Seperti pameran-pameran lainnya di Galeri Nasional, saya bersama rekan-rekan sepekerjaan datang lebih awal daripada pengunjung manapun untuk melakukan tur mengamati sejumlah karya. Begitu pula yang terjadi sore itu, Rabu pertama di bulan Mei, hari setelah peringatan buruh sedunia.
Blog pribadi yang berisi ide-ide subyektif di sana-sini, tergantung jari yang terus menari. Boleh komentar, namun biasakan baca sampai selesai. Boleh diambil, asal kuat iman. Ini bukan dalil, tak perlu dianggap serius. Kalau terlanjur serius, apa boleh buat.
Showing posts with label seni. Show all posts
Showing posts with label seni. Show all posts
08 May 2018
07 January 2018
Menikmati Seni dan Ucapan Terima Kasih Setelah Kencing
Hari terakhir di 2017. Rengekan Siti Annisa dari sebulan sebelumnya berhasil membuat saya tak sempat meletakan badan di tempat tidur nyaman, di lantai dua kamar berantakan yang ada gambar Che Guevara-nya. Dari sebulan lalu, dia terus mengajak untuk ke Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN). Saya terpaksa tak tidur, menemaninya, menjadi orang paling artsy di muka bumi dengan berfoto di “Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls” milik Yayoi Kusama.
08 January 2015
Mengenang The Adams
05 January 2015
Membaca Realitas Lewat Jalanan
| Foto: Dok. Kaphac 32 |
SUASANA muram. Puluhan lampu 60 watt menyinari foto-foto yang tergantung rapi pada benang pancing dalam sebuah ruangan lembab. Atap plafon yang bolong sesekali membuat ruang pameran becek ketika hujan, semakin menambah dimensi kemuramam yang sudah tercipta. Sepetik kata-kata pada prolog yang ditulis oleh kurator pameran, Arbain Rambey, masih berputar-putar di kepala saya, ”...Inilah Jakarta, inilah Indonesia akhir-akhir ini.”
Adalah Ruang IV-6, ruang yang biasa digunakan untuk beristirahatnya mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta saat menunggu jam kuliah, yang diubah menjadi galeri pameran oleh Kampus Tercinta Photography Club (Kaphac) 32 dari 11-15 November lalu. Sebanyak 133 foto bertema “Jalanan” dipamerkan oleh 44 pameris, yang seluruhnya merupakan mahasiswa IISIP.
Adalah Ruang IV-6, ruang yang biasa digunakan untuk beristirahatnya mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta saat menunggu jam kuliah, yang diubah menjadi galeri pameran oleh Kampus Tercinta Photography Club (Kaphac) 32 dari 11-15 November lalu. Sebanyak 133 foto bertema “Jalanan” dipamerkan oleh 44 pameris, yang seluruhnya merupakan mahasiswa IISIP.
23 June 2014
Beranda Taman Seni: Ketika Seni Berdampingan dengan Perlawanan
| Foto: Fachrul Irwinsyah (Kaphac32) |
Kehidupan
di dalam kampus, yang ketika pukul delapan malam sudah dipaksa pulang,
adalah suatu yang (sangat) tidak mengasyikan bagi sebagian mahasiswa.
Mahasiswa membutuhkan tempat untuk menyalurkan hasrat mudanya dengan
berbagai kegiatan di luar kuliah, setelah dipaksa menyelesaikan 150 sks
(sistem kredit semester) dalam ruangan kelas dengan sirkulasi udara dan
cahaya yang seadanya.
10 December 2013
Yang Tak Sempat Terbit
Siang itu (12/10), jalan TB Simatupang cenderung lancar. Danuri
terlihat sedang mengumpulkan botol-botol bekas yang berserakan di pinggir
jalan. Tak ada orang yang mengira bahwa ia adalah salah satu artist yang ikut meramaikan perhelatan
Jakarta Biennale 2013.
