Pages

Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

13 July 2015

Rahasia Kecil dalam Sepucuk Surat yang Lusuh

Ilustrasi: Istimewa
Untuk kekasihku..

Hai, manis. Doaku dini hari ini adalah: semoga kamu tetap manis. Selalu manis.

Aku sangat ingin berterima kasih pada semesta yang telah mengatur pertemuan kita. November tahun lalu. Kepada semesta yang nantinya juga akan memisahkan jasad kita.

Sejak bertemu dan meminjam bukumu, buku yang ditulis oleh Haruki Murakami itu, aku tahu kalau kamu akan menjadi kekasihku. Pasti. Entah apa yang membuatku hakul yakin itu. Aku hanya yakin. Teramat sangat yakin.

Kamu tidak percaya? Oh, maaf. Aku tak berniat bertanya padamu. Sekarang aku tahu kalau perempuan tak suka ditanya. Dilan yang memberi tahu kepadaku. Dilan adalah novel karya Pidi Baiq yang aku pinjam dari temanku. Belum sampai habis aku membacanya. Tinggal tersisa beberapa puluh halaman lagi.

Aku anggap kamu tidak percaya. Maka aku akan menceritakannya untukmu, perempuan manis yang kini adalah kekasihku.

Aku adalah mahasiswa biasa di kampus yang biasa pula. Aku tidak flamboyan. Aku hanya kenal beberapa orang di kampus. Kalau orang-orang mengenalku, itu bukan urusanku. Tapi, kamu berbeda.

Kamu mengikutiku di Twitter. Aku mengikuti balik. Aku tahu kalau kamu itu satu kampus denganku. Juga satu angkatan dan satu jurusan. Tapi, aku tak pernah mengenalmu. Aku penasaran, siapa perempuan ini. Siapa sebenarnya dirimu, perempuan manis yang mengikutiku di Twitter.

Aku membuka halaman instagrammu, yang tertera dalam profil twittermu. Aku melihat foto-fotomu. Melihat potret buku Haruki Murakami dan di lain foto, potret temanku, Amat. Sejak itu, aku tahu kamu berteman dengan Amat.

Amat adalah mahasiswa yang dikenal banyak orang. Ia tergabung dalam sebuah komunitas fotografi. Tentu saja ia juga pandai mengabadikan peristiwa dari sudut lensa yang tak terduga. Aku mengenalnya ketika komunitasku meminta tolong kepada komunitas fotografinya, untuk keperluan dokumentasi.

Pernah aku melihat Amat sedang sendirian, membaca novel Gelombang karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Saat itu, Gelombang memang baru terbit, melanjuti serial Supernova yang selalu menjadi best-seller Dee sebelumnya, Partikel. Aku penasaran dengan isinya.

“Punya lu, Mat?” tanyaku kepadanya.

“Bukan. Punya temen gue.”

“Pinjem dong.”

“Lu bilang sendiri sana sama temen gue,” ucapnya ketus.

Aku langsung mengurungkan niat untuk meminjamnya. Nanti juga banyak temen gue yang beli, pikirku, sambil berharap sahabatku Nadira sudah membelinya sehingga bisa aku pinjam darinya.

Selain jago fotografi, Amat juga senang membaca. Dan ia adalah temanmu. itu yang penting dalam suratku ini.

Setelah beberapa lama, aku bertanya pada Amat tentang dirimu. Mungkin Amat telah lupa kalau kamu ingin mengonfirmasinya. Tapi aku akan selalu ingat. Aku meminta tolong Amat untuk bisa meminjam bukumu, novel Haruki Murakami itu. Berselang hari, Amat bilang, "Orangnya maunya langsung ketemu sama lu."

Amat langsung mengajakku menemuimu. Aku memberanikan diri, sekaligus sangat ingin, bertemu denganmu. Melihat wajah asli perempuan manis di Twitter itu.

Hari itu, Rabu bulan November, akhirnya kita bertemu. Di depan kantin, samping lapangan basket yang ditutupi pohon bambu. Kita berbicara tentang apa saja. Tentang kamu, aku, dan Miko, yang entah kebetulan atau tidak, sedang ada di situ.

