Pages

08 May 2018

Ayunan




Di beranda Facebook saya, beberapa teman menyebarkan video seorang bapak menendang anak-anak. Mungkin klean sudah nonton videonya. Mungkin juga belum. Biar nambah panjang tulisan, biarlah saya gambarkan isi videonya dengan kata-kata, alih-alih menyebarkan videonya.

Alkisah, ada dua anak, yang satu berbaju biru dan satunya memakai baju yang warnanya kolaborasi antara putih dengan krem, bermain ayunan dengan kencangnya, maju mundur. Mungkin mereka sedang membayangkan menjadi Marquez dan Rossi memacu gas di sirkuit Sentul.

Wajar, itu area taman bermain. Di taman bermain anak-anak, imaji memang diperlukan. Kita, saya dan klean, pasti mahfum betul betapa senang menjadi anak yang berimaji, ketika saat ini sudah tak ada lagi waktu untuk melakukannya. Waktu kita hanyalah untuk kerja, kerja, dan sesekali bercinta.

Bahkan, di samping mereka bermain, sekerumunan ibu-ibu gemes, eh ibu-ibu muda, dengan santai masih bersenda gurau melihat adegan balapan itu. Tak ada yang aneh mungkin dari pemandangan dua anak yang bermain sepasang ayunan itu, sepasang anak yang berimajinasi menjadi Marquez dan Rossi.

Nahas, sesosok anak yang lebih kecil, berbaju merah muda, sekonyong lewat belakang ayunan anak si berbaju biru (sebut saja Marquez) yang sedang dipacu kencang. Kepalanya terhantam, jatuh, dan tentunya menangis. Ibu-ibu muda yang berkerumun di samping terperangah, tak sempat melepaskan bokong mereka dari tempat sandarannya. Hanya bisa melihat dan mungkin tanpa sadar mengucap "aaa".

Sebelum "aaa" itu tertutup kembali, datang seorang lelaki dewasa bak pahlawan, tapi merusak imaji anak-anak. Ternyata lelaki itu adalah ayah dari anak berbaju merah mudah yang kepalanya terhantam ayunan.

Tendangan sepak langsung ia luncurkan kepada Marquez. Tak begitu kencang, tapi tepat sasaran. Si Marquez pun menangis, meminta pertolongan ibunya. Ibu Marquez tentu membela anaknya, yang ditendang. Alhasil, konflik anak kecil yang penuh imaji berubah menjadi konflik antar orang tua yang berakhir di meja sekuriti.

Saya belum punya anak, karena itu saya tak berhak menghakimi tendangan si bapak kepada Marquez. Mungkin, jika itu anak saya, saya juga akan melakukan tendangan telapak sepatu tersebut karena cinta kepada anak. Mungkin juga tidak melakukan tendangan karena Marquez itu sama seperti anak saya, sama-sama anak-anak. Atau kemungkinan lainnya yang lebih parah, saya tak ada di situ karena sedang bekerja. Pokoknya hidup untuk kerja. Kerja kayak kera, seperti kata Buya Hamka.

Namun, saya pernah menjadi anak-anak. Betapa tak enaknya memang, jika imaji kita dicampuri dunia orang dewasa. Contohnya, kelas enam atau lima sd saya pernah berimajinasi jadi jagoan, bolos sekolah dan pergi putar-balik Bogor-Jakarta naik kereta di atas. Seperti jagoan kan?

Kebiasaan naik kereta di atas memang lumrah bagi anak-anak yang besar di awal era milenium dan tinggal dekat stasiun kereta sepanjang Jakarta Kota sampai ke Bogor. Tentu sekarang sudah tak mungkin lagi anak-anak merasakan itu. Silakan lampiaskan kemarahan kepada Jonan yang membuat sistem KRL seperti mengangkut ikan teri. Tak ada lagi angin nikmat sepoi-sepoi yang bisa dirasakan kala duduk di atas kereta yang berjalan dengan kecepatan puluhan km/jam.

Nah, hari itu memang hari sial. Pertama kali bolos sekolah, jalan-jalan naik kereta di atas pula, ternyata ketahuan bapak saya. Pasalnya, ada seorang tetangga, orang dewasa tentunya, yang melihat saya ada di atas kereta, di Stasiun Tebet, padahal hari sekolah dan masih pagi-pagi.

Mungkin ia melapor ke bapak saya yang tentara. Laporan itu tentu diverifikasi dengan mengecek kehadiran saya di sekolah. Ternyata benar, saya tak ada. Padahal dari rumah, saya berangkat dengan pakaian lengkap dan uang jajan yang selalu tak lebih dari 700 rupiah.

Saya tak akan cerita apa yang dilakukan bapak saya yang tentara. Biar klean berimajinasi. Sekadar info saja, saudara sekaligus tetangga saya, yang usianya dua tahun lebih tua dari saya, konon pernah diborgol di tempat tidur oleh bapaknya yang juga tentara. Alasannya? Jelas karena dia tak mau tidur siang. Ia lebih pilih bermain, mengasah imajinasi di dunia luar. Dunia yang memang kejam adanya.

Sejak saat itu, saya sadar dan menanamkan kesadaran itu dalam-dalam, bahwa dunia anak akan sangat kacau kalau diintervensi dengan ketakutan-ketakutan orang dewasa yang belum tentu benar. Ya, memang naik kereta di atas taruhannya nyawa, toh saya belum mati sampai hari ini.

Meskipun pernah juga mengalami momen takut mati saat naik kereta di atas. Saat ditimpuk batu oleh anak STM Bunda Kandung di Poltangan setiap sore hari sehabis jalan-jalan dari Kota, misalnya. Atau ketika terlambat naik ke atas dan kereta terlanjur jalan, dan saya harus berdiri di luar pintu kereta yang tak bisa terbuka antara Depok Lama hingga Citayam. Rasanya mau nangis, pasrah jatuh lalu mati. Tapi, sekali lagi, ketakutan itu tak bisa membunuh saya.

Namun, yang membunuh imajinasi adalah ketakutan yang ditanamkan orang tua pada kelakuan saya, kelakuan yang bersumber pada imaji menjadi jagoan. Sampai akhirnya, saya tak bisa jadi jagoan. Malah jadi wartawan.

Intinya, sebagai suara dari anak-anak yang kehidupannya penuh imanjinasi, saya hanya ingin menyampaikan, "Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kaujawab dengan cinta. Ho oio..."

No comments:

Post a Comment