| Atraksi Steve Aoki di panggung Garuda Land, DWP 2017. |
Blog pribadi yang berisi ide-ide subyektif di sana-sini, tergantung jari yang terus menari. Boleh komentar, namun biasakan baca sampai selesai. Boleh diambil, asal kuat iman. Ini bukan dalil, tak perlu dianggap serius. Kalau terlanjur serius, apa boleh buat.
24 December 2017
Semalam Suntuk Berdansa di Panggung DWP
20 April 2016
Perwakilan Penambak Udang Datangi Komnas HAM
Perwakilan penambak udang Desa Bratasena Mandiri dan Adiwarna, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, mendatangi kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Senin (18/4). Para penambak ini mengaku telah diperlakukan tidak adil dalam kemitraan bersama PT Central Pertiwi Bahari (CPB).
22 July 2015
Tanah
Aku adalah angin.
Menyusup lewat dahan kecil,
bersapa dengan daun tua
juga yang muda.
Aku adalah abu.
Yang keluar sejak matahari
belum tiba hingga puncak.
Menari di sela mata.
Aku adalah kabut.
Sebentar terlihat mata,
untuk kemudian menyatu
bersama udara.
Aku adalah pohon.
Menjulang tinggi dan rapuh.
Enggan bersahabat angin.
Menyendiri sampai ke ujung.
Aku adalah rimba.
Rimba yang penuh harimau,
harimau yang siap diburu
sekaligus memburu.
Tapi siapa engkau?
Menyusup melalui maya,
mematahkan segala
aku yang telah tiada.
Kini,
aku bukan angin,
bukan abu,
bukan kabut,
bukan pohon,
bukan rimba.
Aku telah tiada.
Aku menjelma tanah.
Menyusup lewat dahan kecil,
bersapa dengan daun tua
juga yang muda.
Aku adalah abu.
Yang keluar sejak matahari
belum tiba hingga puncak.
Menari di sela mata.
Aku adalah kabut.
Sebentar terlihat mata,
untuk kemudian menyatu
bersama udara.
Aku adalah pohon.
Menjulang tinggi dan rapuh.
Enggan bersahabat angin.
Menyendiri sampai ke ujung.
Aku adalah rimba.
Rimba yang penuh harimau,
harimau yang siap diburu
sekaligus memburu.
Tapi siapa engkau?
Menyusup melalui maya,
mematahkan segala
aku yang telah tiada.
Kini,
aku bukan angin,
bukan abu,
bukan kabut,
bukan pohon,
bukan rimba.
Aku telah tiada.
Aku menjelma tanah.
Sebelum Malang.
13 July 2015
Kopi
Saya menganggap kopi hanya sebagai teman bicara. Sungguh hanya teman bicara. Kalaupun diganti dengan susu atau teh, tak ada masalah.
Bagi saya kopi memang tak ada yang istimewa. Belum ada, lebih tepatnya. Sampai saat, semalam saya berkunjung ke sebuah kedai kopi kecil milik kenalan saya, Mirza Jaka Suryana.
Rahasia Kecil dalam Sepucuk Surat yang Lusuh
![]() |
| Ilustrasi: Istimewa |
Subscribe to:
Posts (Atom)