Entah berapa lama aku duduk bersamamu di tempat itu. Cepat sekali rasanya. Waktu memang begitu relatif. Tidak kaku seperti kerah orang-orang yang berdasi itu. Bersamamu, pun menghabiskan berjuta waktu, rasanya cepat seperti kilat.

Dua tujuan utama hari itu telah tuntas; bertemu dan meminjam bukumu. Sebelum pergi, aku juga menjanjikan kopi untukmu sebagai bea meminjam novel Murakami. Hari ini aku cukupkan. Kopi itu untuk di lain waktu.

Hari itu aku yakin, kamu akan menjadi, apa namanya di atas tad? Kekasihku.

Kamu masih belum percaya, manis? Oh iya, maaf. Perempuan tak suka ditanyaDilan kembali datang ke dalam pikiranku.

Anggap saja aku masih menganggapmu belum percaya. Mari, manis. Duduklah tenang di samping laptopmu. Lewat surat ini, aku ingin membisikkan rahasiaku. Dengan pelan. Teramat pelan.

Setelah bertemu denganmu, Rabu di bulan November itu, aku langsung menulis. Sebuah puisi. Tentang Rabu yang bahagia.

Kamu mau membaca puisi itu lagi? Belum bosan juga kamu membacanya?

Itu adalah salah satu, dari yang tak terhingga jumlahnya, yang membuat aku hakulyakin kamu adalah kekasihku. Kamu tak pernah bosan membaca.

Puisi itu lahir begitu saja. Entah karena dan untuk apa. Mungkin karena dan untukmu. Semesta yang mengaturnya.

Saat itu, akun Twittermu masih aktif. Aku ingat juga, kamu membuat sebuah ilustrasi perjalanan hari Rabu di bulan November itu, dalam blog milikmu. Di sana ada namaku.

Kamu tak memberi keterangan pada namaku. "...untuk... yang ini skip dulu."

Itu yang membuat aku semakin yakin, kamu adalah teman hidupku. Tapi, manis, aku menganggap itu janji. Janji untuk menjelaskan siapa aku. Apa benar itu aku yang kamu maksud?

Aku harap kamu mampu melunasi janji itu. Harap. Sangat.

Kekasihku yang manis, masih ingatkah kamu tentang itu? Tentang masa aku mengenalmu dan yakin kalau kelak, kamu adalah kekasihku.

Apakah kamu sudah percaya? Meskipun Dilan berulang kali bilang kalau perempuan tak suka ditanya, aku tetap harus bertanya kepadamu.

Aku telah bertanya, bolehkah aku mencintaimu. Kamu menjawab ya. Boleh. Aku boleh mencintaimu. Selamanya. Sampai semesta mengatur perpisahan kita. Nanti.

Itulah rahasiaku, manis. Aku mencintaimu.

Manisku, tak perlu kamu takut dengan perpisahan. Itu adalah alasan kita pernah bertemu. Untuk berpisah.

Namun, aku ingin kamu selalu ingat sepenggal sajak Sapardi, yang pernah kuberikan untukmu, "Yang fana adalah waktu. Kita abadi."

09 January 2015

Perempuan dalam Kepala

Ilustrasi karya Popo, yang pernah jadi ilustrasi cerpen "Perempuan Tua dalam Rashomon"Kompas (5/12/2011).
Entah kapan petama kali ia datang dalam kepalaku. Pagi itu, saat matahari belum sempat menyapa embun yang hinggap dalam rentangnya hijau daun, aku termenung lagi. Di dalam cangkir masih ada sisa-sisa ampas pengembaraanku tadi malam, saat pikiranku menjelajah setiap kemungkinan adanya kenangan tentang sosok perempuan dalam kepalaku ini.

28 December 2014

Penyair Pemalu yang Abadi


JAMES DOUGLAS MORRISON dan Alain Ronay duduk di kafe kecil nan sumpek di pusat fashion dunia, Paris. Hari itu adalah 2 Juli 1971. Mereka sama-sama gelisah. Morrison gelisah perkara nasibnya yang berubah cepat selama empat tahun belakangan. Ronay gelisah, mengingat pacarnya pasti memasang muka dengan bibir mengerut ke depan saat nanti ia sampai ke tempat janjiannya. 

