Pages

08 May 2018

Ketidakpedulian


Seperti pameran-pameran lainnya di Galeri Nasional, saya bersama rekan-rekan sepekerjaan datang lebih awal daripada pengunjung manapun untuk melakukan tur mengamati sejumlah karya. Begitu pula yang terjadi sore itu, Rabu pertama di bulan Mei, hari setelah peringatan buruh sedunia.

Dua kurator pameran Manifesto 6.0, A Sudjud Dartanto dan Citra Smara Dewi, telah di depan lobi Gedung A, memimpin rombongan kami yang sudah berkumpul. Sebelum mereka berdua berbicara, teman saya yang brengsek, membisikkan sesuatu pada saya;

"Lu percaya gak kalo setiap orang di dunia ini punya kembaran? Gue baru aja liat kembaran lu," katanya sambil tertawa.

Tak lama, ia kembali berbisik dengan teman lainnya. Sambil tertawa pula sesudah melihat saya. Saya pun melihat sosok yang dibilang kembaran saya itu. Berkaus kuning, rambutnya panjang dikuncir, dengan warna kulit kecokelatan. Memang sekilas mirip. Tapi saya enyahkan pikiran itu sambil tersungut-sungut pada teman saya.

Tampang orang itu memang tak seperti rombongan kami yang biasa datang ke Galnas. Saya pun hakulyakin dia seniman yang ikut pameran Manifesto.

Arahan Sudjud dan Citra mengalihkan kekesalan saya sementara. Dua kurator itu mengajak kami semua ke Gedung D. Di gedung itu, ada beberapa karya yang menarik. Salah satunya adalah "Wakare Karaoke", instalasi ruangan karaoke yang menyajikan lagu perlawanan terhadap imperialisme Jepang di tujuh desa sekitar Jatiwangi, karya Dito Yuwono.

Tak ketinggalan, karya salah satu seniman panutan saya the Popo dengan karyanya yang berjudul "Kutub Politik". Cukup pas untuk tempat selfie.

Namun, jika harus memilih satu juara dalam pameran itu --meski kita sama-sama tahu penilaian tentang seni adalah soal selera dan latar belakang manusia dalam memahaminya-- adalah karya multidimensi berjudul "Perkalian", yang sialnya dibuat oleh "kembaran" saya itu. Belakangan saya tahu namanya Fajar Kunting.

Sebagai bentuk penghormatan sekaligus kekaguman saya akan karyanya, saya ceritakan sesuai cerita Fajar kepada rombongan saya dan teman-teman yang datang.

Alkisah, Fajar melakukan performance art di kali yang biasa menjadi tempat segala macam buangan warga sekitar. Kalau saya tak salah dengar, Kali Code di Yogyakarta.

Hari pertama, ia datang bermodalkan sepeda dan wajan besar. Sekonyong-konyong, ia mulai melakukan aksinya, menggoyang-goyangkan wajannya di tengah sungai, layaknya penambang emas tradisional mencari serpihan logam mulia berwarna kuning itu. Padahal semua orang tahu Kali Code tak ada emasnya. Karena itulah, masyarakat sekitar menganggap gila si Fajar itu. Rambut gondrong dan kulitnya yang kecokelatan, semakin melegitimasi anggapan masyarakat sekitar.

Namun Fajar cuek blas. Malahan, hari kedua ia datang dengan status yang tak lagi kere-kere amat. Melainkan mengendarai sepeda motor berpelat putih --istilah darinya dan sampai kini saya tak tahu arti pelat putih.

Semakin hari, status sosial si seniman seolah terangkat. Hari-hari berikutnya ia bahkan datang dengan membawa karyawan. Para karyawan itu dibayar dengan rupiah sungguhan. Hingga puncaknya di hari kesembilan, pemuda sekitar pun mulai ikut "menambang". Si seniman pun merekam aksinya dalam video dan menyebarkannya ke media sosial. Dari situlah, lebih banyak lagi orang yang percaya bahwa Kali Code mengandung emas. Padahal, tak sekalipun Fajar menunjukan wujud emas dalam aksinya.

Namun nahas, pada hari ke-15, ia dicomot oleh warga sekitar. Alasannya? Warga merasa kehilangan kali yang selama ini milik mereka. Namun, bukankah warga selama ini justru mencampakkan kali itu, dengan membuang apa saja ke aliran yang bermuara ke lautan?

Akibat dicomot paksa lalu disidang warga itulah, Fajar tak bisa menyelesailan misinya untuk melakukan penambangan menggunakan wajan besar di tengah kali. Ia terpaksa menyerah lima hari lebih cepat dan mengaku bahwa semua itu hanya dilakukan demi hasrat keseniannya.

Di Gedung D, Galeri Nasional, karya Fajar berupa video dan foto-foto proses "penambangan emas" dan artefak yang ia temukan selama 15 hari pulang-pergi merendam diri di tengah kali. Fajar, seniman yang dibilang mirip saya itu, seolah ingin memberi tahu;

Jika kepedulian dalam bentuk nasihat-nasihat usang tak lagi bisa mengubah kebiasaan yang sudah mendarah-daging dalam pikiran manusia. Lawanlah ketidakpedulian dengan ketidakpedulian lainnya, yang tentu saja perlu dibungkus dengan selera seni yang kelas wahid. Bukan dengan ketidakpedulian layaknya aparat menggusur paksa perumahan warga.

Sekadar informasi, Fajar menamai prosesnya sebagai metode kerja intelijen. Ironis memang, tapi itulah faktanya.

Narasi yang coba dibangun Fajar memang sangat menarik. Dan teman yang tadinya cengangas-cengenges ketika meilhat saya berdekatan dengan Fajar, akhirnya mau tak mau ikut terpukau.

Kalau penasaran, datanglah sendiri ke pameran dua tahunan yang masih berlangsung selama belum masuk bulan puasa.

No comments:

Post a Comment