Pages

23 April 2012

Ngawur Karena Benar

Judul       :               Ngawur Karena Benar
Penulis    :               Sujiwo Tejo
Penerbit  :               Imania, Depok, Jawa Barat
Terbit      :               Maret 2012
Ukuran    :               248 halaman

Kata “berani karena benar” sudah tidak lagi spesial, sekarang istilah “ngawur karena benar” sepertinya lebih tepat untuk memberantas kepalsuan di balik kesopanan. “Ngawur karena benar” adalah jurus terakhir yang digunakan ketika kesopanan dan tata krama itu hanya untuk menutupi kepalsuan.

Dalam buku ini Sujiwo Tejo merumuskan cara untuk memberantas virus kemunafikkan yang sedang merajalela di Indonesia. Virus kemunafikkan ini bisa diberantas dengan cara yang urakan. Tapi, urakan itu berbeda dengan kurang ajar. Urakan adalah melanggar aturan termasuk aturanberpikir demi mengikuti hati nurani. Sedangkan kurang ajar itu melanggar aturan hanya untuk melanggar.

Buku ini akan menuntun kita untuk menemukan cinta sejati. Dimana kita menemukan cinta yang benar-benar cinta tanpa alasan, karena jika alasan itu muncul di dalam cinta, maka cinta itu berubah menjadi kalkulasi.
Buku yang berisi 37 naskah/artikel karya Sujiwo Tejo yang telah dimuat di berbagai media massa ini diharapkan bisa mengubah perilaku manusia yang menjaga norma kesopanan demi kepalsuan dan bisa memberikan pelajaran agar bangsa ini tidak menjadi bangsa yang munafik. Tapi, jika salah diartikan, maka manusia-manusia kurang ajar akan semakin merajalela.

Sujiwo Tejo sendiri berharap buku ini bisa dibaca oleh ibu Negara Ani Yudhoyono dan oleh pengguna jalan raya.

Satu Porno Semua Parno

Nama saya Sujarwo Wijiatmoyo asal dari Purwokerto, tapi bisa dipanggil Mbah Jarwo. Saya biasanya dimintai petuah atau wejangan oleh masyarakat agar sukses, padahal hidup saya sendiri ndak sukses. Hehehe..dasar wong ndeso! Kalau mau sukses ya usaha!

Sabtu kemarin, saya pergi ke Jakarta dalam rangka memenuhi panggilan untuk menjadi hakim dalam sidang kasus korupsi Angie. “wah, lumayan bisa mejeng muka di TV..” dalam pikiran saya. Sampai di Jakarta, kawan kawan aktivis justru sedang heboh mendiskusikan satgas anti pornografi atau apapun lah itu namanya. Saya pun bingung, memang benar-benar bingung mau bicara apa. “Apa saya salah denger waktu dipanggil ke Jakarta? Perasaan, suruh ngurusi kasus Angie, ini kok malah pornografi?” hati kecil saya berbisik. Tapi, kemudian saya larut dalam diskusi yang cukup panas itu. Porno itu kan subjektif, terus bagaimana cara memberantasnya? Wong yang jelas-jelas objektif seperti korupsi saja ndak pernah tuntas.

Saya jadi teringat pada suatu ketika, di Jakarta pernah ada juga (mungkin sampai sekarang masih berlaku) aturan untuk tidak merokok di tempat umum. Kalau ada yang melanggar peraturan ini akan disidang di tempat. Algojonya itu Satpol PP. Toh, nyatanya sang algojo yang mulia malah ikutan ngerokok. Payah.

Kembali lagi ke kasus satgas pornografi. Kasus? Lah memangnya mereka salah apa? Oh, saya keliru, maksud saya kembali lagi ke calon kasus satgas anti pornografi. Saya yakin kalau sebenarnya orang-orang yang membuat rencana ini bermaksud baik, untuk melindungi kita semua dari tindakan pelecehan seksual atau bahasa kerennya digerepe-gerepe. Namun, karena rakyat Indonesia ini sudah pintar semua, maka salah memaknai sedikit, masalah bisa jadi rumit. Teman saya, Sal, menilai kalau aturan ini melanggar hak asasi manusia untuk memamerkan pahanya.

