JAMES DOUGLAS MORRISON dan Alain Ronay duduk di kafe kecil nan sumpek di pusat fashion dunia, Paris. Hari itu adalah 2 Juli 1971. Mereka sama-sama gelisah. Morrison gelisah perkara nasibnya yang berubah cepat selama empat tahun belakangan. Ronay gelisah, mengingat pacarnya pasti memasang muka dengan bibir mengerut ke depan saat nanti ia sampai ke tempat janjiannya.
Ronay belum bisa pergi. Morrison, temannya, masih belum stabil untuk ditinggalkan. Ia seperti anak kucing yang tak mau ditinngal ibunya. Merayu untuk ditemani seharian. Ronay pasrah. Biarlah nanti pacarnya marah dengan cemberut, pikirnya. Toh wajah pacarnya saat cemberut lebih menggemaskan daripada saat libidonya berada di puncak.

