Pages

12 June 2012

Ilir-Ilir: Ilustrasi Tembang Dolanan Anak Jawa


Permainan anak-anak tradisional dari masa ke masa selalu berubah sejalan dengan perkembangan zamannya. Dahulu, republik ini sangat kaya akan permainan anak-anak. Setiap daerah memiliki ciri khas permainannya sendiri-sendiri. Namun, saat ini keberadaannya sudah sangat jarang ditemukan. Pengaruh modernisme telah membuat segala hal yang berbau tradisional terkesan kuno, sehingga masyarakat tidak memiliki minat lagi, dan akhirnya ditinggalkan oleh bangsanya sendiri. Sungguh sangat memprihatinkan, padalah itu merupakan warisan kebudayaan yang harus kita lestarikan.


Dalam rangka melestarikan permainan anak tradisional yang saat ini semakin terkikis, Bentara Budaya Yogyakarta mengadakan Pameran Ilustrasi Tembang Dolanan Anak Jawa di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat, 30 Mei – 3 Juni 2012. Acara itu memamerkan lukisan dan buku ilustrasi tembang dolanan karya seorang seniman dari Bentara Budaya Yogyakarta bernama Hermanu. Bentara Budaya Yogyakarta juga mengumpulkan data-data tentang permainan anak yang berupa ilustrasi dan teks tembang dolanan anak dari berbagai sumber, lalu lalu menyusunnya dalam sebuah buku sebagai kelengkapan pameran.

Ilir-ilir dipilih sebagai judul pameran, karena tembang ini sangat unik dibandingkan dengan tembang yang lain. Di antara sekian banyak tembang dolanan anak, ilir-ilir mudah dinyanyikan, sudah memasyarakat, namun juga mempunyai makna yang sangat dalam pada dunia spiritual. Selain itu, tembang ini juga dinyanyikan untuk permainan anak-anak yang berbau magis seperti Sintren, Nini Thowok, dan Lahis yang saat ini sudah langka, bahkan hampir tak ada yang memainkannya lagi.

Nilai budaya di sekitar kesosialan dan kebersamaan yang terdapat pada permainan tradisional nampaknya tidak ada dalam games yang dimainkan anak-anak sekarang. Permainan tradisional selalu terjadi dalam kebarsamaan. Anak-anak saling berinteraksi satu sama lain. Namun, games pada saat sekarang ini cenderung dapat dimainkan secara idividual. Hal itu tentu saja akan ikut membentuk kultu,r yang kemudian membuat manusia menjadi individualis bahkan terkesan egois dan sinis terhadap kesosialan serta kebersamaan.

Saat ini sulit bagi kita menghayati llagi diri kita sebagai homo ludens (makhluk bermain) yang khas bagi kebudayaan kita. Kita terlalu sibuk untuk menjadi homo economicus (manusia ekonomi) yang selalu mendewakan harta atau keuntungan semata. Mungkin di sinilah letak jawaban, mengapa di zaman global ini kita merasa kehilangan identitas kita sendiri. Pameran Ilustrasi Tembang Dolanan bukan sekedar noltalgia dengan masa lampau. Lebih dari itu, pameran ini mengajak kita untuk kembali melestarikan permainan yang khas kebudayaan kita.

Hilangnya Kebudayaan dalam Sistem Pendidikan

Mei merupakan bulan yang identik dengan pendidikan. Karena setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hari Pendidikan Ini diambil dari hari lahir Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau lebih akrab dengan nama Ki Hajar Dewantara pada tanggal 2 Mei 1889 yang merupakan pahlawan pendidikan Indonesia.

Dahulu, Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, bersusah payah untuk membangun sistem pendidikan Indonesia yang sesuai dengan budaya dan karakteristik bangsa. Maka, lahirlah Taman Siswa pada 3 Juli 1922 sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat. Ki Hajar Dewantara berharap dapat menciptakan generasi muda yang dapat bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsanya. Sampai pada saatnya, Bapak Pendidikan Nasional bersama Taman Siswanya berhasil mengantarkan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan.

Namun, keadaan saat ini telah berubah. Pedidikan bukan menjadi lagi sesuatu yang menolong bangsanya, tapi pendidikan digunakan untuk memperkaya diri sendiri tanpa memikirkan bangsanya. Jelas, sistem pendidikan saat ini sangat berbanding terbalik dengan ekspetasi para pendiri bangsa. Ini merupakan akibat dari pendidikan yang hanya menekankan pada sisi intelektual saja. Padahal, Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan, bahwa pendidikan yang hanya menekankan aspek intelektual akan menjauhkan para peserta didik oleh masyarakat. Dari sisi psikologis, pendidikan saat ini hanya mementingkan cipta yang mengakibatkan kekosongan pada rasa dan karsa. Pendidikan yang dipengaruhi oleh unsur-unsur cipta, rasa, dan karsa memang sangat penting. Karena jika cipta, rasa, dan karsa iru menjadi satu, maka ketika itu pula hati, pikiran, roh, tubuh, dan lingkungan akan menjadi satu keseimbangan dalam diri manusia.