Suatu hari, ada teman cucu saya yang cantik,Tantekul, pergi ke kampus dengan memakai rok mini. Saat pulang kuliah, di dalam angdes (angkutan desa), pepek dan teteknya diremes-remes sama si Suman, supir angdes yang sudah seharian belum dapat setoran. Kalau sudah digerepe-gerepe, baru Tantekul melapor ke petugas kalau paha ini hanya untuk dilihat tidak untuk disentuh. Tantekul bilang “dasar pikiran kotor! Baru liat paha aja langsung nepsong..”  Suman berkilah “maaf tadi saya khilaf”. Yah, bagaimana orang yang seharian belum dapat setoran pikirannya ndak khilaf? Logikanya, orang yang laper akan susah berpikir benar, kelakuannya ngawur cenderung kurang ajar, ..wong laper kok suruh membela kebenaran! Jadi yang salah yang membuka pameran paha atau yang punya pikiran kotor?

Saya jadi merasa ngeri sendiri kalau nanti saya bertemu cucu saya di tempat umum, saya peluk dia, akan ditangkap karena dianggap adegan porno. Lebih kasihan lagi, orang-orang yang kamar mandinya terpisah dari rumahnya, sehabis mandi jalan ke rumah pakai handuk doang, malahan ditangkap karena dianggap menggoda si Iman.

Wah, saya lupa harus ngurusi mbak Angie di ruang sidang... (MJ)

19 December 2011

Mengembalikan Kejayaan Indonesia

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Mulai dari kekayaan alam yang berlimpah hingga beragam budaya ada di bumi pertiwi kita ini. Pada lirik lagu kolam susu yang dipopulerkan oleh Koes Plus, digambarkan betapa kayanya tanah air kita ini, “bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala untuk menghidupimu”. Lagu tersebut secara jujur menceritakan keindahan alam Indonesia dan betapa mudahnya untuk mencari makan. Memang itulah gambaran tentang Indonesia pada tahun 1970-an. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Alih-alih dapat hidup serba cukup, namun yang kita lihat masih banyak rakyat yang harus hidup dengan mengandalkan belas kasihan orang lain.

Ini merupakan bukti nyata bahwa ketersediaan sumber daya alam yang melimpah di suatu negara tidak menjamin negara tersebut menjadi maju. Kita seharusnya belajar kepada Jepang yang wilayahnya sangat tebatas tetapi dapan menjadi negara yang maju di bidang teknologi dan informasi. Begitu pula dengan Swiss yang tidak memiliki perkebunan coklat tetapi dikenal sebagai negara penghasil coklat terbaik di dunia. Negara-negara dengan sumber daya alam yang terbatas justru menjadi negara-negara yang maju dengan sumber daya manusia yang maju pula. Lalu terbesit pertanyaan yang menggoda, sebenarnya apa yang salah dengan Indonesia ini?

Rakyat kita memang masih terus terbuai oleh kejayaan Indonesia masa lalu, Indonesia yang kaya, yang suatu saat akan kembali sendirinya. Namun, nyatanya kekayaan itu telah hilang terkikis oleh rezim orde baru dan para penerusnya sampai saat ini. Korupsi yang sudah menjadi tradisi (mungkin sudah dianggap wajar), birokrasi yang semakin bobrok hingga para PNS muda dengan mudah mencari celah untuk korupsi, yang lebih parah adalah sikap apatis rakyat yang membuat Indonesia semakin menjauh dari kejayaan masa lalu.