03 July 2013
Kontemplasi Singkat tentang Apalah Namanya
Ah, hidup memang merupakan ajang manusia untuk memilih. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Nano Riantiarno (tokoh teater), kesenian dianggap sebagai hiburan. Begitu pula dengan teater, seperti juga ilmu pengetahuan dan agama, adalah hiburan. Ia sebebas langit. Mengapa teater? Mengapa kesenian? Mengapa bukan agama atau ilmu pengetahuan? Seperti yang sudah kami jelaskan, hidup adalah ajang membuat keputusan. Silakan ditimbang-timbang.
02 May 2013
Kudeta Srimulat
Sinopsis:
Kekuasaan semakin sewenang-wenang, oposisi semakin banyak bicara.
Kelompok oposisi ingin melancarkan kudeta kepada pemerintahan. Tapi, apalah
daya.. kekuatan belum seberapa.
TOKOH:
Ratu: Pimpinan Kelompok Oposisi
Kapten Jono: Ajudan Ratu berasal dari Jawa (cerminan SBY, Prabowo, atau Suharto)
yang keras kepala
Marsose Bejo: Otak dari rangkaian
serangan yang akan dilakukan,
karakter: ngocol
Di sebuah ruangan dengan cahaya yang samar, para petinggi kaum
oposisi sedang mengadakan rapat untuk melancarkan serangan kepada pihak
pemerintah. Mereka mengatur strategi untuk menggulingkan kekuasaan dan berharap
terjadinya KUDETA. Lampu menyala perlahan.
Ratu
(sambil mengebrak meja) Keadaan ini gak bisa dibiarkan! Sudah sewindu lebih setahun dia
berkuasa. Tapi, lihat rakyat kita! Masih pada miskin. Kita harus melakukan
sesuatu.
Marsose Bejo
Melakukan opo, mbakyu?
Kapten Jono
Kita harus lancarkan serangan! Minta penguasa itu turun dari
jabatannya sekarang juga! Hal seperti ini harus pakai aksi anarkis. Gak bisa
pakai cara-cara lembek.
Marsose Bejo
Ya... melakukakan opo toh, Jon? Lah, kelompok kita aja baru seumur
jagung. Paling banter ya, nyuruh mahasiswa itu, buat demo.. nanti kita kita
tinggal ambil untungnya saja.
Ratu
Pokoknya kita harus melakukan sesuatu, melakukan kudeta! Rakyat harus dibela,
kesetaraan harus diperjuangkan, ormas-ormas kampungan yang sering bikin macet
itu apalagi, itu musuh utama saya. Tuntaskan semua! Berantas!!!
Kapten
Jono
Iya!
Tapi kita ini gak punya kekuatan. Kita mesti susun rencana untuk mengambil
alih kekuasaan dari mereka. (Berpikir sejenak) begini, kita hasut mahasiswa,
buruh-buruh di Cikarang, sama ibu-ibu rumah tangga di bantaran kali untuk
melakukan aksi. Para penguasa itu ya pasti gelagepan melihat orang ramai kayak gitu. Kebetulan aku punya kenalan mahasiswa yang
biasa ngumpulin massa. Nanti kalau sudah gelagepan, bagaikan ikan mujaer pergi ke
daratan, kita ajukan tuntutan atas nama rakyat. Ambil baiknya, buang buruknya.
Begitu kalau kata pak ustad waktu solat jumat.
Ratu
Ambil baiknya, buang buruknya bagaimana maksudmu?
Kapten
Jono
Begini, kita ini harus mengumpulkan
kekuatan massa untuk menyerang istana. Nanti istana itu pasti dijaga ketat pakai
tank-tank militer, iya kan? Nah, kayak permainan catur,
keroco-keroco ya suruh maju duluan.
Anak-anak punk beserta anak jalanan kita hasut untuk lemparin batu ke polisi.
Ribuan buruh dan petani di belakangnya kita provokasi untuk dudukin
gedung-gedung pemerintah. Sebagian lainnya buat tembus barikade aparat. Kita
cukup iming-imingi kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran atas nama rakyat
saja. Mereka pasti terlena. Kalau
sudah berhasil lolos, baru kita ambil
kesempatan menjatuhkan penguasa. Yang mati biarlah mati. Dalam kudeta memang
harus ada yang dikorbankan.