Ronay belum bisa pergi. Morrison, temannya, masih belum stabil untuk ditinggalkan. Ia seperti anak kucing yang tak mau ditinngal ibunya. Merayu untuk ditemani seharian. Ronay pasrah. Biarlah nanti pacarnya marah dengan cemberut, pikirnya. Toh wajah pacarnya saat cemberut lebih menggemaskan daripada saat libidonya berada di puncak.

04 August 2014

Doa Pagi untuk Diana

Setiap awal doa, selalu aku ucapkan, "Selamat pagi, Diana." Entah apa yang membuat aku begitu nekat. Tak tahu pasti apa sebabnya. Yang pasti, doa itu telah terucapkan.

Dalam kotak masuknya, doa-doa ini terpanjatkan. Seluruh doa pagi yang tertulis tak henti-henti selama 30 hari. Tugas telah terselesaikan. Sesuai janji.

02 August 2014

Laksmi Tak Pernah Pulang

Ilustrasi: lentera-pembebasan
Ramai-ramai warga desa mendatangi rumah di dekat portal masuk gang Kenari. Mereka membawa segala barang yang bisa digunakan untuk menghancurkan. Cangkul, pedang, parang, balok kayu, dan segala macam kerabatnya ada di tangan mereka. Amarah sudah mencapai puncaknya. Tak tertahan.

01 August 2014

Secangkir Kopi Pahit untuk Ayah

Kredit ilustrasi: di potonya udah ada.
Pagi ini Zia tak seperti biasa. Tak ada koran di pangkuannya, tak ada telepon genggam, tak ada senyuman. Matanya hanya menatap lurus ke ujung jalan yang ramai, di mana orang-orang menghabiskan pagi di akhir pekan.

Sudah tiga cangkir kopi pahit ia habiskan. Ini cangkir keempat pagi itu. Sementara pikirannya masih berkelana entah ke mana.

25 July 2014

Aku, Kamu, Pram dan Mario

copyright by bowo bagus*
“Aku suka ucapannya,” katanya pagi itu.

“Mengapa kamu masih saja mendengarnya sih? Berapa banyak orang-orang sabar yang akhirnya tak bisa merdeka? Manusia adalah makhluk berbudaya. Ia berdialektika, menggabungkan antara tesis dengan antitesis sehingga menjadi sintesis. Begitu seterusnya. Hal itu tidak mengalir begitu saja. Tesis adalah kebiasaan. Antitesis lahir dari perlawanan. Kita tak bisa selallu mendengar. Harus melawan agar sintesis baru lekas ditemukan,” bantahku kepadanya.

Ia diam dalam waktu yang lama. Cukup lama hingga tak ada kabar berita, sampai aku merasa menang dalam satu pernyataan sekaligus pertanyaan. Memenangkan sebuah pertarungan psikologis antara aku dan dia.

16 June 2014

Sesosok Suara dari Timur Dekat

Buku Gambar Sketsa J. H. Dowd
Rokok di dalam kotak merah itu hanya tersisa tiga batang. Kata-kata yang kujanjikan untuknya belum lagi selesai kutuliskan. Entah mengapa, malam ini sungguh tak menginspirasi. Tak seperti kemarin, ketika malam menerbangkan balon udara berisi aksara yang rakus untuk keluar, bergerak pelan mengelilingi ruangan. Aku telah mati akal.

04 May 2014

Menjadi Udara


Lembar kertas masih itu tergeletak di dasar kamar. Surat yang dulu pernah dikirmkan kepadaku. Aku masih belum mau membukanya lagi. Aku ingat, saat dulu membukanya, aku tak berani untuk datang ke kamar ini, hingga hari ini kuberanikan diri. Kata-kata yang ada di dalamnya adalah diksi tebaik yang pernah ada di semesta: Kematian.

04 October 2013

Tapak Kaki Titisan Dewa

Ilustrasinya minjem dari Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Dalam rumah itu, aku tinggal sendiri. Dinding retak, atap tertembus cahaya kecil dan lantai yang berdebu menjadi pemandangan biasa, mengisi hariku dengan biasa pula. Jarang sekali aku membersihkan rumah warisan dari Emak Bapakku. Dulu tentu berbeda, Emak selalu membersihkan rumah selagi libur.

25 September 2012

Durhaka Senja

Senja tak terlihat keemasan pada hari itu. Kampus yang lama kemarau menjadi semakin panas walaupun senja sudah datang. Gegap-gempita ratusan mahasiswa baru terdengar di sekitar. Seluruh kegiatan mulai dilakukan.

