil dan lantai yang berdebu menjadi pemandangan biasa,
mengisi hariku dengan biasa pula. Jarang sekali aku membersihkan rumah warisan
dari Emak Bapakku. Dulu tentu berbeda, Emak selalu membersihkan rumah selagi
libur.
25 September 2012
Durhaka Senja
Seorang mahasiswa, Acong namanya, ingin memberikan surat
perizinan ruangan kepada dosen, yang berusuran dengan kemahasiswaan, di
kampusnya. Acong, pemuda berpenampilan kurang sopan, terpaksa harus membeli map
–agar kelihatan formal-untuk menaruh suratnya itu. Dia menyulut sebatang rokok
kretek lalu berjalan menuju gedung rektorat, ruangan dosen yang bersangkutan.
Sebelum masuk, Acong, yang mesih menyimpan sedikit rasa sopan santun, menaruh
rokoknya di bebatuan sebelum masuk ke gedung rektorat. Di meja resepsionis,
seorang perempuan berparas manis yang sedang bertugas bertanya, “mau ngapain
lu?”
“Mau ngasih ini(menunjukkan surat yang dibawanya, Mbak.”
“Surat apaan tuh?”
“Surat buat minjem ruangan, buat latihan UKM.”
“Oh... itu mah di kasih ke BAU (Badan Administrasi Umum)
aja, nanti dari BAU langsung dikasih ke dosen. Yah, paling dua hari lu balik
lagi!”
“Oh.. gitu, Mbak? Oke deh.”
Acong pergi ke BAU yang jaraknya beberapa meter dari meja
resepsionis sambil melanjutkan menghisap rokoknya yang masih menyala. Jalan terasa
panjang dengan kekesalan yang belum sempat memuncak. Langkah gontai terus
dipaksa untuk sampai ke muka. Tiba saatnya berbicara.
“Mas, saya mau ngasih surat peminjaman ruangan, tapi katanya
suruh ditaruh di BAU.” kata Acong kepada petugas BAU yang wajahnya berbanding
terbalik dengan resepsionis yang sebelumnya ditemui.
“Sini coba saya lihat! Ini maha langsung kasih ke orangnya
aja atau titip di meja resepsionis!”
“Lah, tadi kata resepsionis, ditaruh di BAU!!??”
“Enggaklah, BAU itu surat buat pimpinan doang.” Kilah
penjaga BAU.
“Gitu ya? Yowes saya kasih ke resepsionis aja.” Tuntas Acong
yang jadi jengkel.
Ia mencoba tetap tenang dengan menghisap kretek yang masih
di tangannya dan kembali lagi ke meja resepsionis. Dihabiskan kreteknya itu
sebelum sampai depan pintu masuk. Kemejanya yang lecek dibiarkan kancingya
terbuka agar nampak layaknya seniman akademika yang tetap tenang meskipun kesal.
“Mbak, tadi saya disuruh orang BAU kasih langsung ke dosen”
“Masa sih? Sini suratnya, gue telepon dulu orangnya.”
Dua kali, resepsionis tersebut menelpon dengan sambungan
pararel, namun tetap tak ada jawaban dari dosen yang bersangkutan.
“Gak diangkat terus... nih gue kasih nomernya aja.” Sambil
dicatatkan nomer handphone dosen yang bersangkutan ke sobekan kertas yang baru
saja dirobeknya.
Acong yang lelah dan jengkel karena sudah mondar-mandir
namun tak juga dapat kepastian. Pikirannya tambah bingung ketika resepsionis
tersebut memberikan nomer handphone kepadanya. “itu kan ada telepon, kenapa gak
ditelepon sekalian?” gusar dalam hatinya. Ia lantas keluar meninggalkan meja
resepsionis dan mencoba menelpon dengan handphone-nya
sendiri. Tak lama kemudian teleponnya diangkat. Acong yang sudah lelah langsung
menjelaskan maksudnya ingin menemui dosen itu. Setelah percakapan yang singkat
dengan dosen yang bersangkutan lewat telepon, ia mendapat kepastian bahwa surat
izinya itu tinggaharus ditaruh di BAU.
Acong yang semakin merasa dikerjai oleh sistem birokrasi ini
bergegas ke BAU dan menyerahkan surat itu kepada petugasnya. “Mas, tadi
dosennya sudah saya telepon. Katanya ditaru di BAU aja.”
“Oh, yaudah sini...” enteng petugas BAU itu menyaut.
Kekesalan berubah menjadi dendam yang membatu, berpotensi
menghancurkan. Senja mulai hilang seraya mengakhiri seluruh kegiatan.
Subscribe to:
Posts (Atom)









