Pages

16 July 2022

Pasar Daring Berkembang, Koperasi Ingin Terus Berdayakan Pedagang

Sejumlah pesanan komsumen Pasar Cikurubuk Online dikemas sebelum dikirimkan.



Muncul sebagai solusi belanja saat kondisi pandemi Covid-19, Pasar Cikurubuk Online (PCO) kini makin diminati. Peminatnya tak hanya lokal Tasikmalaya, tapi juga dari berbagai wilayah Priangan Timur, bahkan daerah lainnya di Indonesia.

PCO, yang hadir sejak April 2020, diinisiasi Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya dan Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya, bekerja sama dengan komunitas pedagang. Semula layanan pasar daring ini dikelola Himpunan Pedagang Pasar Kota Tasikmalaya (Hippatas). Lantaran Hippatas merupakan organisasi nonprofit, dibentuklah Koperasi Pemasaran Pedagang Pasar Cikurubuk (KPPPC), yang kemudian berperan mengelola PCO.

Ketua Hippatas, Jahid, mengatakan, PCO kini merupakan salah satu unit usaha yang berada di bawah KPPPC. Keberadaan layanan pasar daring ini, kata dia, bukanlah untuk menjadi pesaing usaha para pedagang di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya. PCO hadir untuk memfasilitasi para pedagang agar dapat memperluas pemasaran barang dagangannya. Produk yang ditawarkan PCO lewat akun lokapasar Tokopedia dan Shopee diambil langsung dari para pedagang di Pasar Cikurubuk, khususnya yang merupakan anggota KPPPC.

Menurut Jahid, sejauh ini baru ada sekitar 25 pedagang yang tergabung secara resmi sebagai anggota KPPPC. Jumlahnya disebut masih jauh dari harapan. Jahid berharap keuntungan menjadi anggota koperasi dapat meningkatkan minat pedagang. Bagi pedagang yang merupakan anggota KPPPC, kata dia, produknya diprioritaskan untuk ditawarkan atau dijual via PCO.

Selain itu, pedagang yang menjadi anggota koperasi juga bisa memperoleh bantuan, serta mendapat bagian dari sisa hasil usaha (SHU) koperasi. “Kami bertahap meningkatkan anggotanya. Harapan kami mah semua pedagang di Pasar Cikurubuk bisa menjadi anggota. Kami memang sengaja menggarap ini dengan konsep koperasi karena tujuannya untuk memajukan para anggotanya,” ujar Jahid kepada Republika, Kamis (14/7).

Potensi memperluas pasar

PCO hadir menjawab kendala belanja saat pembatasan aktivitas diberlakukan pemerintah akibat kondisi pandemi Covid-19, khususnya di Kota Tasikmalaya. Seiring operasionalnya, konsumen yang memanfaatkan layanan PCO kian bertambah dan bukan hanya berasal dari wilayah Tasikmalaya. “Alhamdulillah, perkembangannya cukup signifikan. Saat ini PCO tidak hanya dikenal secara lokal Tasikmalaya atau Priangan Timur, tapi juga banyak konsumen dari seluruh Indonesia,” kata Jahid.

Kepada Republika, Jahid menunjukkan bukti pesanan dari konsumen asal Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, juga Sulawesi. Berdasarkan data dari BI Tasikmalaya, 51 persen tujuan pengiriman produk dari PCO justru ke luar wilayah Priangan Timur. Sekitar 49 persen masih di dalam wilayah Priangan Timur. Jahid menilai, harga produk yang ditawarkan di PCO terbilang kompetitif. Adanya promo pembelian produk lewat lokapasar dinilai menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen dari daerah lain. “Biasanya dari luar itu pesan paket kering, seperti sembako,” ujar dia.

Petugas administrasi PCO, Rudi Arif Rahman, menjelaskan, PCO tak hanya menawarkan produk kering. Ada juga berbagai produk lainnya, seperti daging, cabai, bawang, serta bermacam sayuran. Namun, untuk produk-produk basah ini layanannya masih terbatas untuk konsumen yang berada di sekitar wilayah Tasikmalaya dan pengirimannya dilakukan pada hari masuknya pesanan. “Soalnya riskan kalau ke luar kota,” ujar dia.

