Pages

Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

10 May 2018

Parodi


Dua bola matanya tak terlihat. Hanya dua garis sedikit lengkung dengan alis pendek yang terlihat. Kacamatanya tak bulat sempurna, bahkan tak sama antara kiri dan kanannya. Sedangkan dagunya yang berbentuk setengah lingkaran, seolah berusaha mengimbangi topi copetnya yang serupa eskrim cone.

22 July 2015

Tanah

Aku adalah angin.
Menyusup lewat dahan kecil,
bersapa dengan daun tua
juga yang muda.

Aku adalah abu.
Yang keluar sejak matahari
belum tiba hingga puncak.
Menari di sela mata.

Aku adalah kabut.
Sebentar terlihat mata,
untuk kemudian menyatu
bersama udara.

Aku adalah pohon.
Menjulang tinggi dan rapuh.
Enggan bersahabat angin.
Menyendiri sampai ke ujung.

Aku adalah rimba.
Rimba yang penuh harimau,
harimau yang siap diburu
sekaligus memburu.

Tapi siapa engkau?
Menyusup melalui maya,
mematahkan segala
aku yang telah tiada.

Kini,
aku bukan angin,
bukan abu,
bukan kabut,
bukan pohon,
bukan rimba.

Aku telah tiada.
Aku menjelma tanah.


Sebelum Malang.

13 July 2015

Rahasia Kecil dalam Sepucuk Surat yang Lusuh

Ilustrasi: Istimewa
Untuk kekasihku..

Hai, manis. Doaku dini hari ini adalah: semoga kamu tetap manis. Selalu manis.

Aku sangat ingin berterima kasih pada semesta yang telah mengatur pertemuan kita. November tahun lalu. Kepada semesta yang nantinya juga akan memisahkan jasad kita.

Sejak bertemu dan meminjam bukumu, buku yang ditulis oleh Haruki Murakami itu, aku tahu kalau kamu akan menjadi kekasihku. Pasti. Entah apa yang membuatku hakul yakin itu. Aku hanya yakin. Teramat sangat yakin.

Kamu tidak percaya? Oh, maaf. Aku tak berniat bertanya padamu. Sekarang aku tahu kalau perempuan tak suka ditanya. Dilan yang memberi tahu kepadaku. Dilan adalah novel karya Pidi Baiq yang aku pinjam dari temanku. Belum sampai habis aku membacanya. Tinggal tersisa beberapa puluh halaman lagi.

Aku anggap kamu tidak percaya. Maka aku akan menceritakannya untukmu, perempuan manis yang kini adalah kekasihku.

Aku adalah mahasiswa biasa di kampus yang biasa pula. Aku tidak flamboyan. Aku hanya kenal beberapa orang di kampus. Kalau orang-orang mengenalku, itu bukan urusanku. Tapi, kamu berbeda.

Kamu mengikutiku di Twitter. Aku mengikuti balik. Aku tahu kalau kamu itu satu kampus denganku. Juga satu angkatan dan satu jurusan. Tapi, aku tak pernah mengenalmu. Aku penasaran, siapa perempuan ini. Siapa sebenarnya dirimu, perempuan manis yang mengikutiku di Twitter.

Aku membuka halaman instagrammu, yang tertera dalam profil twittermu. Aku melihat foto-fotomu. Melihat potret buku Haruki Murakami dan di lain foto, potret temanku, Amat. Sejak itu, aku tahu kamu berteman dengan Amat.

Amat adalah mahasiswa yang dikenal banyak orang. Ia tergabung dalam sebuah komunitas fotografi. Tentu saja ia juga pandai mengabadikan peristiwa dari sudut lensa yang tak terduga. Aku mengenalnya ketika komunitasku meminta tolong kepada komunitas fotografinya, untuk keperluan dokumentasi.

Pernah aku melihat Amat sedang sendirian, membaca novel Gelombang karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Saat itu, Gelombang memang baru terbit, melanjuti serial Supernova yang selalu menjadi best-seller Dee sebelumnya, Partikel. Aku penasaran dengan isinya.

“Punya lu, Mat?” tanyaku kepadanya.

“Bukan. Punya temen gue.”

“Pinjem dong.”

“Lu bilang sendiri sana sama temen gue,” ucapnya ketus.

Aku langsung mengurungkan niat untuk meminjamnya. Nanti juga banyak temen gue yang beli, pikirku, sambil berharap sahabatku Nadira sudah membelinya sehingga bisa aku pinjam darinya.

