Pages

Showing posts with label alam. Show all posts
Showing posts with label alam. Show all posts

12 April 2020

Menikmati Panorama Memikat Talaga Bodas


Udara dingin ala daerah dataran tinggi terasa menembus ke badan. Tiga lapis pakaian belum cukup untuk menghalau dinginnya suhu di kawasan itu. Namun, beberapa orang yang terlihat tetap semangat berswafoto dengan latar putihnya air kawah Taman Wisata Alam (TWA) Talaga Bodas di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Rabu awal Februari lalu.

30 December 2014

Parafin

Api dari parafin itu sudah hampir habis |
hujan tak sempat mematikannya |
hanya sampai pada dedaunan |
yang rapat berbaris |
sebelum api mematikan dirinya sendiri ||

26 November 2013

Menikmati Rekreasi dan Nyamuk yang Mati dengan Jempol Kaki


Di pagi yang tak terlalu dingin dengan kipas angin di nomor dua, kejadian hari Minggu yang baru dua hari berlalu masih teringat. Berwisata bersama kawan dari Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

03 November 2013

Sebuah Anugerah untuk Negeri yang Kaya

Bukan hal yang baru, bila ada yang mengatakan bahwa negeri kita kaya. Sumber daya alam melimpah, lautan yang indah, sampai ratusan suku bangsa, menyatu atas nama Indonesia.

02 July 2012

Bumi Semakin Rusak

Bumi semakin rusak. Itu adalah kalimat yang menggambarkan keadan saat ini. Asap-asap industrialisasi membuat lapisan ozon semakin lama semakin terkikis. Hutan, sebagian besar telah menjadi perkebunan yang lebih menjanjikan uang, sisanya hilang menjadi lembaran kertas yang jumlahnya tak terbatas. Sungai mengecil menjelma menjadi pemukiman kumuh. 

Saat ini manusia tidak lagi membangun sisbiosis mutualisme dengan alam. Para pemilik modal yang serakah menghabisi hutan demi keberlangsungan hidup sebuah perusahaan. Akibatnya, para penduduk hutan, seperti harimau, gajah, dan lain sebagainya, memasuki dan menyerang pemukiman warga untuk meminta pertanggung-jawaban. Hukum alam menjadi salah sasaran. Penduduk lokal tidak hanya tersiksa melihat alam sekitarnya dirusak oleh para penguasa, melainkan mereka pun ketadangan hewan-hewan yang murka karena habitatnya dirusak. Alam terus dieksploitasi, sementara para penguasa menikmati hasilnya sendiri. Hutan yang rusak sudah tidak lagi dapat menampung air, sehingga muncul genangan-genangan menyerupai banjir di hampir setiap jalan, di berbagai kota besar. 

Para pemimpin dunia telah bertemu di Rio de Janeiro, Brazil, untuk mengadakan Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Para pemimpin dunia mengajak kita untuk bergerak dari ekonomi yang serakah ke ekonomi hijau. Mereka tanpa henti menyuarakan pembangunan yang hijau demi masa depan yang lebih naik. Namun sayang, kepercayaan masyarakat sedang mengalami krisis, sehingga pertemuan ini dilihat dengan sikap skeptis dan apatis oleh banyak pihak. 

Bagaimanapun, upaya pertemuan para pemimpin dunia in harus diapresiasi sebagai langkah awal mewujudkan ekonomi yang hijau, yang tidak merusak alam. Masyarakat luas juga harus mendukung dan berupaya untuk melestarikan kegiatan tersebut, karena rencana sebaik apapun tidak akan dapat berjalan tanpa dukungan dari masyarakat luas. 

Setiap masyarakat memiliki peran untuk menjaga dan melestarikan lingkunagn. Alasan, yang paling sederhana, masyarakat memiliki kewajiban untuk melestarikan lingkungan adalah agar anak-cucu kita dapat merasakan alam yang saat ini kita rasakan, atau mungkin alam yang lebih baik lagi. Betapa egoisnya, bila kita hanya menguntungkan diri sendiri tanpa menyisakan hal yang berguna bagi generasi penerus kita. 

Bumi masih bisa diselamatkan. Tentu. Oleh karena itu, marilah kita membuat perubahan pada pola tingkah laku dalam diri sendiri. Perbuatan sekecil apapun dalam upaya melestarikan lingkungan tentu akan membawa efek yang positif bagi masyarakat banyak. Apa masih perlu menunggu korban lebih banyak lagi?

30 October 2011

Menjaga Kelestarian Alam?

Seminggu terakhir ini saya mendapat banyak pesan singkat di hp agar kita mendukung Taman Nasional Komodo menjadi New 7 Wonders. Di dalamnya bertuliskan peritah agar saya ikut voting Taman Nasional Komodo menjadi New 7 Wonders dan mem-forward pesan itu ke yang lain. Entah kenapa, saya malas untuk mem-forward pesan dari teman saya (bukan berarti gak punya pulsa). Lucunya di akhir kalimat dari pesan singkat itu bertuliskan "AYO TERUS DUKUNG KELESTARIAN NEGARA INDONESIA!".

Cuih..seakan saya ingin meludahi muka manusia pertama yang membuat pesan singkat tersebut. Coba pikirkan! Apakah mungkin kelestarian alam Taman Nasional Komodo yang memang ajaib dapat terjaga kalau nantinya ketenangan komodo yang hidup alami terganggu oleh ribuan turis yang datang? Tentu saja komodo-komodo tersebut akan merasa risih dan pasti lambat laun akan punah. Lagi pula, tanpa harus melalui voting yang tidak jelas asal-usulnya, Taman Nasional Komodo memang sudah ajaib.

Sebenarnya yang kita inginkan hanyalah gengsi di mata dunia, agar dunia melihat negara ini adalah negara yang ajaib. Yah, memang ajaib! Dengan sumber daya alam yang berlimpah tapi tetap menjadi negara miskin. Entah kemana larinya, mungkin hanya mengisi kantung-kantung buncit para penguasa.