PCO dioperasikan selama 24 jam. Namun, untuk pengiriman pada hari yang sama hanya berlaku untuk pemesanan yang masuk pada sekitar pukul 07.00 WIB-13.00 WIB. Apabila order masuk lebih dari pukul 13.00 WIB, pengiriman akan dilakukan keesokan harinya. Arif menjelaskan, setiap ada order masuk, petugas akan langsung mencari produk yang dipesan di lapak-lapak para pedagang. Produk yang dipilih diprioritaskan dari para anggota koperasi. Setelah itu, barang akan dikemas untuk dikirimkan langsung kepada pemesan.

Menurut Arif, pesanan yang masuk ke PCO masih didominasi makanan kering. Untuk produk sayuran dan daging disebut masih jarang. Ia menduga masih banyak warga Kota Tasikmalaya yang belum mengetahui layanan PCO, sehingga pemesanan dari dalam kota masih relatif sedikit. “Padahal kan belinya enakan daring, tidak perlu becek-becekan ke pasar. Ini harus dikembangkan lagi promosinya,” kata dia.

Omzet meningkat

Berdasarkan data yang diterima Republika, selama operasional PCO pada 2020, diterima 1.141 pesanan, dengan omzet mencapai sekitar Rp 186 juta. Angkanya meningkat pada 2021, di mana masuk 5.326 pesanan, dengan omzet disebut mencapai sekitar Rp 398 juta. Sementara pada 2022, sampai Mei, terdata 3.404 pesanan, dengan omzet mencapai sekitar Rp 220 juta.

Jahid mengatakan, saat ini omzet PCO per bulannya rata-rata mencapai Rp 60 juta. Menurut dia, angkanya masih terbilang jauh dibandingkan omzet total penjualan secara luring para pedagang di Pasar Cikurubuk. Ia mengatakan, pesanan produk lewat PCO selama ini masih banyak berupa ritel atau eceran. Koperasi berupaya mencari cara untuk dapat meningkatkan penjualan. Salah satunya dengan menjajaki pola penjualan business to business. “Ini kami sedang garap. Jadi, penjualannya bisa dalam partai besar, bukan ritel lagi,” kata dia.

Promosi layanan PCO pun diharapkan bisa digencarkan. Untuk itu, Jahid pun meminta dukungan dari Pemkot Tasikmalaya. Selain membantu promosi, diharapkan pemkot dapat mendorong para aparatur sipil negara (ASN) berbelanja melalui PCO. “Itu //kan// bagus, bisa meningkatkan omzet PCO,” ujar Jahid.

12 April 2020

Menikmati Panorama Memikat Talaga Bodas


Udara dingin ala daerah dataran tinggi terasa menembus ke badan. Tiga lapis pakaian belum cukup untuk menghalau dinginnya suhu di kawasan itu. Namun, beberapa orang yang terlihat tetap semangat berswafoto dengan latar putihnya air kawah Taman Wisata Alam (TWA) Talaga Bodas di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Rabu awal Februari lalu.

07 July 2019

Mengenang Sutopo dan Sistem Kebencanaan di Negeri Ini

Tulisan ini, saya muat ulang untuk mengantar Sutopo Purwo Nugroho ke alamnya yang baru. Saya menulis ini sekitar awal Agustus 2016. Momen itu, kalau tak salah, menjadi kali pertama saya menuliskan sosok untuk sebuah media arus utama.

Tulisan mengenai sosok ini terbit di Harian Nasional edisi 6-7 Agustus 2016. Format tulisannya tanya-jawab. Saya bertanya satu menit, Sutopo menjawab 30 menit.

Sehabis mewawancari di siang itu, saya ditawari beberapa kaos dan buku terkait kebencanaan. Saya mau ambil bukunya, tapi tak jadi. Entah saat itu alasannya apa.

Silakan mengenang kembali sosok humas terbaik pernah saya kenal.

07 December 2018

Isu #4

Sebagai anak muda yang pernah sok punk, tentu saja saya pernah mendengarkan lagu-lagu Superman is Dead (SID). Tapi, sebagai anak yang tinggal di pinggiran Jakarta, saya juga pernah (dan mungkin masih) mencintai dangdut cum koplo. "Gedung Tua", "SMS", adalah dua di antara lagu-lagu yang pernah mengisi waktu, ketika masih SMP kalau tak salah.