Marsose
Bejo
Lha.. ini! Ini! Orang seperti ini yang selalu memanfaatkan
kesempitan dalam kemasyarakatan yang adil dan beradab. Mau ditaruh mana nanti
mukanya bu Ratu ini (sambil menunjuk ke arah Ratu)? Kalau warga Republik ini
orang-orangnya seperti kamu semua, kapan mau majunya? Pikir! Pikir! (sambil
menunjuk pantatnya sendiri)
Kapten
Jono
Lho kok kamu marah-marah? Kamu ini baru masuk organisasi politik ya? Aku ini udah malang melintang di dunia politik dari mulai sekolah tinggi
publisistem. Oraganisasi mana yang gak pernah
aku masuki? Esia? Simpati? Paramex? Bodrex? Udah kujelajahi semua, sudah khatam
aku. Semuanya ya menganut sistem ambil yang baik, buang yang buruk. gitu lho..
eh, ngomong-ngomong, nanti sampeyan ada acara gak? Nanti ikut aku dulu, aku ajari
cara berpolitik yang baik dan benar. Aku
ini nasionalis sejati. Kau meremehkan kemampuanku?
Marsose Bejo
Kalau nasionalis masih dianggap penting, Sukarno mungkin masih
hidup saat ini, mas.. Masih mau jadi nasionalis?
Kapten Jono
Tentu. Selain nasionalis, aku ini kan cinta petani, cinta rakyat.
Jadi kita ya harus membela rakyat, Jo.
Marsose Bejo
Suharto pun cinta sama petani, cinta rakyat, tapi ujung-ujungnya..
mblehhh... bikin kerajaan, tho? Ya sama seperti di sini ini! Di sini lho.. di
dalam panggung ini, nanti para penonoton salah paham.
Kapten Jono
Yaudah, mulai saat ini aku ini pluralis.. aku akan membela
kesetaraan agama, gender, ras, dan sebagainya, dan sebagainya..
Marsose Bejo
Gus Dur pun demikian, tapi MPR ya ndak percaya begitu saja.. ya
akhirnya, jatuh juga... mau jadi opo meneh? Hah? Wes njadi pegawai negeri sipil
aja.. Gajinya gede, tunjangan gede, masa tua terjamin.
Kapten Jono
Kamu ini benar-benar ngajak ribut?
Marsose Bejo
Loh, aku sih siap, mas’e.. tapi berkelahi itu dilarang sama agama.
Aku kan hanya menyampaikan pendapatku. Kita ini hidup di zaman kemerdekaan
pers. Semua orang bebas berpendapat. Supir angkot mau berpendapat kalau
penguasa kita itu gembrot kayak semar, ya.. gak masalah!
Kapten Jono
Halaaaaaaahhhh...
Sok tau kamu!
Marsose Bejo
Loh, ya namanya juga kudeta.. kita harus menanamkan nilai-nilai
kebencian pada penguasa yang sedang berkuasa. Kamu ini ngarti ndak sih?
Ratu
Sudah! Sudah! Kita seharusnya menyiapkan strategi untuk menggulingkan
pemerintahan, karena itu adalah sebuah keniscayaan! Sudah lama rakyat kita
hidup dalam kebobrokan para penguasa. Jangan sampai ini terulang kepada anak
cucu kita. Kita harus menyatukan people power untuk melawan kesewenang-wenangan
ini. Pemerintahan harus dijatuhkan!
Marsose Bejo
Yasudah, sekarang kita bagi
tugas! Aku kumpulin mahasiswa, buruh dari Cikarang dan warga miskin di bantaran
kali. Kamu, Jon, kamu organisir massa lainnya.
Kapten Jono
Oke
kalau tugasku cuma begitu. Aku ini jelmaan Gatot Kaca. Pasti aku bisa jadi
pemimpin.
Marsose Bejo
Iya.. iya.. nanti kamu bakalan jadi pemimpin. Ini adalah jalan
yang benar untuk jadi pemimpin. Sekarang laksanakan
tugasmu, Jon.
Kapten Jono
Oke, aku akan laksanakan. Aku jalan duluan, aku mau cari temanku yang kerjanya ngumpulin orang
untuk aksi. Assalamualaikum... (kapten
meninggalkan ruangan rapat, namun sesaat ia masuk lagi) ehh... tapi kamu juga kumpulin massa yang banyak!
