Pages

02 August 2014

Laksmi Tak Pernah Pulang

Ilustrasi: lentera-pembebasan
Ramai-ramai warga desa mendatangi rumah di dekat portal masuk gang Kenari. Mereka membawa segala barang yang bisa digunakan untuk menghancurkan. Cangkul, pedang, parang, balok kayu, dan segala macam kerabatnya ada di tangan mereka. Amarah sudah mencapai puncaknya. Tak tertahan.

01 August 2014

Secangkir Kopi Pahit untuk Ayah

Kredit ilustrasi: di potonya udah ada.
Pagi ini Zia tak seperti biasa. Tak ada koran di pangkuannya, tak ada telepon genggam, tak ada senyuman. Matanya hanya menatap lurus ke ujung jalan yang ramai, di mana orang-orang menghabiskan pagi di akhir pekan.

Sudah tiga cangkir kopi pahit ia habiskan. Ini cangkir keempat pagi itu. Sementara pikirannya masih berkelana entah ke mana.

25 July 2014

Aku, Kamu, Pram dan Mario

copyright by bowo bagus*
“Aku suka ucapannya,” katanya pagi itu.

“Mengapa kamu masih saja mendengarnya sih? Berapa banyak orang-orang sabar yang akhirnya tak bisa merdeka? Manusia adalah makhluk berbudaya. Ia berdialektika, menggabungkan antara tesis dengan antitesis sehingga menjadi sintesis. Begitu seterusnya. Hal itu tidak mengalir begitu saja. Tesis adalah kebiasaan. Antitesis lahir dari perlawanan. Kita tak bisa selallu mendengar. Harus melawan agar sintesis baru lekas ditemukan,” bantahku kepadanya.

Ia diam dalam waktu yang lama. Cukup lama hingga tak ada kabar berita, sampai aku merasa menang dalam satu pernyataan sekaligus pertanyaan. Memenangkan sebuah pertarungan psikologis antara aku dan dia.

17 July 2014

Romantisme Mario Teguh dan Kepahitan Itu

Ilustrasi cover roman Bumi Manusia

Ah, mengapa engkau masih juga mengutip Mario Teguh, sayangku? Aku tahu kau sedang butuh pegangan hidup. Namun, ah, mengapa harus Mario Teguh, sayang?

Sudikah kau mendengarku bercerita tentang Minke. Tahu kau Minke? Aku ragu kau mengenalnya. Minke hidup dalam khayalan Pram. Apa? Kau juga tak kenal Pram? Pramoedya Ananta Toer?

Mungkin agak panjang untuk diceritakan. Tapi untukmu, apapun akan kulakukan, sayangku.

25 June 2014

Matilah Segala yang Kau Ketahui!

Dok. Teater Kinasih (Rohro)
“Aku ingin bicara,” ucap Gerbong 4.

“Jangan!’” tahan Gerbong 1.

“Aku tetap inging bicara.”

“JANGAN!!” Gerbong 1 marah sambil membungkam mulutnya sendiri, sementara Gerbong 2 menutup matanya dan Gebong 3 menutup kupingnya.

Keempat tokoh itu saling beragumen antara ingin melanjutkan perkataannya atau tidak. Sampai akhirnya mereka berempat berbicara dengan suara yang tidak jelas, lalu semuanya tertawa dan perlahan keadaan mulai hening.