23 September 2018

Isu #3

Badannya besar, tinggi dan lebar. Ia tak gemuk, tapi tentu tidak kurus. Namun sulit mengatakan postur tubuhnya proporsional. Entah apa sebutan yang cocok untuk mencirikan bentuk tubuhnya. Memang tak sepatutnya dicirikan.

19 September 2018

Isu #2

Dalam perjalanan yang kesiangan menuju sebuah rumah di Jalan Cemara, Menteng, Jalarta Pusat, kerumunan di jembatan mengalihkan perhatian saya. Para pengendara motor yang berhenti menunggu kereta lewat, kepala saya semua mengarah ke kiri, melihat aliran kali. Kali Ciliwung.

17 September 2018

Isu #1

Dalam satu kesempatan, seorang wartawan bertanya pada salah satu kader dari partai pendukung Prabowo-Sandiaga. Pertanyaannya kira-kira begini, "Pak gimana kalau debat nanti pakai bahasa inggris?"

11 June 2018

Semua Karena Sergio Ramos


RAMOS. Kalah di partai final sebuah kompetisi kelas wahid di benua pusat peradaban sepakbola memang bukan hal yang mudah. Skor 3-1 mengantarkan Real Madrid membawa pulang trofi Liga Champions untuk ketiga kalinya secara beruntun, menyisakan dendam di hati para Liverpudlian. Dendam itu mengarah pada satu nama: Sergio Ramos.

10 May 2018

Parodi


Dua bola matanya tak terlihat. Hanya dua garis sedikit lengkung dengan alis pendek yang terlihat. Kacamatanya tak bulat sempurna, bahkan tak sama antara kiri dan kanannya. Sedangkan dagunya yang berbentuk setengah lingkaran, seolah berusaha mengimbangi topi copetnya yang serupa eskrim cone.

08 May 2018

Ketidakpedulian


Seperti pameran-pameran lainnya di Galeri Nasional, saya bersama rekan-rekan sepekerjaan datang lebih awal daripada pengunjung manapun untuk melakukan tur mengamati sejumlah karya. Begitu pula yang terjadi sore itu, Rabu pertama di bulan Mei, hari setelah peringatan buruh sedunia.

Ayunan




Di beranda Facebook saya, beberapa teman menyebarkan video seorang bapak menendang anak-anak. Mungkin klean sudah nonton videonya. Mungkin juga belum. Biar nambah panjang tulisan, biarlah saya gambarkan isi videonya dengan kata-kata, alih-alih menyebarkan videonya.

15 January 2018

Konser Liam, Transfer Playmaker, dan Kekalahan City

Noel dan Liam. (Foto: Istimewa)
Sekitar 12 hari sebelum konser mantan berandalan Oasis digelar di Jakarta, Agustus 2017, berita kontroversial datang. Liam Gallagher batal konser karena salah atur jadwal. Padahal ketika itu di tempat saya bekerja, teman saya Ricad Saka telah mem-booking untuk meliput konser itu. Karena batal, ia pun tak kesampaian menonton idolanya yang merusak gitar kakaknya dan menyebabkan bandnya yang melegenda bubar.

07 January 2018

Menikmati Seni dan Ucapan Terima Kasih Setelah Kencing


Hari terakhir di 2017. Rengekan Siti Annisa dari sebulan sebelumnya berhasil membuat saya tak sempat meletakan badan di tempat tidur nyaman, di lantai dua kamar berantakan yang ada gambar Che Guevara-nya. Dari sebulan lalu, dia terus mengajak untuk ke Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN). Saya terpaksa tak tidur, menemaninya, menjadi orang paling artsy di muka bumi dengan berfoto di “Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls” milik Yayoi Kusama.

24 December 2017

Semalam Suntuk Berdansa di Panggung DWP

Atraksi Steve Aoki di panggung Garuda Land, DWP 2017.
Jika pada malam pertama nama-nama DJ beken seperti Marshmello, Flume, Zatox, David Gravell, hingga Tiesto, tampil memukau di paggung Garuda Land, Cosmic Station, dan Neon Jungle, Djakarta Warehouse Project (DWP) 2017, malam kedua DWP panggung Cosmic Station diubah menjadi Live Etc dan Neon Junggle menjadi Elrow Psichedelic Trip. Sementara panggung utama Garuda Land tetap berdiri kokoh di luar ruangan untuk tampilnya nama-nama besar seperti King Chain, W.W, DVBBS, Galantis, Steve Aoki, hingga Hardwel.