Biar acaranya itu rame seperti free car day hari minggu itu lho, biar banyak
wanita-wanita cantiknya. (sambil melipir kabur)
Marsose Bejo
Matamu!!!
Ratu
Lalu aku harus ngapain, Jo?
Marsose Bejo
Ibu ya cukup mengadakan konfrensi pers kepada sejumlah media. Ibu
kan tau, media di republik ini kan pada ble’on.. eh ble’on.. blo’on maksudku.
ini itu maen sikat, njadi berita, rakyat kelabakan.. kebanjiran informasi..
bwehehehe... asuu tenan!
Ratu
Lah ini jadi kapan kudetanya?
Marsose Bejo
Cari duit dulu, baru kudeta!!
Ratu
Lah terus ini kita mau ngapain?
Kapten Jono tiba-tiba masuk sambil menggandeng salah satu panitia.
Kapten Jono
Ini
dia temanku yang tadi aku ceritakan!
Ratu
Bagus!
Berarti rencana kudeta kita sekarang sudah lebih terang dari matahari!
Maersose Bejo
Ya ndaklah.. lagian kita ini mau
kudeta opo? Wong mahasiswa sepi karena lagi
pada ujian. Buruh masih seneng gara-gara upahnya dinaikin. Ibu-ibu dipinggir
kali masih ademayem.. soale pas banjir kemaren mereka ditengok sama gubernur.
Lah terus siapa yang mau bantuin kudeta? Wong media sekarang lagi pada mikirin
baik-baiknya saja kok.. ndak berani melawan yang besar.
Kapten Jono
Jangan
kuatir! Temanku ini sudah kawakan di gerakan aktivisme kadal. Dia jagonya main
kadal-kadalan! Bener kan? (nanya ke temennya)
Teman Jono
(senyum-senyum)
Kapten Jono
Urusan
ngumpulin massa itu ga perlu dipusingkan. Dia bisa membawa mahasiswa, buruh,
dan sebagainya kita serahkan saja padanya. Dia bisa bawa berapa saja tergantung
pesanan kita. Kanjeng Ratu tinggal tawar menawar harga.
Ratu
Tapi
kita ini ga punya duit, Jon.
Kapten Jono
(Berpikir
sejenak) hmmm...
Teman Jono
(cuma
nyengar-nyengir sambil membetulkan pakaiannya)
Marsose Bejo
(sejenak
melihat teman Jono) Aku tahu!
Ratu dan Kapten Jono mendekati Marsose Bejo dengan laku
seperti mendesak untuk segera mengeluarkan idenya.
Marsose Bejo
Temanmu
itu, nanti kita kasih jabatan! Kalau kita sudah berhasil kudeta, dia kita
jadikan jubir aja. Juru bicara Kanjeng Ratu! Dengan begitu, artinya, kita
melunasi hutang padanya yang telah mengumpulkan massa.
Kapten Jono
Wuissssss!!!!!
Cerdas sekali idemu, Jo! Salut aku! Ternyata kamu punya otak politis juga!
Ratu
(tersenyum
sumringah) nanti kalo aku jadi penguasa, pasti orang-orang yang ingin
menghancurkan demokrasi, aku sikat semua. Mempertahankan demokrasi itu gak bias
pakai cara demokrasi. Harus main tebas. Nanti kalo aku jadi penguasa, kamu
semua pasti hidup enak. Pokoknya semua makmur.. bla.. bla.. bla..
Setelah mengucapkan semuanya, Ratu lalu diam sejenak.
Ratu
Tapi
Jo... (berpikir dan kebingungan)
Bejo dan Jono menyimak. Bahkan teman Jono pun menyimak.
Ratu
Tapi...
hmm.. hmmm.. tapi tapi tapi....
Bejo dan Jono
Tapi
opo Kanjeng Ratu?
Ratu
Tapi
kita mau kudeta siapa??? Memangnya siapa musuh kita??? Siapa yang telah membuat
kondisi negara menjadi separah ini???
