Pages

27 August 2011

Catatan Kosong Kehidupan

Hhmm...membahas tentang makna dari hidup ini memang tidak akan ada habisnya, kecuali kematian datang untuk menghabisi nyawa kita. Kehidupan itu sangat misterius, kita bahkan tidak tahu dari mana asal kehidupan ini. Baik, memang saya terima bahwa kehidupan ini berasal dari Tuhan yang maha kuasa. Tapi, apakah ada di antara kalian yang dapat menjelaskan dari mana Tuhan berasal?

Pilih Mal Atau Kaki Lima?

Ada seorang, yah boleh dibilang seniman, yang berkata bahwa kota seperti Bogor belum pantas untuk memiliki mal sebesar itu (mungkin yang dimaksud adalah Botani Square atas insiden seorang wanita jatuh). Menurutnya, mal-mal tidak pantas merusak skala kota dan mematikan usaha pedagang lokal yang kecil. Mal-mal itu merupakan solusi mudah untuk memberikan citra walikota kepada warganya bahwa kota tersebut sudah maju, menurutnya. Dia mendambakan adanya deretan toko-toko menarik dan beragam yang orang-orang dapat berbelanja dalam udara terbuka. Bukankah sangat indah?

24 August 2011

UNTUK APA KITA BEKERJA?

Saya, Kakak, dan tentunya Ayah saya adalah seorang pekerja. Saya tak tahu, mengapa saya sekarang bekerja. Padahal, tidak ada yang memaksa saya untuk bekerja. saya terus berpikir, sepertinya pikiran ini sudah sampai pada batas ketidak-mampuan untuk menjelajah akal sehat ini.

Download: Aku Beriman Maka Aku Bertanya

klik untuk mengunduh!

Jalanku Tersendat Di Persimpangan Pengajian


Apa yang terlintas dalam benak kalian ketika kita akan membicarakan tentang agama? Sakral, suci, tenang, dan kedamaian. Namun, kedamaian itu saat ini sedang terusik oleh orang-orang yang mengatas namakan agama untuk melakukan kriminal. Terkadang saya suka kesal pada tindakkan rombongan manusia-manusia yang mengaku sebagai jemaah Rasulullah SAW dengan seenaknya menutup jalan yang sudah seharusnya dipergunakan untuk umum. Mereka seakan tidak peduli dengan orang-orang yang taat membayar pajak untuk melewati jalanan tersebut.

Yang membuat saya lebih prihatin adalah aparat kepolisian dengan mudahnya memberikan izin kepada mereka. Mengapa pak polisi yang terdidik itu sampai tunduk oleh manusia-manusia yang menganggap dirinya suci? Apa memang karena takut masuk neraka, takut mati dikeroyok massa atau malah pak polisi ini memiliki kepentingan lain dengan jemaah ini? Ini menjadi tanda tanya yang amat besar. Coba kita lihat kaum minoritas di negeri ini, untuk membangun rumah ibadah saja izinya berbelit-belit, sedangkan untuk mereka yang ingin menutup jalan yang jelas-jelas mengganggu kenyamanan sekitar dapat izin seperti hanya tinggal membalikkan telapak tangan.

Apa masih pantas Indonesia ini disebut Negara yang memegang prinsip “Bhineka Tunggal Ika”. Mereka yang “minoritas” selalu hidup dalam ketakutan dalam beribadah, dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Agama yang seharusnya membawa kedamaian bagi para pemeluknya dan orang-orang di sekitarnya, saat ini malah menjadi senjata mematikan untuk menikam lawan-lawannya yang berseberangan pendapat. Dalam hal ini, agama sama sekali tidak salah. Yang pantas disalahkan saat ini adalah mereka yang hanya diam tidak bertindak dan terus menerus mengeluh pada keadaan menunggu keajaiban datang sehingga lalu lintas kembali lancar.

Pasti ada api kalau ada asap. Saya terkadang berpikir, untuk apa mereka melakukan semua itu. Sering saya lihat, banyak dari rombongan jemaah yang masih berusia muda belia. Mungkin mereka hanya ikut-ikutan agar tidak diasingkan oleh lingkungan sekitarnya. Atau mungkin ada pihak-pihak yang memanfaatkan dari keanggotaannya sebagai jemaah untuk bertindak semaunya. Siapa yang harus kita takuti kalau memegang lisensi sebagai jemaah? Polisi pun tidak akan bertindak jika menemukan jemaah tidak menggunakan helm saat berkendara. Berbeda dengan teman saya yang ditilang, lalu disidang sampai mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah karena berkendara tidak memakai helm dan tidak membawa STNK. Jadi jika kalian tidak pernah masuk sebagai anggota jemaah, maka kalian tidak akan mengetahui keuntungan apa yang didapat sebagai jemaah.