Seorang mahasiswa, Acong namanya, ingin memberikan surat perizinan ruangan kepada dosen, yang berusuran dengan kemahasiswaan, di kampusnya. Acong, pemuda berpenampilan kurang sopan, terpaksa harus membeli map –agar kelihatan formal-untuk menaruh suratnya itu. Dia menyulut sebatang rokok kretek lalu berjalan menuju gedung rektorat, ruangan dosen yang bersangkutan. Sebelum masuk, Acong, yang mesih menyimpan sedikit rasa sopan santun, menaruh rokoknya di bebatuan sebelum masuk ke gedung rektorat. Di meja resepsionis, seorang perempuan berparas manis yang sedang bertugas bertanya, “mau ngapain lu?”

“Mau ngasih ini(menunjukkan surat yang dibawanya, Mbak.”

“Surat apaan tuh?”

“Surat buat minjem ruangan, buat latihan UKM.”

“Oh... itu mah di kasih ke BAU (Badan Administrasi Umum) aja, nanti dari BAU langsung dikasih ke dosen. Yah, paling dua hari lu balik lagi!”

“Oh.. gitu, Mbak? Oke deh.”

Acong pergi ke BAU yang jaraknya beberapa meter dari meja resepsionis sambil melanjutkan menghisap rokoknya yang masih menyala. Jalan terasa panjang dengan kekesalan yang belum sempat memuncak. Langkah gontai terus dipaksa untuk sampai ke muka. Tiba saatnya berbicara.

“Mas, saya mau ngasih surat peminjaman ruangan, tapi katanya suruh ditaruh di BAU.” kata Acong kepada petugas BAU yang wajahnya berbanding terbalik dengan resepsionis yang sebelumnya ditemui.

“Sini coba saya lihat! Ini maha langsung kasih ke orangnya aja atau titip di meja resepsionis!”
“Lah, tadi kata resepsionis, ditaruh di BAU!!??”

“Enggaklah, BAU itu surat buat pimpinan doang.” Kilah penjaga BAU.

“Gitu ya? Yowes saya kasih ke resepsionis aja.” Tuntas Acong yang jadi jengkel.

Ia mencoba tetap tenang dengan menghisap kretek yang masih di tangannya dan kembali lagi ke meja resepsionis. Dihabiskan kreteknya itu sebelum sampai depan pintu masuk. Kemejanya yang lecek dibiarkan kancingya terbuka agar nampak layaknya seniman akademika yang tetap tenang meskipun kesal.

“Mbak, tadi saya disuruh orang BAU kasih langsung ke dosen”

“Masa sih? Sini suratnya, gue telepon dulu orangnya.”

Dua kali, resepsionis tersebut menelpon dengan sambungan pararel, namun tetap tak ada jawaban dari dosen yang bersangkutan.

“Gak diangkat terus... nih gue kasih nomernya aja.” Sambil dicatatkan nomer handphone dosen yang bersangkutan ke sobekan kertas yang baru saja dirobeknya.


Acong yang lelah dan jengkel karena sudah mondar-mandir namun tak juga dapat kepastian. Pikirannya tambah bingung ketika resepsionis tersebut memberikan nomer handphone kepadanya. “itu kan ada telepon, kenapa gak ditelepon sekalian?” gusar dalam hatinya. Ia lantas keluar meninggalkan meja resepsionis dan mencoba menelpon dengan handphone-nya sendiri. Tak lama kemudian teleponnya diangkat. Acong yang sudah lelah langsung menjelaskan maksudnya ingin menemui dosen itu. Setelah percakapan yang singkat dengan dosen yang bersangkutan lewat telepon, ia mendapat kepastian bahwa surat izinya itu tinggaharus ditaruh di BAU.

Acong yang semakin merasa dikerjai oleh sistem birokrasi ini bergegas ke BAU dan menyerahkan surat itu kepada petugasnya. “Mas, tadi dosennya sudah saya telepon. Katanya ditaru di BAU aja.”

“Oh, yaudah sini...” enteng petugas BAU itu menyaut.

Kekesalan berubah menjadi dendam yang membatu, berpotensi menghancurkan. Senja mulai hilang seraya mengakhiri seluruh kegiatan.