Pages

02 July 2012

Fiksi-Fiksi (Mini) untuk Seorang Wanita

Sunarti | Tiba-tiba aku terbayang senyum manis Sunarti dengan kecilnya lesum yang hinggap di pipi. Mengapa harus pakai She kalau Su lebih manis?

Perkenalan Singkat | Aku berpapasan, melihat raut wajahnya yang merah dengan senyum terpaksa menyebrangi orang tua.

Bosan | Aku bosan menulis, tapi tak terasa kata-kata sudah berbentuk suara. Satu lagi alasannya, sentuhan virtual seperti memaksa untuk berkarya.

Senja Tanpa Jazz | Senja hari ini tidak keemasan, tidak pula seseorang mengajak nonton musik jazz. Sengaja kusiram membangunkannya, ternyata kertas itu basah.

Pagi yang Esa | Embun hinggap di daun yang hijau. Seorang anak gadis berjalan di rerumputan basah. Ia menghirup udara di sekelilingnya yang terasa padat. "Bau ini mengingatkanku pada seseorang," bisiknya dalam hati. Di beranda rumah, foto keluarganya yang terpajang rapi tiba-tiba jatuh pecah berantakan. Ayah dari gadis itu menangis melihat anaknya bermain sendiri di pagi hari. Ayah teringat pada istrinya yang sudah enam bulan menghilang tak menemani anak gadis bermain di rerumputan. Siang hari, seorang datang membawa pesan jauh dari negeri seberang. "Istri Anda sudah tiada. Ia disiksa majikannya di Arabia," perlahan seorang itu bicara menatap mata sang ayah. Ayah hanya diam menyimpan kepedihan melihat wajah anaknya yang semakin lama semakin mirip ibunya. Saat ini pagi tidak lagi gembira. Tidak lagi ada tawa. Hanya bau embun yang mampu mengingatkan gedis kecil itu akan kehadiran ibunya. "Ini seperti wangi ibu," bisik gadis kecil itu pelan, perlahan air mata keluar dari pipinya.

Diam | Suara-suara daun yang berguguran terasa ramai sekali di telinga. Seorang lelaki setengah baya sedang menanti kematiannya di ujung sungai yang sepi.

Monolog Sabtu Malam | Aku kehabisan kata-kata manis yang lebih manis dari cokelat, lebih berwarna dari bunga, lebih agung dari wanita. Memang ada?

Ternyata Masih ada Suara | Dalam petang, yang perlahan menjadi malam, terlihat seekor keledai yang menunggu majikannya datang. Sepi terdengar ramai di dalam naungan bising terlinga. Semak bergetar, terlihat sesosok wanita muda berlari seperti ketakutan. Lama berselang setelah sang wanita menghilang tertelan malam, tapi suara yang dinantikan tak kunjung datang.

No comments:

Post a Comment