Pages

24 February 2013

Refleksi Diri Bukan Pijat Refleksi



Media adalah sebuah saluran pesan, dalam bentuk berita, yang merefleksikan realitas. Sehingga merupakan hal yang wajar bila kita dapat melihat dunia lewat media. Informasi berbentuk berita yang disuguhkan oleh media, seakan telah memuaskan imaji kita tentang dunia, tentang realitas.

Imaji yang terus bertanya tentag dunia tentu memerlukan jawaban. Jika beberapa menjawabnya dengan mitos, beberapa yang lain mencarinya lewat media, dan berita dianggap sebagai representasi dari realitas. Mungkin pandangan positivis tersebut masih menjamur di antara kita, sehingga setiap berita atau informasi yang masuk selalu dianggap sebagai sebuah realitas.

Namun, media hanyalah agen konstruksi dari realitas. Jadi, media yang kita baca, sadar atau tidak sadar, akan mempengaruhi persepsi kita melihat realitas dan menciptakan perspektif baru kepada khalayak tentang mitos dunia. Karena pada dasarnya, berita tidak mungkin merupakan cerminan realitas, namun realitas tersebut dibentuk oleh pemahaman dan konsep dari sebuah media akan fakta yang terjadi. Sehingga realitas tersebut bersifat subjektif.

Media hanya merupakan sebuah jendela untuk menggambarkan realitas yang kompleks ini. Seperti umumnya sebuah jendela, selalu ada bingkai yang membatasinya. Melalui bingkai tersebut, media membatasi mana yang harus dikonsumsi dan tidak oleh khalayak. Dan, setiap media memiliki bingkai masing-masing dalam melihat dan mengkonstruksi realitas.

Dalam buku yang berjudul Communication as Culture: Essay on Media and Society, James W. Carey mengatakan, “News is not information but drama. It does not describe the world but portrays an arena of dramatic forces and action; it exist solely in historical time; and it invite our participation on the basis of our assuming, often vicariously, social roles within in.”

Dengan demikian, seperti sewajarnya sebuah drama, selalu ada pahlawan dan pihak yang disalahkan. Dan, media merupakan agen yang menciptakan persepsi tersebut dalam khalayak. Realitas dikonstruksi sedemikian rupa sehingga kebenaran absolut adalah nihil.

Seagung apapun objektifitas dijunjung oleh sebuah perusahaan media, selalu ada celah yang melibatkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai dari wartawan atau media masuk ke dalamnya. Untuk pemilihan judul, lead, body dan penempatan berita sekalipun, selalu ada subjektivitas di dalamnya.

Seberapapun gencar sebuah media dalam mengkonstruksi realitas, namun kenyataan sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. Kenyataan ada dalam diri kita sendiri dan selalu ada pembenaran –Eriyanto menyebutnya sebagai nalar awam- terhadap perilaku kita. Nalar awam itulah yang membedakan pandangan kita terhadap realitas. Perbedaan tersebut bukanlah sebuah kesalahan, namun dengan perbedaan itu masing-masing kita dapat bercermin satu sama lain.

Yang pasti, kenyataan bahwa lingkungan kita masih jauh dari kata “nyaman” tidak akan berubah bila kita tidak bertindak.

1 comment:

  1. gini gak Bay? http://serapah.tumblr.com/post/44032470793/i-dnot-konw-waht-is-rghit-aynmore

    akun gua lupa password, sori jadi anonim.

    ReplyDelete