20 April 2016

Perwakilan Penambak Udang Datangi Komnas HAM



Perwakilan penambak udang Desa Bratasena Mandiri dan Adiwarna, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, mendatangi kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Senin (18/4). Para penambak ini mengaku telah diperlakukan tidak adil dalam kemitraan bersama PT Central Pertiwi Bahari (CPB).

22 July 2015

Tanah

Aku adalah angin.
Menyusup lewat dahan kecil,
bersapa dengan daun tua
juga yang muda.

Aku adalah abu.
Yang keluar sejak matahari
belum tiba hingga puncak.
Menari di sela mata.

Aku adalah kabut.
Sebentar terlihat mata,
untuk kemudian menyatu
bersama udara.

Aku adalah pohon.
Menjulang tinggi dan rapuh.
Enggan bersahabat angin.
Menyendiri sampai ke ujung.

Aku adalah rimba.
Rimba yang penuh harimau,
harimau yang siap diburu
sekaligus memburu.

Tapi siapa engkau?
Menyusup melalui maya,
mematahkan segala
aku yang telah tiada.

Kini,
aku bukan angin,
bukan abu,
bukan kabut,
bukan pohon,
bukan rimba.

Aku telah tiada.
Aku menjelma tanah.


Sebelum Malang.

13 July 2015

Kopi


Saya menganggap kopi hanya sebagai teman bicara. Sungguh hanya teman bicara. Kalaupun diganti dengan susu atau teh, tak ada masalah.

Bagi saya kopi memang tak ada yang istimewa. Belum ada, lebih tepatnya. Sampai saat, semalam saya berkunjung ke sebuah kedai kopi kecil milik kenalan saya, Mirza Jaka Suryana.

Rahasia Kecil dalam Sepucuk Surat yang Lusuh

Ilustrasi: Istimewa
Untuk kekasihku..

Hai, manis. Doaku dini hari ini adalah: semoga kamu tetap manis. Selalu manis.

Aku sangat ingin berterima kasih pada semesta yang telah mengatur pertemuan kita. November tahun lalu. Kepada semesta yang nantinya juga akan memisahkan jasad kita.

Sejak bertemu dan meminjam bukumu, buku yang ditulis oleh Haruki Murakami itu, aku tahu kalau kamu akan menjadi kekasihku. Pasti. Entah apa yang membuatku hakul yakin itu. Aku hanya yakin. Teramat sangat yakin.

Kamu tidak percaya? Oh, maaf. Aku tak berniat bertanya padamu. Sekarang aku tahu kalau perempuan tak suka ditanya. Dilan yang memberi tahu kepadaku. Dilan adalah novel karya Pidi Baiq yang aku pinjam dari temanku. Belum sampai habis aku membacanya. Tinggal tersisa beberapa puluh halaman lagi.

Aku anggap kamu tidak percaya. Maka aku akan menceritakannya untukmu, perempuan manis yang kini adalah kekasihku.

Aku adalah mahasiswa biasa di kampus yang biasa pula. Aku tidak flamboyan. Aku hanya kenal beberapa orang di kampus. Kalau orang-orang mengenalku, itu bukan urusanku. Tapi, kamu berbeda.

Kamu mengikutiku di Twitter. Aku mengikuti balik. Aku tahu kalau kamu itu satu kampus denganku. Juga satu angkatan dan satu jurusan. Tapi, aku tak pernah mengenalmu. Aku penasaran, siapa perempuan ini. Siapa sebenarnya dirimu, perempuan manis yang mengikutiku di Twitter.

Aku membuka halaman instagrammu, yang tertera dalam profil twittermu. Aku melihat foto-fotomu. Melihat potret buku Haruki Murakami dan di lain foto, potret temanku, Amat. Sejak itu, aku tahu kamu berteman dengan Amat.

Amat adalah mahasiswa yang dikenal banyak orang. Ia tergabung dalam sebuah komunitas fotografi. Tentu saja ia juga pandai mengabadikan peristiwa dari sudut lensa yang tak terduga. Aku mengenalnya ketika komunitasku meminta tolong kepada komunitas fotografinya, untuk keperluan dokumentasi.