Pedidikan dan budaya adalah syarat mutlak bagi sebuah bangsa untuk dapat bertahan dalam mengarungi samudra. Pendidikan dan budaya memiliki andil yang sangat besar dalam upaya menjadikan Negara Republik Kesatuan Indonesia benjadi sebuah bangsa yang utuh dan dipandang oleh dunia. Namun, secara perlahan tapi pasti bangsa ini mulai terbuai dengan kemerdekaan. Pendidikan berubah menjadi syarat untuk mencari makan, sedangkan budaya hanya tinggal kenangan yang diabadikan dalam gudang.

Merupakan hal yang wajar, jika sampai saat ini korupsi merajalela di bangsa ini dan nilai-nilai agama dirusak oleh kekerasan. Hilangnya unsur unsur budaya Indonesia dari dunia pendidikan sumber dari segala kebobrokkan yang dialami oleh bangsa ini. Pendidikan saat ini telah meningggalkan karakter bangsa yang sesungguhnya. Karakter bangsa yang ramah, telah berubah menjadi apatis. Bangsa yang terkenal dengan ke-bhineka-annya, sudah menjelma menjadi perusak atas nama perbedaan.

Pemerintah harus berupaya untuk mengembalikan karakter bangsa sesuai dengan kodratnya. Banngsa yang terkenal dengan keramahannya dan menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Untuk merubah kondisi bangsa yang sudah seperti ini memang bukanlah proses yang mudah. Namun, jika pelaksanaan pendidikan karakter tidak juga terlaksana, maka harus menunggu sampai kapan lagi untuk melihat bangsa ini merdeka seutuhnya?

Menantikan Lahirnya Partai Penyalur Aspirasi Rakyat

Demokrasi adalah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rayat. Demokrasi merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan bangsa. Namun pada kenyataannya, demokrasi telah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Filosofi demokrasi yang tadinya dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat telah berubah menjadi dari rakyat, oleh rakyat, untuk partai politik.

Masyarakat di saat-saat seperti sekarang ini seakan tidak dibutuhkan perannya oleh para elite politik. Oleh karena itu kepentingan rakyat sering terabaikan oleh para wakil rakyat di Senayan. Mereka lebih mengutamakan urusan partai politik yang telah membesarkan namanya dari pada membela rakyat yang menggajinya setiap bulan. Ini terbukti pada saat pembahasan UU Pemilu, para anggota dewan lebih mengutamakan kepentingan partainya masing-masing agar dapat keistimewaan khusus kepada partai-partai di parlemen dapat mengikuti pemilu 2014 tanpa harus melalui proses verifikasi terlebih dahulu. Sedangkan mengenai bentuk pemilu yang ideal tidak banyak yang dijelaskan kepada masyarakat.

Kepentingan rakyat telah disepelekan oleh orang yang mengaku dirinya “wakil rakyat”. Rakyat hanya diberi harapan, mungkin dengan sedikit sogokan, saat pemilu berlangsung untuk memberikan suaranya. Setelah pemilu usai, para elite politik seakan lupa oleh janji-janjinya pada saat kampanye. Mereka tidak lagi mengurusi rakyat, tetapi mengurusi bagaimana caranya agar partai politiknya masih dapat ikut pemilu pada masa selanjutnya.

Partai politik pada dasarnya adalah tempat untuk menyalurkan aspirasi politik rakyat. Namun, dalam perkembangannya, rakyat yang ingin menyuarakan aspirasi politiknya harus berhadapan dengan idealisme partai politik tersebut. Rakyat yang telah masuk dalam sebuah partai politik mau tidak mau harus mendahulukan kepentingan partai politiknya daripada kepentingan masyaraat luas. Dengan kata lain, orang baik yang sudah masuk ke dalam lingkaran partai politik, akan sangat sulit untuk tetap bertahan menjadi orang baik.

Masyarakat saat ini telah muak oleh sandiwara-sandiwara yang dilakukan oleh para elite politik. Jadi, jangan salahkan masyarakat bila pada pemilu 2014 nanti suara yang golput akan semakin banyak. Masyarakat lebih memilih menjadi golput daripada harus memilih dengan terpaksa para oportunis yang ada dalam partai politik. Masyarakat memimpikan lahirnya partai politik yang benar-benar dapat menyalurkan aspirasinya.

