Pages

23 June 2014

Beranda Taman Seni: Ketika Seni Berdampingan dengan Perlawanan

Foto: Fachrul Irwinsyah (Kaphac32)
Kehidupan di dalam kampus, yang ketika pukul delapan malam sudah dipaksa pulang, adalah suatu yang (sangat) tidak mengasyikan bagi sebagian mahasiswa. Mahasiswa membutuhkan tempat untuk menyalurkan hasrat mudanya dengan berbagai kegiatan di luar kuliah, setelah dipaksa menyelesaikan 150 sks (sistem kredit semester) dalam ruangan kelas dengan sirkulasi udara dan cahaya yang seadanya.

20 June 2014

Talu Pagi

Lirik dari aksara yang dimulai dari kanan itu terdengar lagi
Entah..
Lambat laun, menyergap
Merasuki sendi yang tadinya tertutup

Aku mendengar suaranya dari sini
Dari ujung gang yang sempit
Ujung gang yang pasti kendaraanmu harus terparkir di depan


Suara kuyup itu belum mau juga untuk melesat
Membayangi telinga, merusak..

Kali ini lebih keras
Memanggil denyut yang perlahan menghilang
Menghujam nanar kala embun tak lagi mau menempel
 

Sudikah kau akhiri semua?

Jakarta, depan monitor, Juni sebelum puasa

16 June 2014

Sesosok Suara dari Timur Dekat

Buku Gambar Sketsa J. H. Dowd
Rokok di dalam kotak merah itu hanya tersisa tiga batang. Kata-kata yang kujanjikan untuknya belum lagi selesai kutuliskan. Entah mengapa, malam ini sungguh tak menginspirasi. Tak seperti kemarin, ketika malam menerbangkan balon udara berisi aksara yang rakus untuk keluar, bergerak pelan mengelilingi ruangan. Aku telah mati akal.

04 May 2014

Menjadi Udara


Lembar kertas masih itu tergeletak di dasar kamar. Surat yang dulu pernah dikirmkan kepadaku. Aku masih belum mau membukanya lagi. Aku ingat, saat dulu membukanya, aku tak berani untuk datang ke kamar ini, hingga hari ini kuberanikan diri. Kata-kata yang ada di dalamnya adalah diksi tebaik yang pernah ada di semesta: Kematian.

05 April 2014

Dari Teras Kita untuk Pemilih Muda

Kredit ilustari: Remotivi

Jurnalis dianggap sebagai nabi. Ia menyampaikan kebenarannya melalui media massa. Media massa adalah agama. Peran jurnalisme yang seperti itu, dahulu pernah dibahas dalam diskusi di Jakartabeat (Jurnalis Belum Mati: Tanggapan Untuk Esai Kompas Minggu Edy Effendi dan Jurnalis Belum Mati: Sebuah Kritik).

Di tengah partai politik yang sedang giat-giatnya berkampanye, kenetralan media massa, terutama televisi dan radio, kembali dipertanyakan. Kepada siapa media massa berpihak? Roy Thaniago mengungkapkan bahwa frekuensi, yang digunakan oleh televisi dan radio, itu milik publik. “Koran boleh partisan, koran bertanggung jawab pada hutan yang pohonnya harus menjadi kertas. Namun televisi dan radio menggunakan frekuensi yang dimiliki publik,” ucap Roy.