Pages

25 March 2013

Bertamasya Entah Kemana

Sore itu, di sebuah kafe, yang tak selayaknya kafe, beratapkan ranting bambu, lagu itu terdengar lagi. entah berapa lama saya tak pernah mendengarkan lagu tersebut. Sontak pikiran saya langsung melanglang buana, seperti efek dedaunan kering yang mulai terbakar, kembali ke masa berseragam.

“Nih lagu jama-jaman gue suka sama cewek pertama kali, nih,” ucap saya saat itu kepada sejenis manusia di samping saya ketika lagu itu berbunyi kencang –selayaknya kencang- dari dalam kafe. Tak ada yang istimewa dari lagu tersebut. Nilai penjualan albumya pun tak menghebohkan seperti Peterpan pada masa suramnya, tapi mungkin lebih tinggi dari standar penjualan album musik masa kini di mana rilisan fisik hanya merupakan sebuah fashion, bukan merupakan esensi. Tak jelas apa yang menjadikan lagu itu istimewa.




Seberapapun laris penjualan rilisan fisik, ringtone, konser langsung, tak akan ada maknanya tanpa menghadirkan latar belakang sebuah kenangan. Pun ketika ada sebuah ulasan yang berhasil membuat sebuah lagu menjadi mempunyai latar belakang, yang layak diacungi jempol adalah penulis ulasan tersebut, bukan lagu yang diulasnya.

Kesuksesan sebuah lagu adalah ketika lagu tersebut bisa membangkitkan tentang kejadian pada sebuah masa. Ah, bertele-tele rupanya. Mungkin ini subyektif dan memang akan selalu subyektif. Siapa yang tahu bahwa Karl Marx pada masa mudanya senang mendengarkan lagu sejenis boyband? Anda tahu? Saya sih tidak peduli.

Lagu, seperti karya seni lainya, memang akan selalu subyektif. Yang membedakan hanyalah latar belakang. Dalam kosakata lain disebut motivasi. Setiap orang memiliki motivasi dalam mendengarkan lagu, terlebih saat ini di mana kendali media sudah ada di tangan kita. Rasanya percuma pula saya menulis ini, toh kalian tak pernah akan paham latar belakang saya menyukai lagu ini –walaupun akan bosan juga kalau didengar berulang-ulang.

Ah, memang saya selalu mengamini kata-kata sir Dandy bahwa lagu mempunyai efek psikologis. Tak heran bila ada yang sampai bunuh diri akibat mendengarkan sebuah lagu. Mungkin lagu tersebut menjadi soundtrack pertengkaran dengan pacarnya yang menyebabkan pacarnya ditabrak mobil. Klise memang, tapi apa daya.

No comments:

Post a Comment