![]() |
| Noel dan Liam. (Foto: Istimewa) |
Blog pribadi yang berisi ide-ide subyektif di sana-sini, tergantung jari yang terus menari. Boleh komentar, namun biasakan baca sampai selesai. Boleh diambil, asal kuat iman. Ini bukan dalil, tak perlu dianggap serius. Kalau terlanjur serius, apa boleh buat.
15 January 2018
Konser Liam, Transfer Playmaker, dan Kekalahan City
07 January 2018
Menikmati Seni dan Ucapan Terima Kasih Setelah Kencing
Hari terakhir di 2017. Rengekan Siti Annisa dari sebulan sebelumnya berhasil membuat saya tak sempat meletakan badan di tempat tidur nyaman, di lantai dua kamar berantakan yang ada gambar Che Guevara-nya. Dari sebulan lalu, dia terus mengajak untuk ke Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN). Saya terpaksa tak tidur, menemaninya, menjadi orang paling artsy di muka bumi dengan berfoto di “Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls” milik Yayoi Kusama.
24 December 2017
Semalam Suntuk Berdansa di Panggung DWP
| Atraksi Steve Aoki di panggung Garuda Land, DWP 2017. |
20 April 2016
Perwakilan Penambak Udang Datangi Komnas HAM
Perwakilan penambak udang Desa Bratasena Mandiri dan Adiwarna, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, mendatangi kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Senin (18/4). Para penambak ini mengaku telah diperlakukan tidak adil dalam kemitraan bersama PT Central Pertiwi Bahari (CPB).
22 July 2015
Tanah
Aku adalah angin.
Menyusup lewat dahan kecil,
bersapa dengan daun tua
juga yang muda.
Aku adalah abu.
Yang keluar sejak matahari
belum tiba hingga puncak.
Menari di sela mata.
Aku adalah kabut.
Sebentar terlihat mata,
untuk kemudian menyatu
bersama udara.
Aku adalah pohon.
Menjulang tinggi dan rapuh.
Enggan bersahabat angin.
Menyendiri sampai ke ujung.
Aku adalah rimba.
Rimba yang penuh harimau,
harimau yang siap diburu
sekaligus memburu.
Tapi siapa engkau?
Menyusup melalui maya,
mematahkan segala
aku yang telah tiada.
Kini,
aku bukan angin,
bukan abu,
bukan kabut,
bukan pohon,
bukan rimba.
Aku telah tiada.
Aku menjelma tanah.
Menyusup lewat dahan kecil,
bersapa dengan daun tua
juga yang muda.
Aku adalah abu.
Yang keluar sejak matahari
belum tiba hingga puncak.
Menari di sela mata.
Aku adalah kabut.
Sebentar terlihat mata,
untuk kemudian menyatu
bersama udara.
Aku adalah pohon.
Menjulang tinggi dan rapuh.
Enggan bersahabat angin.
Menyendiri sampai ke ujung.
Aku adalah rimba.
Rimba yang penuh harimau,
harimau yang siap diburu
sekaligus memburu.
Tapi siapa engkau?
Menyusup melalui maya,
mematahkan segala
aku yang telah tiada.
Kini,
aku bukan angin,
bukan abu,
bukan kabut,
bukan pohon,
bukan rimba.
Aku telah tiada.
Aku menjelma tanah.
Sebelum Malang.
Subscribe to:
Posts (Atom)