Marsose Bejo
Loh
loh loh... Masa perlu aku kasih tau lagi? kudeta sopo? Tau gak? (bergantian
menanyai ratu, kapten dan penonton)
Kapten Jono dan Ratu berbarengan mengangkat kedua bahunya dan
saling bertatapan..
Marsose Bejo
Yaudahlah.. gak usah maen kudeta-kudetaan. Lagian kudeta itu
resikonya besar.. nanti yang ada kita gak boleh tampil lagi.. udah sekarang
gantian aja, itu temen-temen yang lain juga pada mau tampil. Kita udahan sampe
di sini aja.. nanti yang lain gak kebagian waktu..
Ratu
Yaudah, tapi nanti kalau jadi kudeta kabarin aku ya..
Marsose Bejo
Mberess... yang penting pentas ini selesai. Yang mau kudeta, ya
kudeta.. mending kita makan dulu yuk!
Lampu mati
nb: Telah diperbarui oleh May Rahmadi
22 December 2012
Tentang Teater, Hidup dan Menulis Kehidupan
Saya adalah orang yang tergabung dalam sebuah kelompok teater, Teater Kinasih. Baru-baru ini, kelompok teater tempat saya tergabung mengadakan sebuah diskusi tentang jurnalisme musik. Ada pro, ada kontra.
Kenapa musik? Karena semua orang suka musik, semua orang menikmati musik, dan semua orang hidup berdampingan dengan musik. Musik juga merupakan elemen penting dalam teater. Menulis tentang musik berarti berusaha untuk mengetahui tentang latar belakang teriptanya musik tersebut.
Bila memutuskan untuk mengundang pembicara yang notabennya adalah seorang teaterawan/ti, tentu yang akan senang adalah kita sepihak, sebagai kelompok teater. Animo masyarakat kampus pun tak akan besar dan akhirnya, hanya kelompok teater tersebut yang bertambah ilmunya. Teater Kinasih mencoba untuk tidak memuaskan diri sendiri.
Ada yang bilang, jika sebuah kelompok teater hanya bergaul dengan sesama orang teater, setiap nonton, nonton teater, mengadakan acara, acara teater, kita hanya akan mendapatkan teknik berteater yang baik dan benar (dan kami tentu sadar bahwa kami belum menguasai teknik itu dengan benar), dan sebagai bonus, kita hafal nama-nama pembesar teater dan dikenal dikalangan orang-orang teater.
Kenapa musik? Karena semua orang suka musik, semua orang menikmati musik, dan semua orang hidup berdampingan dengan musik. Musik juga merupakan elemen penting dalam teater. Menulis tentang musik berarti berusaha untuk mengetahui tentang latar belakang teriptanya musik tersebut.
Bila memutuskan untuk mengundang pembicara yang notabennya adalah seorang teaterawan/ti, tentu yang akan senang adalah kita sepihak, sebagai kelompok teater. Animo masyarakat kampus pun tak akan besar dan akhirnya, hanya kelompok teater tersebut yang bertambah ilmunya. Teater Kinasih mencoba untuk tidak memuaskan diri sendiri.
Ada yang bilang, jika sebuah kelompok teater hanya bergaul dengan sesama orang teater, setiap nonton, nonton teater, mengadakan acara, acara teater, kita hanya akan mendapatkan teknik berteater yang baik dan benar (dan kami tentu sadar bahwa kami belum menguasai teknik itu dengan benar), dan sebagai bonus, kita hafal nama-nama pembesar teater dan dikenal dikalangan orang-orang teater.
Teater Kinasih mencoba untuk tidak terperangkap dalam arti teater yang sempit di atas, yang hanya memikirkan tentang pementasan, aktor, panggung, dll. Kemarin, Kinasih mengadakan sesuatu yang berbeda, "Bincang Musik Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang". Di acara yang diaselenggarakan oleh Teater Kinasih yang bekerja sama dengan webzine lokal Jakartabeat.net, juga tidak serta merta lepas dari pelajaran, yang telah didapatan dari latihan maupun masukan yang diberikan para senior (orang-orang yang lebih dahulu bernaung di Kinasih) yang hadir, tentang bagaimana mengaplikaskan ilmu teater dalam kehidupan, tentang cara membangun relasi dengan mereka yang dibilang awam dalam dunia teater, tentang mengajak masyarakat kampus mengenal Teater Kinasih yang terbuka.