Selain jago fotografi, Amat juga senang membaca. Dan ia adalah temanmu. itu yang penting dalam suratku ini.

Setelah beberapa lama, aku bertanya pada Amat tentang dirimu. Mungkin Amat telah lupa kalau kamu ingin mengonfirmasinya. Tapi aku akan selalu ingat. Aku meminta tolong Amat untuk bisa meminjam bukumu, novel Haruki Murakami itu. Berselang hari, Amat bilang, "Orangnya maunya langsung ketemu sama lu."

Amat langsung mengajakku menemuimu. Aku memberanikan diri, sekaligus sangat ingin, bertemu denganmu. Melihat wajah asli perempuan manis di Twitter itu.

Hari itu, Rabu bulan November, akhirnya kita bertemu. Di depan kantin, samping lapangan basket yang ditutupi pohon bambu. Kita berbicara tentang apa saja. Tentang kamu, aku, dan Miko, yang entah kebetulan atau tidak, sedang ada di situ.

Entah berapa lama aku duduk bersamamu di tempat itu. Cepat sekali rasanya. Waktu memang begitu relatif. Tidak kaku seperti kerah orang-orang yang berdasi itu. Bersamamu, pun menghabiskan berjuta waktu, rasanya cepat seperti kilat.

Dua tujuan utama hari itu telah tuntas; bertemu dan meminjam bukumu. Sebelum pergi, aku juga menjanjikan kopi untukmu sebagai bea meminjam novel Murakami. Hari ini aku cukupkan. Kopi itu untuk di lain waktu.

Hari itu aku yakin, kamu akan menjadi, apa namanya di atas tad? Kekasihku.

Kamu masih belum percaya, manis? Oh iya, maaf. Perempuan tak suka ditanyaDilan kembali datang ke dalam pikiranku.

Anggap saja aku masih menganggapmu belum percaya. Mari, manis. Duduklah tenang di samping laptopmu. Lewat surat ini, aku ingin membisikkan rahasiaku. Dengan pelan. Teramat pelan.

Setelah bertemu denganmu, Rabu di bulan November itu, aku langsung menulis. Sebuah puisi. Tentang Rabu yang bahagia.

Kamu mau membaca puisi itu lagi? Belum bosan juga kamu membacanya?

Itu adalah salah satu, dari yang tak terhingga jumlahnya, yang membuat aku hakulyakin kamu adalah kekasihku. Kamu tak pernah bosan membaca.

Puisi itu lahir begitu saja. Entah karena dan untuk apa. Mungkin karena dan untukmu. Semesta yang mengaturnya.

Saat itu, akun Twittermu masih aktif. Aku ingat juga, kamu membuat sebuah ilustrasi perjalanan hari Rabu di bulan November itu, dalam blog milikmu. Di sana ada namaku.

Kamu tak memberi keterangan pada namaku. "...untuk... yang ini skip dulu."

Itu yang membuat aku semakin yakin, kamu adalah teman hidupku. Tapi, manis, aku menganggap itu janji. Janji untuk menjelaskan siapa aku. Apa benar itu aku yang kamu maksud?

Aku harap kamu mampu melunasi janji itu. Harap. Sangat.

Kekasihku yang manis, masih ingatkah kamu tentang itu? Tentang masa aku mengenalmu dan yakin kalau kelak, kamu adalah kekasihku.

Apakah kamu sudah percaya? Meskipun Dilan berulang kali bilang kalau perempuan tak suka ditanya, aku tetap harus bertanya kepadamu.

Aku telah bertanya, bolehkah aku mencintaimu. Kamu menjawab ya. Boleh. Aku boleh mencintaimu. Selamanya. Sampai semesta mengatur perpisahan kita. Nanti.

Itulah rahasiaku, manis. Aku mencintaimu.

Manisku, tak perlu kamu takut dengan perpisahan. Itu adalah alasan kita pernah bertemu. Untuk berpisah.

Namun, aku ingin kamu selalu ingat sepenggal sajak Sapardi, yang pernah kuberikan untukmu, "Yang fana adalah waktu. Kita abadi."

25 May 2015

Kabar

Demi bunyi gelas yang bertemu sendok tukang es campur.
Dan suara botol-botol hijau pedagang mpempek.
Melalui kipas angin listrik yang selalu bolak-balik.
Ingin kutitipkan untukmu segenggam rindu.

