Pages

01 January 2014

Membangun Kultur Kreatif, Menjadi Manusia Seutuhnya


Kredit ilustrasi: http://kvltmagz.com

Jutaan kendaraan bermotor berseliweran di jalan-jalan Jakarta. Jutaan orang pula menggantungkan hidupnya pada industri, di mana mereka melebur menjadi alat produksi. Masyarakat kelas pekerja tak peduli lagi dengan proses kreatif. Semua yang dilakukannya adalah kebiasaan, yang terus diulang-ulang sehingga mereka menjadi alat, bukan lagi manusia sutuhnya.

Manusia-manusia Indonesia dibentuk menjadi robot, yang hanya tahu produksi dan terima gaji. Delapan jam sehari, enam hari seminggu, bertahun-tahun, hingga akhirnya lupa bahwa manusia diberi akal untuk mencipta, bukan menjadi mesin produksi.

Perlu diketahui sebelumnya, banyak karya Indonesia yang diapresiasi oleh dunia Barat. Dalam pagelaran festival film internasional Berlin 2013, dua film Indonesia ikut terpilih dalam nominasinya. Tak berhenti sampai di film, Pada tahun 2013 pula, salah satu teater kampus dari Indonesia menjadi juara umum di festival teater internasional, Maroko. Di bidang musik, tak terhitung berapa banyak musisi Indonesia yang pulang pergi menggelar konser di luar negeri.

Hal tersebut sudah cukup menjadi bukti bahwa daya cipta masyarakat kita memiliki potensi untuk membangun ekonomi. Namun, kurangnya dukungan pemerintah, membuat potensi-potensi liar tersebut hanya menjadi sebatas wacana.

Dukungan dari pihak pemerintah pun tak bisa selalu diharapkan. Pemerintah lebih terlalu fokus kepada bidang pariwisata bila berbicara tentang ekonomi kreatif, dan alpa bila menggembar-gemborkan objek pariwisata, hal tersebut justru bisa menjadi bumerang. Pasalnya, jika memakai logika sederhana, semakin banyak wisatawan yang berdatangan, semakin cepat rusak pula alam yang kita miliki, terlebih yang bersifat dilingdungi, komodo misalnya.

Teringat perkataan teman saya, bahwa setiap travel agent telah memasukkan tiket Broadway dalam perjalanan yang membawa turis beerkunjung ke Amerika. Dengan dukungan tersebut, industri teater di Amerika bisa menghidupi para pemainnya. Tak seperti di sini, yang bahkan Teater Koma pun, yang notabennya adalah teater paling populer di Indonesia, para pemainnya harus latihan setelah pulang kerja. Ironis.

*Naskah ini terbit untuk Koran Sindo.

No comments:

Post a Comment