Pages

25 July 2014

Aku, Kamu, Pram dan Mario

copyright by bowo bagus*
“Aku suka ucapannya,” katanya pagi itu.

“Mengapa kamu masih saja mendengarnya sih? Berapa banyak orang-orang sabar yang akhirnya tak bisa merdeka? Manusia adalah makhluk berbudaya. Ia berdialektika, menggabungkan antara tesis dengan antitesis sehingga menjadi sintesis. Begitu seterusnya. Hal itu tidak mengalir begitu saja. Tesis adalah kebiasaan. Antitesis lahir dari perlawanan. Kita tak bisa selallu mendengar. Harus melawan agar sintesis baru lekas ditemukan,” bantahku kepadanya.

Ia diam dalam waktu yang lama. Cukup lama hingga tak ada kabar berita, sampai aku merasa menang dalam satu pernyataan sekaligus pertanyaan. Memenangkan sebuah pertarungan psikologis antara aku dan dia.

17 July 2014

Romantisme Mario Teguh dan Kepahitan Itu

Ilustrasi cover roman Bumi Manusia

Ah, mengapa engkau masih juga mengutip Mario Teguh, sayangku? Aku tahu kau sedang butuh pegangan hidup. Namun, ah, mengapa harus Mario Teguh, sayang?

Sudikah kau mendengarku bercerita tentang Minke. Tahu kau Minke? Aku ragu kau mengenalnya. Minke hidup dalam khayalan Pram. Apa? Kau juga tak kenal Pram? Pramoedya Ananta Toer?

Mungkin agak panjang untuk diceritakan. Tapi untukmu, apapun akan kulakukan, sayangku.

25 June 2014

Matilah Segala yang Kau Ketahui!

Dok. Teater Kinasih (Rohro)
“Aku ingin bicara,” ucap Gerbong 4.

“Jangan!’” tahan Gerbong 1.

“Aku tetap inging bicara.”

“JANGAN!!” Gerbong 1 marah sambil membungkam mulutnya sendiri, sementara Gerbong 2 menutup matanya dan Gebong 3 menutup kupingnya.

Keempat tokoh itu saling beragumen antara ingin melanjutkan perkataannya atau tidak. Sampai akhirnya mereka berempat berbicara dengan suara yang tidak jelas, lalu semuanya tertawa dan perlahan keadaan mulai hening.

24 June 2014

Realitas dalam Sastra


Meminjam kata-kata dalam kumpulan esai, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara milik Seno Gumira Ajidarma, "Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku Sastra bisa dibredel, tetapi kebenaran dan kesustraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan."

23 June 2014

Beranda Taman Seni: Ketika Seni Berdampingan dengan Perlawanan

Foto: Fachrul Irwinsyah (Kaphac32)
Kehidupan di dalam kampus, yang ketika pukul delapan malam sudah dipaksa pulang, adalah suatu yang (sangat) tidak mengasyikan bagi sebagian mahasiswa. Mahasiswa membutuhkan tempat untuk menyalurkan hasrat mudanya dengan berbagai kegiatan di luar kuliah, setelah dipaksa menyelesaikan 150 sks (sistem kredit semester) dalam ruangan kelas dengan sirkulasi udara dan cahaya yang seadanya.