Demi Riko yang agak murung melihat rencana nikahnya saat SMK kandas sudah.
Dan keponakannya yang menangis melihat bapaknya pergi beli makan.
Bak hitam plastik telah direbahkan agar bisa mandi di pukul setengah lima.

Demi suara latar lagu The Adams.
Dan suara gelisah menunggu balasan.
Juni semakin dekat,
meskipun tak harus hujan seperti sajak Sapardi.

Demi para pemancing yang tak membawa ikan pulang.
Dan nyanyian burung kenari berwarna kuning di dalam kandang.
Mobil-mobil melulu bising berlalu-lalang.

Demi Beni yang tak lagi menyapa dengan halo.
Dan kakak-beradik kecil terus memegang botol mineral.
Lewat daun melinjo muda, semoga kabarmu selalu tak jumawa.

Mei,  2015

19 January 2015

Pagi yang Kutitipkan Salam

Hujan masih juga berdetak
Saling menyalip dengan waktu
Menggagahi satu dan yang lain

Pengeras suara masjid
tak juga mau berhenti,
tak bosan membisikki suara ibu
yang mengaji

Hanya pagi yang tak jumawa
Setia pada hari
untuk melanjutkan malam

Semalam, kita berbicara tentang rindu, sayang
Tentang aroma
yang aku dan kamu tak juga paham

Aku mengirim puisi dari Indian
Puisi yang berjanji,
sebelum pagi, engkau kujenguk
dalam tidur

Suara ibu yang mengaji telah padam
Telah berganti hujan
yang mulai serakah
Tak membiarkan detak jam lagi terdengar

Apakah semalam aku hadir dalam tidurmu, sayang?
Dan kita lanjutkan tentang rindu yang belum usai?

Lewat waktu, hujan dan pengeras suara
telah kusampaikan rindu, sayang, padamu

Pada pagi,
yang masih manantang malam untuk kembali

09 January 2015

Perempuan dalam Kepala

Ilustrasi karya Popo, yang pernah jadi ilustrasi cerpen "Perempuan Tua dalam Rashomon"Kompas (5/12/2011).
Entah kapan petama kali ia datang dalam kepalaku. Pagi itu, saat matahari belum sempat menyapa embun yang hinggap dalam rentangnya hijau daun, aku termenung lagi. Di dalam cangkir masih ada sisa-sisa ampas pengembaraanku tadi malam, saat pikiranku menjelajah setiap kemungkinan adanya kenangan tentang sosok perempuan dalam kepalaku ini.

03 January 2015

Cokelat

Sebentar kemudian, ia meleleh.
Menjadi cair
menjadi lumer..

Siang itu pukul satu
lewat kurang lebih
tiga puluh menit

30 December 2014

Parafin

Api dari parafin itu sudah hampir habis |
hujan tak sempat mematikannya |
hanya sampai pada dedaunan |
yang rapat berbaris |
sebelum api mematikan dirinya sendiri ||

28 December 2014

Penyair Pemalu yang Abadi


JAMES DOUGLAS MORRISON dan Alain Ronay duduk di kafe kecil nan sumpek di pusat fashion dunia, Paris. Hari itu adalah 2 Juli 1971. Mereka sama-sama gelisah. Morrison gelisah perkara nasibnya yang berubah cepat selama empat tahun belakangan. Ronay gelisah, mengingat pacarnya pasti memasang muka dengan bibir mengerut ke depan saat nanti ia sampai ke tempat janjiannya. 

Ronay belum bisa pergi. Morrison, temannya, masih belum stabil untuk ditinggalkan. Ia seperti anak kucing yang tak mau ditinngal ibunya. Merayu untuk ditemani seharian. Ronay pasrah. Biarlah nanti pacarnya marah dengan cemberut, pikirnya. Toh wajah pacarnya saat cemberut lebih menggemaskan daripada saat libidonya berada di puncak.

20 November 2014

Rabu

Ia datang padaku dengan terlambat,
ini jam sepuluh tepat
aku tersadar oleh bising
oleh waktu yang semalam.

31 October 2014

Hari-hari yang Tak Kunjung Tamat

Matahari itu muncul lagi
Selalu..
Aku bisa merasakannya
dari balik jendela yang memang tak tertutup rapat..