Pernah aku melihat Amat sedang sendirian, membaca novel Gelombang karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Saat itu, Gelombang memang baru terbit, melanjuti serial Supernova yang selalu menjadi best-seller Dee sebelumnya, Partikel. Aku penasaran dengan isinya.

“Punya lu, Mat?” tanyaku kepadanya.

“Bukan. Punya temen gue.”

“Pinjem dong.”

“Lu bilang sendiri sana sama temen gue,” ucapnya ketus.

Aku langsung mengurungkan niat untuk meminjamnya. Nanti juga banyak temen gue yang beli, pikirku, sambil berharap sahabatku Nadira sudah membelinya sehingga bisa aku pinjam darinya.

Selain jago fotografi, Amat juga senang membaca. Dan ia adalah temanmu. itu yang penting dalam suratku ini.

Setelah beberapa lama, aku bertanya pada Amat tentang dirimu. Mungkin Amat telah lupa kalau kamu ingin mengonfirmasinya. Tapi aku akan selalu ingat. Aku meminta tolong Amat untuk bisa meminjam bukumu, novel Haruki Murakami itu. Berselang hari, Amat bilang, "Orangnya maunya langsung ketemu sama lu."

Amat langsung mengajakku menemuimu. Aku memberanikan diri, sekaligus sangat ingin, bertemu denganmu. Melihat wajah asli perempuan manis di Twitter itu.

Hari itu, Rabu bulan November, akhirnya kita bertemu. Di depan kantin, samping lapangan basket yang ditutupi pohon bambu. Kita berbicara tentang apa saja. Tentang kamu, aku, dan Miko, yang entah kebetulan atau tidak, sedang ada di situ.

Entah berapa lama aku duduk bersamamu di tempat itu. Cepat sekali rasanya. Waktu memang begitu relatif. Tidak kaku seperti kerah orang-orang yang berdasi itu. Bersamamu, pun menghabiskan berjuta waktu, rasanya cepat seperti kilat.

Dua tujuan utama hari itu telah tuntas; bertemu dan meminjam bukumu. Sebelum pergi, aku juga menjanjikan kopi untukmu sebagai bea meminjam novel Murakami. Hari ini aku cukupkan. Kopi itu untuk di lain waktu.

Hari itu aku yakin, kamu akan menjadi, apa namanya di atas tad? Kekasihku.

Kamu masih belum percaya, manis? Oh iya, maaf. Perempuan tak suka ditanyaDilan kembali datang ke dalam pikiranku.

Anggap saja aku masih menganggapmu belum percaya. Mari, manis. Duduklah tenang di samping laptopmu. Lewat surat ini, aku ingin membisikkan rahasiaku. Dengan pelan. Teramat pelan.

Setelah bertemu denganmu, Rabu di bulan November itu, aku langsung menulis. Sebuah puisi. Tentang Rabu yang bahagia.

Kamu mau membaca puisi itu lagi? Belum bosan juga kamu membacanya?

Itu adalah salah satu, dari yang tak terhingga jumlahnya, yang membuat aku hakulyakin kamu adalah kekasihku. Kamu tak pernah bosan membaca.

Puisi itu lahir begitu saja. Entah karena dan untuk apa. Mungkin karena dan untukmu. Semesta yang mengaturnya.

Saat itu, akun Twittermu masih aktif. Aku ingat juga, kamu membuat sebuah ilustrasi perjalanan hari Rabu di bulan November itu, dalam blog milikmu. Di sana ada namaku.

Kamu tak memberi keterangan pada namaku. "...untuk... yang ini skip dulu."

Itu yang membuat aku semakin yakin, kamu adalah teman hidupku. Tapi, manis, aku menganggap itu janji. Janji untuk menjelaskan siapa aku. Apa benar itu aku yang kamu maksud?

Aku harap kamu mampu melunasi janji itu. Harap. Sangat.

Kekasihku yang manis, masih ingatkah kamu tentang itu? Tentang masa aku mengenalmu dan yakin kalau kelak, kamu adalah kekasihku.

Apakah kamu sudah percaya? Meskipun Dilan berulang kali bilang kalau perempuan tak suka ditanya, aku tetap harus bertanya kepadamu.