Ada benang merah yang masih berkesinambungan antara teater dan menulis musik. Kalau teater itu adalah ilmu tentang kehidupan, menulis musik juga menulis menulis tentang kehidupan (setidaknya itu yang dikatakan oleh Taufiq Rahman sebagai pembicara). Kita bisa mempelajari dan menuliskan tentang kehidupan sekaligus, melalui proses berteater dan menulis.
Saya pribadi cukup puas dengan terselengaranya acara "Bincang Musik Bersama Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang", dan respon para peserta diskusi pun sama, puas. Semua senang dan mendapatkan sesuatu yang baru untuk dibawa pulang. Jadi, bila anda yang merasa kenal maupun awam dengan teater, mungkin perlu untuk menuliskan kehidupan.
12 June 2012
Ilir-Ilir: Ilustrasi Tembang Dolanan Anak Jawa
Permainan anak-anak tradisional dari masa ke masa selalu berubah sejalan dengan perkembangan zamannya. Dahulu, republik ini sangat kaya akan permainan anak-anak. Setiap daerah memiliki ciri khas permainannya sendiri-sendiri. Namun, saat ini keberadaannya sudah sangat jarang ditemukan. Pengaruh modernisme telah membuat segala hal yang berbau tradisional terkesan kuno, sehingga masyarakat tidak memiliki minat lagi, dan akhirnya ditinggalkan oleh bangsanya sendiri. Sungguh sangat memprihatinkan, padalah itu merupakan warisan kebudayaan yang harus kita lestarikan.
Dalam rangka melestarikan permainan anak tradisional yang saat ini semakin terkikis, Bentara Budaya Yogyakarta mengadakan Pameran Ilustrasi Tembang Dolanan Anak Jawa di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat, 30 Mei – 3 Juni 2012. Acara itu memamerkan lukisan dan buku ilustrasi tembang dolanan karya seorang seniman dari Bentara Budaya Yogyakarta bernama Hermanu. Bentara Budaya Yogyakarta juga mengumpulkan data-data tentang permainan anak yang berupa ilustrasi dan teks tembang dolanan anak dari berbagai sumber, lalu lalu menyusunnya dalam sebuah buku sebagai kelengkapan pameran.
Ilir-ilir dipilih sebagai judul pameran, karena tembang ini sangat unik dibandingkan dengan tembang yang lain. Di antara sekian banyak tembang dolanan anak, ilir-ilir mudah dinyanyikan, sudah memasyarakat, namun juga mempunyai makna yang sangat dalam pada dunia spiritual. Selain itu, tembang ini juga dinyanyikan untuk permainan anak-anak yang berbau magis seperti Sintren, Nini Thowok, dan Lahis yang saat ini sudah langka, bahkan hampir tak ada yang memainkannya lagi.
Nilai budaya di sekitar kesosialan dan kebersamaan yang terdapat pada permainan tradisional nampaknya tidak ada dalam games yang dimainkan anak-anak sekarang. Permainan tradisional selalu terjadi dalam kebarsamaan. Anak-anak saling berinteraksi satu sama lain. Namun, games pada saat sekarang ini cenderung dapat dimainkan secara idividual. Hal itu tentu saja akan ikut membentuk kultu,r yang kemudian membuat manusia menjadi individualis bahkan terkesan egois dan sinis terhadap kesosialan serta kebersamaan.
Saat ini sulit bagi kita menghayati llagi diri kita sebagai homo ludens (makhluk bermain) yang khas bagi kebudayaan kita. Kita terlalu sibuk untuk menjadi homo economicus (manusia ekonomi) yang selalu mendewakan harta atau keuntungan semata. Mungkin di sinilah letak jawaban, mengapa di zaman global ini kita merasa kehilangan identitas kita sendiri. Pameran Ilustrasi Tembang Dolanan bukan sekedar noltalgia dengan masa lampau. Lebih dari itu, pameran ini mengajak kita untuk kembali melestarikan permainan yang khas kebudayaan kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)