Mengembalikan Indonesia seperti pada kejayaan masa lalu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bukan berarti tidak bisa dikembalikan lagi. Untuk memajukan suatu negara tentu harus didukung oleh sumber daya manusia yang bermutu, baik dalam pengetahuan maupun moral. Saya rasa pengetahuan masyarakat Indonesia tidak perlu diragukan, namun yang perlu diperbaiki adalah masalah moral dan kemauan untuk berubah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bermoral. Kemauan untuk maju harus dimulai dari dalam diri sendiri. Dosen saya pernah berkata, “untuk menghentikan korupsi hanya ada satu jalan, yaitu berjanji pada diri sendiri untuk tidak korupsi”. Jika anda tetap apatis, maka tidak akan ada yang berubah dengan Indonesia kita ini.

04 December 2011

Dimana Moral Wakil Rakyat?

“wakil rakyat seharusnya merakyat…” begitulah Iwan Fals menyanyikan lagunya menyindir para wakil rakyat di gedung DPR. Tapi nyatanya tetap saja mereka tetap hidup gelamor di atas penderitaan rakyat. Ini bukan malah hak dan kewajiban, namun lebih kepada pantas atau tidaknya seorang wakil rakyat hidup gelamor sedangkan rakyat Indonesia sendiri masih melarat.

Sebagai contoh kasus, baru-baru ini ada seorang wakil rakyat yang dengan bangganya membawa mobil seharga miliaran rupiah melewati jalan-jalan ibu kota Jakarta. Ketika ditegur, ia mengelak bahwa mobilnya bukan hasil korupsi. Rasanya hati ini seperti diinjak-injak oleh beliau, yang mengaku dirinya adalah wakil rakyat. Wakil rakyat yang seharusnya menjadi sahabat dan panutan bagi rakyatnya, justru melakukan perbuatan bodoh seakan diibaratkan meludahi rakyatnya sendiri. Yang lebih parah, bukannya minta maaf kepada rakyat dan mengakui kesalahannya, justru masih membela diri dengan alasan-alasan yang konyol. Ya, begitulah kebiasaan-kebiasaan para wakil rakyat kita.

Memang yang terpenting bukanlah gaya hidup para wakil rakyat melainkan adalah kinerja mereka. Tapi saat kinerjanya tidak ada yang dapat dibanggakan, apakah masih pantas hidup dengan kemewahan sedangkan rakyat berebutan mencari tempat duduk di atas kereta api setiap pagi, setiap hari? Ini kembali kepada moral para wakil rakyat kita. Tugas saya sebagai mahasiswa dan sebagai rakyat biasa hanyalah mengontrol kelakuan para wakil rakyat dan para elite politik lainya, dan tentu saja terus berusaha membuat bangsa ini semakin maju. Semoga saja!

30 October 2011

Menjaga Kelestarian Alam?

Seminggu terakhir ini saya mendapat banyak pesan singkat di hp agar kita mendukung Taman Nasional Komodo menjadi New 7 Wonders. Di dalamnya bertuliskan peritah agar saya ikut voting Taman Nasional Komodo menjadi New 7 Wonders dan mem-forward pesan itu ke yang lain. Entah kenapa, saya malas untuk mem-forward pesan dari teman saya (bukan berarti gak punya pulsa). Lucunya di akhir kalimat dari pesan singkat itu bertuliskan "AYO TERUS DUKUNG KELESTARIAN NEGARA INDONESIA!".

Cuih..seakan saya ingin meludahi muka manusia pertama yang membuat pesan singkat tersebut. Coba pikirkan! Apakah mungkin kelestarian alam Taman Nasional Komodo yang memang ajaib dapat terjaga kalau nantinya ketenangan komodo yang hidup alami terganggu oleh ribuan turis yang datang? Tentu saja komodo-komodo tersebut akan merasa risih dan pasti lambat laun akan punah. Lagi pula, tanpa harus melalui voting yang tidak jelas asal-usulnya, Taman Nasional Komodo memang sudah ajaib.

Sebenarnya yang kita inginkan hanyalah gengsi di mata dunia, agar dunia melihat negara ini adalah negara yang ajaib. Yah, memang ajaib! Dengan sumber daya alam yang berlimpah tapi tetap menjadi negara miskin. Entah kemana larinya, mungkin hanya mengisi kantung-kantung buncit para penguasa.