Aku telah bertanya, bolehkah aku mencintaimu. Kamu menjawab ya. Boleh. Aku boleh mencintaimu. Selamanya. Sampai semesta mengatur perpisahan kita. Nanti.

Itulah rahasiaku, manis. Aku mencintaimu.

Manisku, tak perlu kamu takut dengan perpisahan. Itu adalah alasan kita pernah bertemu. Untuk berpisah.

Namun, aku ingin kamu selalu ingat sepenggal sajak Sapardi, yang pernah kuberikan untukmu, "Yang fana adalah waktu. Kita abadi."

25 May 2015

Kabar

Demi bunyi gelas yang bertemu sendok tukang es campur.
Dan suara botol-botol hijau pedagang mpempek.
Melalui kipas angin listrik yang selalu bolak-balik.
Ingin kutitipkan untukmu segenggam rindu.

Demi Riko yang agak murung melihat rencana nikahnya saat SMK kandas sudah.
Dan keponakannya yang menangis melihat bapaknya pergi beli makan.
Bak hitam plastik telah direbahkan agar bisa mandi di pukul setengah lima.

Demi suara latar lagu The Adams.
Dan suara gelisah menunggu balasan.
Juni semakin dekat,
meskipun tak harus hujan seperti sajak Sapardi.

Demi para pemancing yang tak membawa ikan pulang.
Dan nyanyian burung kenari berwarna kuning di dalam kandang.
Mobil-mobil melulu bising berlalu-lalang.

Demi Beni yang tak lagi menyapa dengan halo.
Dan kakak-beradik kecil terus memegang botol mineral.
Lewat daun melinjo muda, semoga kabarmu selalu tak jumawa.

Mei,  2015

16 May 2015

Menulis


Sejak sebelum saya memutuskan untuk kuliah jurusan ilmu jurnalistik, saya meyakinkan diri untuk bisa menulis. Koran yang belum terbit jadi bahan bacaan saya setiap malam. Ini adalah amunisi, pikir saya.

Setelah masuk, saya sengaja ikut kegiatan teater. Bukan untuk jadi aktor. Tapi penulis. Adalah angan-angan Nano Riantiarno tentang Soe Hok Gie, yang membawa saya ke dalam teater.

Hebat benar imaji pendiri Teater Koma itu. Hanya dengan tulisannya, saya berteater. Demi bisa menulis.

Saya belajar menulis dari sebelum menduduki bangku di taman kanak-kanak, yang dulu dibayar dengan iuran kurang dari Rp 10.000 setiap bulan. Menulis bukan hal yang baru bagi saya, juga manusia. Menulis telah dilakukan jauh sebelum Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian, kalau kata Pramodya Ananta Toer. Oleh karena itu saya tetap meyakinkan diri untuk menulis.

Kritik adalah teman. Pandangan sinis merupakan anjing yang mesti dibiarkan oleh kafilah.

Tapi, menulis bukanlah proses yang mudah. Andreas Harsono berkata, menulis butuh tahu dan berani. Tahu tentang apa yang ingin kita tulis, dan berani menulis.

Kedua hal di atas adalah hal yang sangat memuakkan untuk memulai sebuah tulisan. Saya belum tahu banyak, namun cukup berani untuk menulis.

Tiga tahun lalu, sebelum menonton sebuah festival teater di Bulungan, kawan saya mengajak membuat proyek menulis. Setiap hari, sebulan tanpa henti. Saya setujui idenya.

Namun menulis berdua rasanya kurang mengasyikan. Kami mengajak seorang lagi. Berhasil.

Saya membuat blog, untuk arsip dan publikasi proyek kami.

Tujuannya, menafsirkan kebenaran. Aturan mainnya, tidak menulis dengan alasan apapun, wajib membayar denda yang tak sampai harga setengah bungkus rokok.

Tiga tahun sudah proyek itu berjalan. Setiap tahun kami menyisihkan 30 hari untuk menulis. Tentu dengan serba sok tahu dan sok berani.

Entah karena tujuannya yang teramat banal atau memang pengguna internet yang melulu syahwat, dari ratusan tulisan, setengah dari pengunjung blog kami hanya ingin tahu arti ngentot.

Betapa indahnya segala proses untuk keabadian ini.