30 October 2014

Orang-orang yang Hidup dalam Gua

Kita adalah orang-orang yang hidup dalam gua
Nyaman, melihat bayangan
dari luar masuk menghiasi..
Kita tak mau keluar,
terlalu empuk alas batu ini untuk ditinggalkan

04 August 2014

Doa Pagi untuk Diana

Setiap awal doa, selalu aku ucapkan, "Selamat pagi, Diana." Entah apa yang membuat aku begitu nekat. Tak tahu pasti apa sebabnya. Yang pasti, doa itu telah terucapkan.

Dalam kotak masuknya, doa-doa ini terpanjatkan. Seluruh doa pagi yang tertulis tak henti-henti selama 30 hari. Tugas telah terselesaikan. Sesuai janji.

02 August 2014

Laksmi Tak Pernah Pulang

Ilustrasi: lentera-pembebasan
Ramai-ramai warga desa mendatangi rumah di dekat portal masuk gang Kenari. Mereka membawa segala barang yang bisa digunakan untuk menghancurkan. Cangkul, pedang, parang, balok kayu, dan segala macam kerabatnya ada di tangan mereka. Amarah sudah mencapai puncaknya. Tak tertahan.

01 August 2014

Secangkir Kopi Pahit untuk Ayah

Kredit ilustrasi: di potonya udah ada.
Pagi ini Zia tak seperti biasa. Tak ada koran di pangkuannya, tak ada telepon genggam, tak ada senyuman. Matanya hanya menatap lurus ke ujung jalan yang ramai, di mana orang-orang menghabiskan pagi di akhir pekan.

Sudah tiga cangkir kopi pahit ia habiskan. Ini cangkir keempat pagi itu. Sementara pikirannya masih berkelana entah ke mana.

25 July 2014

Aku, Kamu, Pram dan Mario

copyright by bowo bagus*
“Aku suka ucapannya,” katanya pagi itu.

“Mengapa kamu masih saja mendengarnya sih? Berapa banyak orang-orang sabar yang akhirnya tak bisa merdeka? Manusia adalah makhluk berbudaya. Ia berdialektika, menggabungkan antara tesis dengan antitesis sehingga menjadi sintesis. Begitu seterusnya. Hal itu tidak mengalir begitu saja. Tesis adalah kebiasaan. Antitesis lahir dari perlawanan. Kita tak bisa selallu mendengar. Harus melawan agar sintesis baru lekas ditemukan,” bantahku kepadanya.

Ia diam dalam waktu yang lama. Cukup lama hingga tak ada kabar berita, sampai aku merasa menang dalam satu pernyataan sekaligus pertanyaan. Memenangkan sebuah pertarungan psikologis antara aku dan dia.

24 June 2014

Realitas dalam Sastra


Meminjam kata-kata dalam kumpulan esai, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara milik Seno Gumira Ajidarma, "Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku Sastra bisa dibredel, tetapi kebenaran dan kesustraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan."

20 June 2014

Talu Pagi

Lirik dari aksara yang dimulai dari kanan itu terdengar lagi
Entah..
Lambat laun, menyergap
Merasuki sendi yang tadinya tertutup

Aku mendengar suaranya dari sini
Dari ujung gang yang sempit
Ujung gang yang pasti kendaraanmu harus terparkir di depan


Suara kuyup itu belum mau juga untuk melesat
Membayangi telinga, merusak..

Kali ini lebih keras
Memanggil denyut yang perlahan menghilang
Menghujam nanar kala embun tak lagi mau menempel
 

Sudikah kau akhiri semua?

Jakarta, depan monitor, Juni sebelum puasa

16 June 2014

Sesosok Suara dari Timur Dekat

Buku Gambar Sketsa J. H. Dowd
Rokok di dalam kotak merah itu hanya tersisa tiga batang. Kata-kata yang kujanjikan untuknya belum lagi selesai kutuliskan. Entah mengapa, malam ini sungguh tak menginspirasi. Tak seperti kemarin, ketika malam menerbangkan balon udara berisi aksara yang rakus untuk keluar, bergerak pelan mengelilingi ruangan. Aku telah mati akal.

04 May 2014

Menjadi Udara


Lembar kertas masih itu tergeletak di dasar kamar. Surat yang dulu pernah dikirmkan kepadaku. Aku masih belum mau membukanya lagi. Aku ingat, saat dulu membukanya, aku tak berani untuk datang ke kamar ini, hingga hari ini kuberanikan diri. Kata-kata yang ada di dalamnya adalah diksi tebaik yang pernah ada di semesta: Kematian.