Lonceng Cinta di Sekolah Guru


Judul : Lonceng Cinta di Sekolah Guru
Penulis : khairul Jasmi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Terbit : Maret 2012
Ukuran : 353 halaman
Harga : Rp 58.000,-


Di tengah kesibukan dalam belajar untuk menjadi seorang guru, Nunus, seorang pemuda yang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Guru atau SPG tetap memiliki sisi-sisi manusiawi yang perlu dimengerti. Nunus memulai perjalanan cinta dan hidupnya dari Sekolah Pendidikan Guru tersebut. Hingga pada akhirnya, SPG tersebut telah ditutup lantaran jumlah guru yang melimpah dan syarat untuk menjadi guru diperlukan gelar sarjana.

Novel karya Khairul Jasmi yang berlatar belakang pada medio 1980-an ini mengangkat sisi lain dari para calon pendidik generasi penerus bangsa. Dalam novel ini diceritakan perjalanan seorang pemuda dalam mengejar cinta yang tumbuh di tempatnya menuntut ilmu di sekolah guru. Khairul Jasmi menampilkan sisi manusiawi dari seorang calon pendidik.

Dalam novel ini juga dijelasikan ketidakmerataan pembangunan di Sumatra Barat pada decade 1960-an. Ketidakmerataan ini menyebabkan anak-anak di Minang harus berusaha lebih giat dala, mencari ilmu. Perjuangan anak-anak Minang dalam menapaki zaman “generasi intelektual” yang gagal dicapai orang tua mereka juga tak luput dari pemikiran Khairul Jasmi.

Khairul Jasmi memberikan pesan secara tersirat dalam novel ini bahwa guru adalah manusia biasa yang memerlukan rasa cinta.

25 April 2012

Rakyat Lapar, Pendidikan Terlupakan

Kabar penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merupakan kegembiraan bagi rakyat Indonesia. Ada dua tipe masyarakat yang merasa diuntungkan.

Pertama, masyarakat miskin. Setidaknya mereka masih dapat bernafas untuk enam bulan ke depan. Kedua, masyarakat yang tidak tahu diri menggunakan BBM bersubsidi untuk mobil pribadinya yang mewah. Jika tidak ada tindakkan yang tegas dari penyelenggara negara, masyarakat tipe kedua akan tetap menjadi parasit bagi negara. Subsidi seperti ini kiranya tak akan mampu menyejahterakan rakyat Indonesia. Saat pendidikan dan kesehatan terabaikan, rasanya mustahil bagi sebuah bangsa untuk berkembang.

Pemberian subsidi pada BBM secara bebas hanya akan memanjakan kaum-kaum borjuis dengan kendaraan-kendaraan mewahnya. Laju penjualan kendaraan bermotor juga akan semakin meningkat, sementara pembangunan jalan tersendat.Akhirnya Jakarta sebagai pusat perekonomian di Indonesia akan lumpuh oleh kemacetan. Pada saat seperti ini memang sulit untuk mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi karena masyarakat selalu dimanjakan oleh pemerintah untuk menutupi kebobrokkan kinerjanya.

Masyarakat Indonesia seolah-olah dibentuk untuk memikirkan perutnya saja. Sekarang pendidikan hanya dianggap sebagai sebuah syarat untuk tetap bertahan hidup yang terbungkus dalam selembar ijazah. Ironis memang, tapi seperti itulah kenyataannya saat ini. Dengan demikian, saat BBM bersubsidi akan dinaikkan, rakyat akan marah, pun subsidi tersebut akan dialihkan ke sektor-sektor yang lebih berguna.

Masyarakat tidak lagi memikirkan bagaimana mereka harus sekolah, tapi mereka akan berpikir untuk bertahan hidup. Hal tersebut merupakan pembodohan kepada masyarakat. Rakyat dibuat tetap menjadi bodoh agar tidak mengurusi penguasa-penguasa yang korupsi. Tenggelamnya kasus Nazaruddin dan para petinggi Partai Demokrat pada saat isu kenaikan BBM bersubsidi merupakan contoh nyata bahwa masalah “perut” lebih penting dari masalah korupsi.

Pemerintah sepenuhnya bertanggung jawab atas keadaan sekarang.Ini adalah konsekuensi tetap membiarkan APBN tersedot oleh subsidi BBM. Jika keadaan tetap seperti ini, APBN tentu akan habis hanya untuk subsidi BBM.

Kesejahteraan rakyat tidak akan tercapai jika pendidikan dijadikan “anak tiri” oleh para penguasa. Pemerintah harus bersikap berani untuk mengambil keputusan, tentu keputusan yang cerdas, yang tidak membodohi masyarakat.

BAYU ADJI P Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta
Suara Mahasiswa Harian Seputar Indonesia
Thursday, 12 April 2012