Pages

08 February 2013

Mati Suri di Jakarta




Apakah kamu pernah bermimpi tentang mati? Mati tenang di padang rumput. Dimakan belalang dan dihirup langit. Debu dari abu tanahmu menjadi satu dengan tanah. Apakah kamu pernah merasakan mati? Aku sedang mengalaminya.

Seperti itu monolog yang dibawakan oleh Desi, seorang biasa yang meninggi derajatnya setelah dipaksa oleh ibunya untuk menjadi simpanan seorang pengusaha kaya, James. Desi yang tidak tahan hidup sebagai gundik akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan James dan menikah dengan Sam, seorang lelaki yang telah memiliki istri.

Naas, Sam tak pernah pernah mencintai Desi seutuhnya. Kehidupan Desi bersama Sam jauh lebih mengenaskan daripada saat masih bersama James. Setiap pulang ke rumah ibunya, wajah Desi selalu terlihat memar. Namun Desi tetap mengatakan seribu alasan kepada ibunya untuk menutupi perlakuan kasar Sam. Karena Desi mecintai Sam, dengan segala kekurangannya.

Sam yang memang tak pernah mencintai Desi semakin menjadi-jadi. Ia hanya ingin mendapatkan harta milik Desi, yang diwariskan dari James, mantan suaminya. Diam-diam, Sam bersama istri pertamanya merencanakan sebuah pembunuhan untuk Desi. Sam rela menyewa jasa seorang pembunuh bayaran dengan biaya mahal untuk menghabisi nyawa Desi.

Ketika Sam dan Desi sedang berjalan bersama di pasar malam, suasana tiba-tiba menjadi kacau, dan Desi pun terpisah dari Sam. Desi yang sedang sendirian dan kebingungan terus berteriak saat pembunuh itu datang. Tiba saatnya untuk pembunuh bayaran itu malaksanakan tugasnya. Ia membunuh Desi dengan sebuah pusau panjang yang dicabut dari sela pinggangnya. Dalam kematiannya itu, arwah Desi bermonolog ria tentang kehidupan, yang tak pernah mendapatkan cinta dan kebahagiaan, dan tentang kematian. Dan, sebagai perempuan yang menjadi korban, Desi dan Nyai Dasima senang untuk menyambut kematian, karena menurutnya mati itu lebih menyenangkan daripada hidup dengan keadaan tak memiliki hati nurani.

Menurut Ari “Harjay” Wibowo, sutradara pementasan Teater Pagupon yang berjudul Mati Suri di Jakarta, kisah ini merupakan reailta yang terjadi saat ini, khususnya di Jakarta, di mana hati nurani telah mati. Serorang suami yang tega menyuruh pembunuh bayaran untuk “membunuh” istrinya sendiri untuk mendapatkan harta kekayaan, merupakan hal yang biasa terjadi di Jakarta.

Lakon Mati Suri di Jakarta merupakan adaptasi dari karya sastra karangan G Francis, Nyai Dasima, yang menceritakan tentang seorang gadis desa yang dipaksa oleh orang tuanya untuk menjadi gundik seorang pria berkebangsaan Inggris. Hal itu dilakukan oleh orang tua Nyai Dasima untuk meningkatkan derajat keluarganya. Pementasan Mati Suri di Jakarta merupakan sindiran-sindiran terhadap keadaan yang memaksa untuk mematikan hati nurani masyarakat.

Sebagai sutradara, Harjay hanya berharap agar penonton dapat terhibur oleh pemantasan Mati Suri di Jakarta. Karena menurutnya, teater itu haruslah merupakan hiburan. Perihal ada pesan yang ingin disampaikan oleh pementasan tersebut, itu diserahkan kembali kepada masing-masing penonton untuk bebas menginterpretasikannya.

No comments:

Post a Comment